Tarawangsawelas, Warna Tarawangsa di Eropa

13 November 2017
Tarawangsawelas, Warna Tarawangsa di Eropa


Salah satu grup musik asal Indonesia yang bakal memeriahkan gelaran Europalia 2017 adalah Tarawangsawelas. Namanya cukup unik, berkesan sangat Indonesia.

Tarawangsawelas terbentuk pada 2011 lalu. Grup musik ini dibentuk oleh dua anak muda bernama Wisnu Ridwana dan Teguh Permana, yang bertemu di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (sekarang Institut Seni Budaya Indonesia), Bandung. Wisnu bertindak sebagai pemain jentreng (sejenis alat musik kacapi tetapi berukuran kecil, berbahan kayu, dan berdawai tujuh). Teguh bertindak sebagai pemain tarawangsa (kesenian Sunda dari Rancakalong, Kabupaten Sumedang, terdiri dari dua alat musik, yakni rebab dan kacapi).

“Dalam beberapa situasi, [kami] juga menyertakan Mina Mella Restuaffina sebagai penari,” kata Wisnu, ketika dihubungi beberapa waktu lalu.

Lantas, apa arti Tarawangsawelas? Menurut Wisnu, nama tersebut terdiri dari dua kata, yakni “tarawangsa” dan “sawelas”. “Tarawangsa adalah kesenian yang kita pelajari, dan sawelas mewakili tahun di mana tarawangsawelas dibentuk,” kata Wisnu.

Album pertama mereka direkam pada Maret 2017, dan dirilis oleh Morphine Records. Pada Oktober 2017, mereka mengedarkan album itu dalam format vinyl.

Bagaimana Tarawangsawelas akhirnya bisa manggung di Europalia 2017? Singkat cerita, kata Wisnu, mereka bertemu dengan seorang etnomusikolog berkebangsaan Amerika Serikat, Palmer Keen. Melalui Keen, mereka diperkenalkan dengan musisi internasional.

“Hingga akhirnya berkesempatan ikut dalam Europalia Festival tahun ini,” ujar Wisnu.

Keen sendiri memiliki situs auralarchipelago.com. Ia rajin mengembara keliling kepulauan Indonesia, untuk menemukan, mendokumentasikan, mengekspos, dan mempromosikan musik tradisional yang tak banyak dikenal.

Dalam beberapa tahun terakhir, Keen sudah melakukan perjalanan ke pulau-pulau besar, seperti Sumatra, Jawa, dan Kalimantan, hingga titik-titik kepulauan kecil, seperti Rote dan Selayar.

Sebagai catatan, Tarawangsawelas sudah beberapa kai berkolaborasi dengan seniman nasional dan internasional, seperti ilustrasi musik di video game Dreadout bersama Harry “Koi” pada 2014; film dokumenter “Kidung Dewi Padi” pada 2012 yang menjadi nominasi Eagle Award Metro TV; berkolaborasi dengan Sylvie Patite (Prancis) dan Niki (Hungaria) pada 2013; serta ansambel musik kontemporer, Ensemle Tikoro pada 2012.

Dalam gelaran Europalia 2017, Tarawangsawelas akan bermain di lima kota berbeda. Pada 11 November 2017 mereka manggung dalam program Meakusma, Eupen, Belgia; 12 November 2017 di Muziekgebouw aan ‘t IJ, Amsterdam, Belanda; 15 November 2017 bermain di Berghain, Berlin, Jerman; 16 November 2017 manggung di Vooruit, Gent, Belgia; dan 17 November 2017 mereka akan menutup pertunjukannya di Jazzhouse, Copenhagen, Denmark.

Wisnu menuturkan, dibandingkan dengan grup musik lainnya yang ikut Europalia, Tarawangsawelas memiliki perbedaan. Sebab, hanya mereka yang mewakili kesenian tarawangsa.

“Tiap grup musik yang ikut festival tersebut punya kesenian dan warnanya masing-masing,” ujar Wisnu.

Di Europalia 2017, Tarawangsawelas akan berkolaborasi dengan Rabih Beaini, seorang musisi elektronik asal Jerman. Nanti, Beaini akan meng-convert suara output akustik yang dihasilkan tarawangsa dan jentreng, melalui rangkaian efek.

“Sehingga suara kedua instrumen tersebut bermuatan reverb, delay, drive, dan lain-lain,” tutup Wisnu.

Menarik untuk ditunggu, nih. Pasti, pecah!

(Fandy Hutari)