Warna dan Makna Tari Topeng Losari di Europalia 2017

13 December 2017
Warna dan Makna Tari Topeng Losari di Europalia 2017


Pada 14 November 2017, Nani Tari Topeng Losari tampil di Chalons en Champagne, Prancis. Selain di sana, kelompok seni tradisi asal Cirebon itu pun tampil di kota-kota Belgia, seperti di Brugge pada 16 November 2017, Antwerpen pada 18 November 2017, Liege pada 21 November 2017, dan Brussels pada 24 November 2017.

Tentu saja, pertunjukan Nani Topeng Losari sangat menarik dan mendapatkan apresiasi dari pengunjung acara Europalia 2017.

Kami pentas tunggal (tidak kolaborasi dengan seniman lain). Meraka (pengunjung) sangat antusias, karena mereka sangat menyukai tari tradisional,  kata manajer Nani Tari Topeng Losari, Hadi.

Sebagai catatan, Tari Topeng Losari memiliki sejarah yang panjang. Tari ini diciptakan 400 tahun lalu oleh Panembahan Losari (Pangeran Angka Wijaya). Mulanya, tari topeng Losari digunakan untuk menyebar agama Islam. Lalu, diwariskan turun-temurun.

Agak berbeda dengan tari topeng lainnya yang berasal dari Cirebon, penyajian tari topeng Losari mengutamakan penokohan dari cerita Panji. Sedangkan tari topeng lainnya mengedepankan watak perkembangan sifat manusia yang mengarah ke nilai filosofis.

Selain itu, tari topeng Losari berbeda jika dilihat dari latar belakang, koreografi, tata busana (memakai kain motif parang rusak, sedang di Cirebon umumnya mega mendung), wanda kedok, musik (gamelannya laras pelog, sedangkan di Cirebon umumnya memakai laras slendro), dan penyajiannya.

Ada tiga gerakan yang khas, yakni gerak galeyong, pasang naga seser (kuda-kuda menyampung lebar) menyerupai sikap Kathakali di India, dan gantung kaki yang mirip dengan kaki patung Dewa Siwa sebagai Nataraja dari India, yang mengharuskan sang penari memperlihatkan telapak kakiknya ke samping.

Saat ini, yang menarikan adalah Nur Anani M Irman, atau yang lebih dikenal dengan nama Nani Topeng Losari. Ia merupakan generasi ketujuh trah langsung penari topeng Losari, atau disebut juga dalang topeng Losari.

Nani Topeng Losari adalah cucu maestro Dewi Sawitri, seorang dalang topeng asal Losari yang merupakan generasi keenam dari trah topeng Losari.

Tari Topeng Losari sangat digemari dan jadi kebanggan masyarakat Losari, karena tari topeng Losari lewat Nani sudah mendunia. Lebih dari 30 negara sudah dikunjungi untuk memperkenalkan tari topeng Losari,  ujar Hadi.

Pementasan Nani sebagai dalang topeng Losari kerap mengundang decak kagum. Ia selalu menari dengan mata tertutup, dan tak pernah mempedulikan jumlah penontonnya. Sebab, bagi penari topeng Losari, menari lebih kepada berdoa untuk Tuhan, tubuh, dan bumi.

Di dalam pakem tari topeng Losari, kotak topeng dan nayaga dijadikan sebagai pusat energi, karena dalang topeng Losari dari generasi ke generasi percaya bahwa di antara gamelan ada sembilan wali.

Dalang-dalang topeng di Cirebon percaya, tari topeng berasal dari wali, salah satunya Sunan Kalijaga.  Kemudian, di dalam topeng Losari disempurnakan oleh Raden Angka Wijaya atau Pangeran Losari.

Maka dari itu, penari topeng Losari seringkali menghadap ke arah kotak topeng dan nayaga saat menari. Di dalam penyajiannya, di sela tarian selalu ada selingan bobodoran lakon (lawak) yang melibatkan beberapa nayaga. Hal ini berlaku dari generasi ke generasi, dan pakem tersebut tak boleh dihilangkan. Di samping sebagai tontonan, tari topeng Losari juga sebuah tari untuk ruwatan.

Bagaimana Nani Tari Topeng Losari bisa tampil di Europalia 2017?

Pada 2016, Nani Tari Topeng Losari diundang oleh pihak Europalia Indonesia untuk mengikuti show case di Yogyakarta.  Dan, kami dipilih untuk menjadi salah satu perwakilan pemerintah Indonesia di Festival Europalia 2017,  kata Hadi.

Di Europalia 2017, mereka mengirimkan 14 orang anggota, yakni 10 orang nayaga (pengrawit), tiga orang penari, dan seorang manajer. Di dalam pementasannya, mereka menggelar tarian bertajuk  Telung Wanda.  Telung sendiri berarti tiga.

Karena kami membawakan tiga tarian topeng Losari yang berbeda,  ujar Hadi.

Tiga tarian tersebut, yaitu tari panji sutrawinangun, tari patih jayabadra, dan tari klana bandopati.

Tari panji sutrawinangun (tari pamindo) menggambarkan tentang tokoh  Raden Panji yang mempunyai karakter lembut, lungguh, dan karismatik.  Di dalam tari topeng Losari, Panji  menggambarkan sifat manusia yang baru dilahirkan. Terkandung makna kejujuran, kepolosan, apa adanya, dan kemurnian jiwa manusia yang baru menginjak bumi.

Hal ini digambarkan oleh warna kedok putih kekuningan. Makna baru dilahirkan di sini melukiskan sebuah filosofi tentang kesucian dan keagungan. Karakter tarian ini lanyap (sedikit gagah) yang didahului oleh bagian dodoan (irama yang lambat) yang halus dan hampir tidak melangkah, kedoknya berparas seorang putri cantik.

Tari patih jayadabra memiliki karakter setengah ponggawa (gagah dan agak kasar). Kedok yang dipakai adalah kedok patih yang berwarna merah jingga. Tokoh wayangnya adalah Patih Jayabadra dalam cerita Jaka Penjaring dan Jaka Buntek 

Sementara itu, tari klana bandopati merupakan tarian yang berkarakter kuat, gagah, dan kasar. Oleh karenanya, harus membutuhkan stamina yang baik. Jenis tariannya sangat dinamis, lebih menitik beratkan pada penguasaan intensitas tenaga, dan teknik gerak serta penjiwaan karakter. Tokoh wayanganya adalah Prabu Klanabandopati dari cerita Jaka Buntek. Kedoknya berwarna merah tua berparas raksasa buas. Di topeng Losari, tari klana lebih menggambarkan tokoh seorang raja bernama Klanabandopati, melukiskan sifat manusia penuh angkara murka dan sombong. Maknanya menggambarkan sifat manusia tidak baik dengan pesan moral agar jangan ditiru.

Tentu saja, Nani Tari Topeng Losari akan semakin memberikan warna tradisi di Europalia 2017 ini. Pengunjung akan disuguhi tontonan, yang bukan saja memikat hati, namun sarat dengan pesan moral.