WRDHI CWARAM, NEW MUSIC FOR GAMELAN

11 December 2017
WRDHI CWARAM, NEW MUSIC FOR GAMELAN


Oleh Warih Wisatsana

Tidak sebagaimana sekaa atau grup umumnya yang didirikan di banjar atau lingkup wilayah tertentu, Wrdhi Cwaram justru anggotanya berasal dari berbagai daerah di Bali. Sejak kelahirannya pada Juni 1998 di Padangsambian-Denpasar, menurut inisiatornya I Ketut Widianta, sekaa gamelan ini memang bersifat terbuka. Anggotanya tidak hanya dari sekolah tinggi seni, melainkan beragam latar pendidikan, semisal arsitek, pertanian, antropologi, sastra Inggris, juga kedokteran, bahkan dari pengangguran atau putus sekolah. “Kami sepakat bergabung karena didorong kecintaan pada musik, terutama gamelan Bali,” ujar Ketut Widianta yang dikenal sebagai pembina gamelan mumpuni.

Nama Wrdhi Cwaram sendiri menyuratkan amanat dan pengharapan kiranya akan menghantar suara-suara kebersamaan ke arah yang lebih cemerlang di masa mendatang. Namun, seperti juga komunitas atau sekaa lainnya, sedini keberadaanya terbukti mengalami aneka dinamika, pasang surut anggotanya yang datang dan pergi dengan berbagai alasan.

Semula, anggotanya kebanyakan datang dari kalangan seniman berlatar tamatan pendidikan sekolah tinggi seni serta sebagian besar merupakan pembina gamelan. Mereka lebih sering menampilkan ragam gamelan tradisi serta mempresentasikan bentuk-bentuk kreasi baru yang lebih mengedepankan instrumentalia bercorak ornamentik sebagaimana umumnya sekaa gamelan di Bali. Akan tetapi, seiring pertemuan berkala dengan komposer I Wayan Gde Yudane, yang makin intens pada tahun 2009, timbulah “gejolak” secara internal. Ini wajar terjadi, terlebih lagi Yudane menawarkan paradigma baru seni gamelan atau sebentuk new music for gamelan.

“Bagi saya pribadi, pertemuan dengan Wrdhi Cwaram adalah salah satu momentum kreatif. Tentu saja pada bidang seni apapun, dan bahkan pada kehidupan sehari-hari, segala hal baru selalu tidak mudah diterima begitu saja. Ada proses adaptasi yang melalui penolakan, ketidakpahaman, juga pertanyaan-pertanyaan kritis, berikut gugatan. Apalagi gamelan Bali lahir dari suatu tradisi panjang yang mengakar dalam kehidupan kultural masyarakat setempat,” tukas Yudane.

Seturut anggota yang mundur, yang menolak pendekatan new music for gamelan - yang bukan hanya sekadar melanjutkan evolusi tradisi gamelan Bali, melainkan boleh dikata sebentuk dekontruksi menyeluruh hingga menyangkut penyikapan kreatif pada esensi bunyi -  bergabunglah anggota-anggota baru yang datang dari kalangan pelajar SMA. Menurut Yudane, anak-anak muda ini ternyata lebih dapat menerima semangat pembaruan yang ditawarkannya. Boleh jadi karena mereka masih belum menekuni secara mendalam hal-hal baku yang menjadi pakem dari musik gamelan Bali selama ini yang terbilang sudah mentradisi dan kerap mendapat sanjungan.

Sejak proses cipta bersama yang makin intens tahun 2009 itu, Wrdhi Cwaram boleh dikata melakukan berbagai eksperimentasi musik, melakukan penjelajahan dan penemuan bunyi dari bilah-bilah gamelan warisan leluhur. Setiap anggotanya bertumbuh keahliannya dalam semangat kebaruan dan pembaruan. Kebaruan itu terefleksikan melalui adanya pengolahan instrumentasi, warna suara, pelarasan, orkestrasi, dan sebagainya. Semangat kebaruan itu pula terwakili oleh penemuan teknik permainan baru berikut struktur dan sistem kerja antar-instrumentasi, tak ketinggalan adanya tata racik gending baru yang pada giliran berikutnya menciptakan pengetahuan dan perbendaharaan teknis racik yang terus berkembang selaras terciptanya komposisi-komposisi yang lintas batas. Tidak sedikit pihak menyebutnya sebagai sekaa gamelan kontemporer. Dengan ciri bahasa musikal yang diyakini universal melampaui batasan dikotomis musik Barat dan Timur.

Bila selama ini gamelan Bali klasik lazimnya bersifat heterofoni, yakni satu melodi dengan lapis orkestrasi yang berbeda-beda, kini diolah oleh Wrdhi Cwaram menjadi sebentuk tampilan alternatif  yang tak jarang lebih menekankan musik polifoni - kaya akan penjelajahan melodi. Namun menariknya, walau mengedepankan upaya pembaruan di segala sisi, mereka juga sepakat untuk mendalami komposisi-komposisi musik gamelan klasik karya para maestro terdahulu yang hingga kini masih sering dimainkan sebagai acuan capaian keterampilan.

Keterampilan dan kecakapan teknik bermusik anggota Wrdhi Cwaram terbilang tinggi. Berbeda dengan sekaa gamelan Bali umumnya, masing-masing anggota Wrdhi Cwaram boleh dikata menguasai semua instrumen atau alat musik gamelan Bali. Terbukti dari satu komposisi ke penampilan komposisi berikutnya, selalu diikuti dengan perubahan formasi penabuh pada instrumen gamelan secara hampir menyeluruh; berganti posisi dari reong, kajar, jublag, jegog, penyacah, kendang, suling, pemade, kantil, tawa-tawa, bahkan hingga instrumen gong. Hal mana itu juga senafas dengan komposisi-komposisi Yudane sebagai new music for gamelan, mengacu pada not-not balok yang terangkum di dalam partitur yang terbilang pasti. Sehingga paduan bunyi yang dihadirkan tidak bersifat spekulasi, semua terencana, tertata, dan terukur. Demikian pula kiranya empat komposisi untuk Festival Europalia bertajuk antara lain: Spring (11:30), Aquifers (26:00), Ephemeral (3:20), dan Journey (35:00), dipersembahkan sebagai kesatuan yang utuh menyeluruh.

Tampilnya Wrdhi Cwaram pada Festival Europalia kali ini boleh dikata bukan peristiwa biasa. Sebagai komposer dengan reputasi internasional, Yudane mengungkapkan terima kasih atas kesempatan berharga tersebut. Ini bukan semata pertunjukan gamelan Bali yang memang sering juga diadakan di berbagai negara atau tempat prestisius di dunia, namun adalah sebuah momentum menyejarah yang diyakini Yudane akan mengubah persepsi khalayak umum yang klise dan cenderung stigmatis tentang gamelan Bali selama ini; mapan dan terbawa eksotik turistik. (warih wisatsana)

Komposer                   I Wayan Gde Yudane
Puisi                            Ketut Yuliarsa Sastrawan
Performer                   Gamelan Wrdhi Cwaram
Direktur Musik           Sang Nyoman Putra Arsa Wijaya

Musisi
Sang Nyoman Putra Arsa Wijaya, I Ketut Widianta, A.A. Raka Suyadnya, Ida Made Adnya Gentorang, I Gusti Agung Bagus Chandrastika Wangsa, Gusti Putu Lokantara Makalena, I Gede Panca Gangga, I Nyoman Yuda Pertama Putra,  Gusti Agung Putu Retno Saputra, Agus Dody Aryawan, I GedeYudi Krisnajaya, I Wayan Arik Wirawan, I Nyoman Abdi Sucipta, Made Jaya Subandi, I Made Sumantra, A. A. Putu Atmaja, I Wayan Sudiarta, I Made Oka Antara, I Made Oka Dwi Antara, Putu Eka Deri Sasmitha, Putu Agus Satria Setyawan.