VOICES OF INDONESIA BERGEMA DI EUROPALIA

22 December 2017
VOICES OF INDONESIA BERGEMA DI EUROPALIA


Boleh saja Indonesia sohor dengan ribuan pulau, keragaman kultural, atau Bhinneka Tunggal Ika-nya, namun tak mudah  mempresentasikan itu kepada publik lintas bangsa di Europalia Arts Festival. Di BOZAR, Centre For Fine Arts Brussel, sejumlah grup musik Indonesia unjuk penampilan terbaiknya, Minggu, 10 Desember 2017 waktu setempat. Para musikus terpilih itu datang dari berbagai latar daerah, mulai dari Mataniari Toba Batak Ensemble, Saluang Dendang Sumatera Barat, serta tak ketinggalan Wayang Hip Hop, selaras tematik acara Roots Music atau Akar Musik.

Malam itu, ragam musik etnik Indonesia yang kaya dengan bunyi-bunyian pentatonik dan hentakan perkusi, berbagi keriangan pada publik Eropa. Sentuhan musikal modern serta ragam gerak nan rancak mewarnai pertunjukan malam itu. Sebagai pamungkas terakhir, Voices of Papua, anggotanya berasal dari berbagai daerah di pulau paling timur itu. Keempat penampil, Mince Sagrim, Nataniel Kayoga, Yakoba Minggasa Maay dan Lidya Evelin Muabuay,  selain bermusik  juga berdendang menunjukkan keragaman dan keindahan musik tanah kelahirannya. Mereka mengalunkan  Aimunabai, sebuah lagu balada yang mengisahkan nenek moyang orang Yapen, diselingi kemudian Kankarem, lagu seremonial dari Biak. Penampilan Voices of Papua mendapatkan sambutan yang meriah. Tarian dan nyanyian diiringi perkusi serta tetabuhan yang rancak itu, gayung bersambut dengan gerak tubuh serta hentakan kaki ritmis, mengajak publik turut serta bertepuk dan berdendang.  Voices of Papua dipimpin oleh Markus Rumbino.  

Sebagai pembuka sajian, grup MATANIARI Toba Music Ensemble  mengalunkan lagu-lagu bernuansa Batak dan Melayu, di mana musik etnik bertemu kemodernan menyuguhkan alunan yang easy going dan universal. Grup ini sesungguhnya adalah bagian dari Suarasama, kelompok musik yang didirikan pertengahan tahun 1995 oleh Irwansyah Harahap dan Rithaony Hutajulu, lulusan Etnomusicology University of Washington, Seattle, Amerika Serikat.

Sembilan pemusik MATANIARI ini, Rithaony Hutajulu, Niesya Ridhania Harahap, Marsius Sitohang, Eduard Sitohang, Apriando Nadeak, Rinja Gultom, Horas Parsaoran Gultom, Lamhot Saragi serta Irwansyah Harahap,  tampil memukau karena kuasa memadukan unsur musik kontemporer dan musik Batak serta Melayu menjadi sebentuk World Music. Dengan demikian, tak pelak publik terbawa hanyut, mengingat cita rasa universal berkelindan dengan unsur ritmis-mistis, warisan musik tradisi Sumatera Utara ini.

Sebagai komposer, Irwansyah Harahap, pengajar jurusan musik di Universitas Sumatera Utara ini, memang sohor juga sebagai ahli musik yang meneliti aneka konsep musik dunia, di antaranya musik Afrika, Timur Tengah, India, Eropa Timur dan Asia Tenggara serta memadukannya dengan ragam musik yang hidup dalam tradisi Batak dan Melayu. Publik malam itu juga bisa meresapi unsur musik sufi Pakistan di antara lantunan lagu lagu mereka.

Suarasama kerap diundang dalam berbagai Festival World Music Internasional. Suarasama juga mengukir prestasi sebagai salah satu dari Lima Album World Music Terbaik Tahun 2008 versi San Fransisco Chronicle. Tak hanya itu, album tersebut juga termasuk dalam daftar majalah Un Cut 10 Album World Music Terbaik Tahun 2008, dan menjadi salah satu album terbaik bulan Oktober 2008 versi majalah Global Rhythm, Amerika Serikat. Lebih dari 35 majalah (baik cetak maupun online, di Amerika dan juga Eropa) telah memuat ulasan mengenai album “Fajar di Atas Awan”, merujuk pada unsur world music Suarasama yang dianggap “baru” oleh beberapa kritikus musik dunia.

Lain lagi Saluang Dendang, kelompok musik Sumatera Barat ini tampil minimalis dengan hanya tiga orang personil, Amsadri bin Anwar, Rinaldi Usman Kaliang, serta Lismawati sebagai vokalis, menghadirkan seruan kasih  dari Minangkabau dengan iringan suling bambu yang memang menjadi kekhasan sekaligus kekuatan kelompok ini.

Ruang pertunjukan  penuh alunan bunyi bangsi (suling bambu khas Minangkabau), seketika mengesankan kita sekan tengah berada di ladang-ladang dan perbukitan Sumatra Barat. Bunyi bangsi yang meliuk-liuk serta menyayat, bagai kelok tikungan demi tikungan jalan perbukitan provinsi Minang ini.

Selepas dari ruang resital tertutup, penonton kemudian diajak menyaksikan pertunjukan Wayang Hip Hop, yang boleh dikata sebentuk seni progresif – meramu musik Hip Hop yang dinamis serta gamelan dan tembang campur sari ala Solo-Jogja. Perpaduan wayang dan musik hip hop ini berikut lirik-lirik berbahasa Ibu, menggambarkan upaya akulturasi serta kelenturan kultur Jawa dalam menerima hal-hal baru dari luar.

Personil Wayang Hip Hop digawangi oleh Ki Catur ‘Benyek’ Kuncoro (dalang/ rapper), Fahrul Fortis (music director), Inung dan Tyno (MC/rapper), Tiara Yanthika (penyanyi, sinden, rapper), dan Khocil Birawa serta Rio Srundeng (tallent).

Musik Wayang Hip Hop ini dipilih kurator justru untuk menggambarkan upaya-upaya para kreator Indonesia, yang lentur menerima pengaruh dari luar serta meresponsnya secara kreatif seraya tetap menjaga memori kultural setempat. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa kesenian tradisional bukan hal yang mustahil untuk ditampilkan dengan versi yang lebih modern bahkan kontemporer, bahkan avant garde. Dengan bahasa campuran Indonesia-Jawa sederhana yang dikemas secara jenaka telah menjadikan Wayang Hip Hop dapat dinikmati oleh semua kalangan tanpa harus kehilangan unsur-unsur tradisinya. Menariknya unsur lagu dan tampilan mereka juga merujuk pada penggalan novel Anak Bajang Menggiring Angin dari Sindhunata dihadirkan di layar dalam bahasa Inggris; sebagai upaya untuk berkomunikasi dengan publik luas Eropalia.

Rangkaian pertunjukan Roots Music, seakan menegaskan semangat yang digagas oleh kurator musik Europalia, Ubiet Raseuki dan Bart Barendregt, yang hendak menunjukkan kekayaan warna kultural Indonesia, yang tecermin dari unsur-unsur musik etnik tradisi nusantara, juga kreativitas tak terbatas seniman seniman terpilih ketika musik entik tersebut bersentuhan dengan musik modern atau kontemporer. Ya, Indonesia kini, bukan semata musik etnik, bukan pula sekadar hanyut terbawa selera musik barat, melainkan proses sublimasi guna meraih bahasa musik universal sekaligus sebuah penemuan karya unggul yang mempribadi.

Oleh Warih Wisatsana