Tiga Topeng

04 December 2017
Tiga Topeng


Malam itu, 21 November 2017, di Théâtre de Liège Nani Topeng Losari Cirebon menampilkan kepada kita sebuah gagasan magis mengenai tradisi dan persepsi gender. Tiga penari duduk membujur di panggung. Di belakangnya para pemain musik gamelan. Sebuah kotak merah terbujur tepat di depan para musisi, persis di tengah panggung.

Tiga penari itu tidak tampil pada saat bersamaan, seperti pada umumnya tarian tradisional di Indonesia. Mereka maju satu per satu, selanjutnya tanpa irisan sama sekali dalam presentasinya. Sekilas terdengar sederhana, tapi kompleksitas tari topeng Losari Cirebon tersembunyi dalam konsep tampilannya yang boleh dibilang cukup subversif.

Tiap penari, pada gilirannya masing-masing, menyajikan gaya, repetisi gerakan, tempo, yang berbeda. Perbedaan ini terwakili dari topeng yang menggunakan warna berbeda: merah dan putih.

Secara umum gerakan-gerakan yang digunakan pada tarian ini mewajibkan penampil punya stamina lebih: gaya kayang alias gakong, gaya pasang kuda-kuda alias naga seser, gaya gantung kaki alias gantung sikil. Tiap penampil punya variasi dan porsi berbeda-beda dari tiga gerakan utama tersebut. 

Setiap topeng seolah memiliki identitas, sekalipun sebetulnya ia adalah sebuah “kulit luar.” Namun, ia justru yang menyetir karakteristik intrinsik si penari. Ia menjadi sutradara bagi tubuh si penari. Ketika menggunakan topeng para penari juga harus bergerak menikmati musik, karena topeng pada tari Losari tidak memiliki celah mata.

Yang menarik dari penampilan malam itu adalah saat-saat ketika mereka akan mengenakan topeng. Tiap pemain akan menghadap kepada kotak di tengah, seperti melakukan negosiasi. Setelahnya, dalam posisi naga seser, mereka akan mengenakan topengnya. Akhirnya: mereka bertransformasi.

Penampil pertama, yang kemudian menggunakan topeng putih, menyajikan dengan gerakan bertempo lamban dan lebih gemulai daripada yang lain. Ia bergerak ke berbagai sisi panggung dan secara umum memiliki porsi seimbang antara gakong, naga seser, dan gantung sikil.

Penari kedua, yang kemudian menggukan topeng merah, punya karakteristik lebih tegas dalam gerakan tangannya. Temponya pun lebih cepat, dan didominasi kayang, dan, boleh dibilang, mewakili karakter-karakter maskulin.

Nur Anani M Irman, alias Nani, adalah pemimpin grup ini dan ia menjadi penampil terakhir. Ia juga menggunakan topeng merah, tetapi berbeda dalam bentuk topeng. Gerakan-gerakannya sangat cepat, tetapi berbeda dari dua yang lain: ia cukup statis dalam posisinya di panggung.

Nani adalah generasi ketujuh dari trah panembahan Losari. Selama ini tari topeng Losari dikenal sangat berbeda dari tarian lain setempat di Cirebon karena kesetiaan tari topeng Losari kepada tradisi. Salah satu hal yang memberikan kontribusi pada hal ini adalah nilai sakral pada topeng-topeng tadi, yang dipercaya memiliki wanda alias karakter. Karena itu pulalah penari topeng losari diperbolehkan hanya memainkan satu wanda, berbeda dari tarian lain setempat di Cirebon.

Dampak lain, yang cukup membuat sedih, tarian ini semakin tergerus modernisasi. Nani, dididik khusus oleh neneknya untuk menjadi penerus keluarga dalam tradisi ini, adalah salah satu dari sedikit penari topeng Losari. Ia juga memiliki 80 topeng, yang usianya bisa sampai 200 tahun.

Penampilan tari topeng Losari malam itu, yang kentara tradisional, diteruskan oleh penampilan Rianto, yang lebih kontemporer dan bertajuk Medium. Dalam penampilannya Rianto mencampuradukkan karakter modern dan karakter tradisional, yang feminin dan yang maskulin, yang cepat dan yang lamban. Kedua grup ini, yang menjadi semacam satu set dalam hampir semua tur mereka di beberapa kota di Belgia, menampilkan suatu kesinambungan yang mengggambarkan secara umum seni tari Indonesia. Ada yang harus dipertahankan oleh pewaris karena nilai-nilai spiritualnya, seperti tari topeng Losari ini. Ada yang sebaiknya ditafsir ulang justru agar bisa mempertahankan semangatnya, seperti tari Lengger di mata Rianto. [*]