Uwalmassa, Menggebrak Europalia dengan Kombinasi Budaya Kontemporer dan Tradisional

13 December 2017
Uwalmassa, Menggebrak Europalia dengan Kombinasi Budaya Kontemporer dan Tradisional


  Uwalmassa merupakan salah satu grup musik yang akan tampil di Europalia 2017 nanti. Grup musik ini adalah salah satu produk label musik dan visual art bernama DIVISI62. Dikutip dari situs WhiteBoardJournal, DIVISI62 sendiri ingin menghasilkan karya-karya yang unik dan relevan dengan mengangkat budaya Indonesia.

Uwalmasa dibentuk pada 2016. Terciptanya nama grup musik ini cukup unik. Di awal pembentukan DIVISI62, mereka giat melakukan eksperimen dan menulis kata-kata iseng di Google Translate. Kata “Uwalmassa” merupakan salah satu kata yang ditulis.

Uwalmassa sendiri merupakan gabungan kata “uwal” yang berarti migrasi dalam bahasa Jawa dan “massa” yang artinya kerumunan atau kelompok di dalam bahasa Indonesia. Uwalmassa didefinisikan sebagai “migrasi massal”.

Berkat kerja-kerasnya, Uwalmassa berhasil masuk jajaran grup musik yang akan manggung di Europalia tahun ini. Perjalanan ke sana cukup panjang.

Menurut salah seorang anggotanya, Wahono, tahun lalu mereka merilis dua komposisi orisinil yang bereksperimen dengan instrumen-instrumen gamelan Jawa berjudul Bumi Uthiri.

Mereka lalu melakukan banyak promosi independen selama berbulan-bulan. Lantas, meraih banyak perhatian dari musisi dan DJ internasional, terutama di Jerman dan Inggris.

Salah satu dari merekalah yang merekomendasikan kita ke para kurator di Indonesia sebagai penampil di Europalia,” ujar Wahono. 

Di panggung Europalia, Uwalmassa akan bermain dengan tiga personel: Wahono, Randy, dan Django.

“Format Uwalmassa mungkin tidak seperti grup musik konvensional, di mana satu orang bertanggung jawab atas satu tugas. Peran masing-masing di grup ini lebih dinamis, semua bebas berekspresi,” kata Wahono.

Wahono mengatakan, mereka menggunakan materi rekaman yang dilakukan di studio dan lapangan untuk membentuk komposisi baru secara improvisasi. Mereka memakai sejumlah alat musik elektronik (software dan hardware) untuk memanipulasi dan memainkan fragmen-fragmen suara yang telah dirangkai.

Ada juga kendang ciblon yang umum menjadi bagian dari ensemble gamelan Jawa,” kata Wahono.

Lebih lanjut, Wahono mengatakan, musik mereka adalah hasil percampuran semua jenis musik yang mereka suka dan pelajari. Melalui aneka sumber referensi, mereka kemudian menerjemahkan ulang apa yang sudah mereka cerna melalui lensa yang berbeda.

“Kita berupaya menempatkan instrumen-instrumen tradisional Indonesia dalam konteks yang mungkin tidak umum. Tentunya untuk mencapai sebuah interpretasi yang baru dan berbeda dari apa yang ada di Indonesia ataupun dunia saat ini,” katanya.

Buat Uwalmassa, genre tidak relevan dan tidak menjadi persoalan. “Silakan para pendengar saja untuk memilih istilahnya.” 

Di Europalia 2017, Uwalmassa akan bermain di empat lokasi berbeda. Pada 15 November 2017, mereka bermain di Berghain, Berlin, Jerman; 16 November 2017 di Vooruit, Gent, Belgia; 17 November 2017 di Les Ateliers Claus, Brussels, Belgia; dan 18 November 2017 di Worm, Rotterdam, Belanda.

Atmosfer di Europalia menurut Wahono berbeda dengan Indonesia. Di sebagian besar negara Eropa, katanya, tersedia ruang dan infrastruktur yang mendukung aneka ranah kesenian untuk eksis.

“Semua ada tempat dan kajian yang sesuai. Pasar dan audiens juga memiliki kebebasan untuk memilih apa yang ingin mereka konsumsi, karena semua ada jalurnya masing-masing,” katanya.  “Terutama dari segi marketingnya yang bisa dibilang lebih demokratis.”

Selain itu, menurutnya, rasa ingin tahu dan keterbukaan terhadap kesenian yang tidak komersil juga bisa dibilang tinggi. Banyak institusi dan badan-badan pemerintah yang memang ditujukan untuk mendukung seni secara menyeluruh.

“Kita sebagai orang Asia yang memiliki kekayaan dan keragaman budaya mesti mampu untuk memanfaatkan itu semaksimal mungkin.”

Wahono membeberkan gagasan yang akan disuguhkan Uwalmassa di atas panggung. Menurutnya, penampilan mereka akan berbentuk audiovisual nonstop selama satu jam.

“Dalam waktu yang cukup singkat itu, kami akan berusaha mempresentasikan Indonesia melalui relasi kebudayaan tradisional dan kontemporer,” kata Wahono.

Selain itu, mereka ingin menyampaikan sebuah konsep yang lebih imajinatif. Memprediksikan apa yang akan terjadi di masa depan, dan juga menawarkan sudut pandang lain terhadap sejarah Indonesia masa lampau.

Hmmm...Patut ditunggu nih pertunjukan mereka!

Festival seni dan budaya Europalia sendiri akan digelar mulai 10 Oktober 2017 hingga 21 Januari 2018 di Brusels, Belgia. Indonesia menjadi negara tamu kehormatan di dalam festival seni yang ke-26 itu. Ada 486 seniman dan budayawan Indonesia yang terlibat di 226 program acara di beberapa kota di Belgia dan enam negara Eropa, seperti Inggris, Belanda, Jerman, Austria, Prancis, dan Polandia.