Theatre de Liege

13 December 2017
Theatre de Liege


 Bangunan itu berdiri di sebuah perempatan di Place du Vingt Août 16, Liège, Belgia. Warna bebatuannya putih-krem sementara dindingnya oranye-susu. Setelah pintu masuk, di kiri bangunan, bisa ditemukan restoran penuh orang-orang. Mereka meminum anggur putih, kopi, dan mengudap pastri-pastri atau sup kentang. Parkiran mobil ada di jalan seberang bangunan, tetapi tidak cukup memadai untuk mereka yang datang malam itu.

Bangunan itu sudah berdiri sejak 1939. Gedungnya sendiri punya sejarah panjang. Pada 1779, Prince-Bishop de Velbrück membangun sebuah komunitas bebas bernama L’Émulation. Pada 20 Agustus 1914, bangunannya diruntuhkan sepenuhnya oleh German. Lalu, pada 2013, arsitektur setempat, Pierre Hebbelinck dan Pierre de Wit, memimpin proses alih fungsi, memberikan bangunan itu identitasnya hari ini: sebuah teater, dengan nama Théâtre de Liège.

Théâtre de Liège sendiri adalah satu dari empat pusat pertunjukkan drama di Wallonia-Brussels. Sebagai sebuah institusi yang telah lama mapan, mereka sudah melibatkan banyak seniman dan sutradara ternama, termasuk salah satunya Isabelle Huppert, Mélanie Laurent, Toni Servillo, dan sebagainya. Setiap musimnya dilangsungkan kira-kira 180 pementasan, yang menyerap kira-kira 55.000 penonton.

Di sana beberapa pementasan terkait Europalia Festival 2017 dilangsungkan, salah satunya pentas Nani Tari Topeng Losari Cirebon dan Rianto yang menampilkan “Medium.” Mereka tampil berurutan di kepada 557 bangku penonton, yang hampir seluruhnya terisi. Setelah itu dilangsungkan diskusi mengenai gender bersama Annie Cornet, seorang dosen feminisme dan gender dari Belgia.

Ketika memasuki aula utama, tempat Rianto dan Nani tampil, kita tak akan langsung melihat ukuran aula. Alih-alih kita melihat dua lorong yang mesti ditelusuri. “Lihat papan miring itu, itulah bangku penonton,” kata Bozena, salah satu panitia Europalia, “teknologi membuat hal macam begini mungkin.” Di benda mirip papan itu memang terbujur baris-baris bangku penonton. Seluruh furnitur di teater ini disiapkan Jean Prouvé. Ketika kami masuk, petugas menggunakan pemindai untuk otorisasi.

Jarak antar bangku agak sempit, sehingga penonton di depan bisa merasa terganggu dengan pergerakan kita selama duduk dan menonton. Para penonton duduk tanpa mengobrol atau menjawab telepon. Beberapa mengambil foto di tengah-tengah penampilan.

Pada dua jeda dari tiga penampilan malam itu, para penonton diizinkan untuk keluar selama sepuluh menit untuk buang air kecil. Ketika sampai ke akhir acara, diskusi gender bersama Annie Cornet dan para seniman Indonesia di Europalia, hanya 40 orang bertahan. Diskusi dilangsungkan dengan menggunakan penerjemah untuk menghubungkan penonton dan pembicara. Secara umum diskusi berlangsung interaktif; pertanyaan-pertanyaan mengalir.

Penonton sangat tertarik dengan lima gender dalam tradisi bugis: perempuan, laki-laki, calabai, calalai, dan bissu. Pada sesi terkait gender dan seksualitas sebelumnya di La Bellone, Belgia, bisa ditemukan kecenderungan yang mirip. Hal ini juga terjadi di Filipina dan beberapa tempat di Asia Tenggara. Berbeda dari yang kebanyakan orang di Eropa atau Amerika pikir, cara memandang gender dan seksualitas masyarakat Asia Tenggara memang lebih berwarna dan beragam. Sayangnya, cara-cara itu boleh jadi berubah total setelah imperialisme negara-negara Eropa ke Asia.

Setelah pentas selesai, para seniman bisa ditemui di ruang ganti. Ada mesin minuman di sana, yang bisa dibeli dengan koin. Tetapi para pemain gamelan Nani Tari Topeng Cirebon lebih nyaman duduk di tangga. Mereka mengobrol dan tersenyum kepada siapa saja yang lewat. [*]