TOMORROW, AS PURPOSED: BUKAN SEKEDAR INTERPRETASI

07 December 2017
TOMORROW, AS PURPOSED: BUKAN SEKEDAR INTERPRETASI


 Tomorrow, as Purposed sejak awal mempersiapkan penonton untuk masuk ke ruang-ruang gaib yang tercipta lewat keheningan panggung dan gerak pelan para pelakon menuju pusat panggung. Olah tubuh dengan kelambatan ekstrim–seperti layaknya praktek Tai Chi—menimbulkan kesan tarik-menarik antara yang fisik dan metafisik, antara ada dan maya, dan keinginan untuk memberontak dari kekuatan tak terlihat.

Skena pembuka di menit-menit pertama Tomorrow, as Purposed karya Melati Suryodarmo itu langsung menyihir perhatian penonton yang memenuhi ruang pertunjukan Theater KVS Brussels pada 1 Desember lalu.  Kesunyian yang akut di atas panggung membuat setiap gerakan para pelakon, selambat apapun, terdengar seperti desis yang menebar firasat buruk.

Pergumulan melawan yang gaib sampai di titik ketika para pelakon membentuk komposisi horizontal lalu masing-masing menyingkap busana hitam berlapis yang membalut tubuh mereka. Aura mistis yang tercipta dan keheningan yang menghantui sejak awal itu pecah ketika ratusan paku berloncatan keluar dari tubuh-tubuh yang sebelumnya berontak terhadap kekuatan tak nampak. Adegan yang cukup mengejutkan ini langsung menggiring imajinasi ke ritual-ritual ilmu hitam yang biasanya hanya di dengar dari mulut ke mulut. Rumor tentang hal-hal gaib yang mewujud dalam pementasan karya Melati Suryodarmo jelas menggelitik para penonton Belgia yang percaya pada sains dan logika.

Tomorrow, as Purposed yang judulnya diambil dari kutipan ramalan tiga penyihir  dalam lakon Macbeth karya William Shakespeare itu memang sedang ingin mempertanyakan kembali hubungan antara apa yang logis dan supernatural. Pentas ini adalah salah satu karya Melati Suryodarmo yang paling ditunggu dalam rangkaian Festival Seni Budaya Europalia Indonesia di Belgia. Hampir semua orang yang datang pada pertunjukan malam itu penasaran dengan karya terbaru seniman asal Solo yang terkenal dengan aksi-aksi panggung berdurasi (sangat) panjang ini.

Ruang utama teater KVS Bol yang berkapasitas 500 kursi itu penuh dengan hanya satu dua kursi yang terlihat kosong di sudut-sudut balkon.  “Saya tidak pernah melihat pertunjukan Melati selain di Youtube. Karya-karyanya menurut saya sangat provokatif dan menantang. Jadi ini kesempatan saya untuk bisa melihatnya langsung,” kata Camille Stehle, seorang penulis kolom di salah satu media di Belgia. Sementara Koen Stevenson mengaku tidak tahu sama sekali tentang karya-karya Melati Suryodarmo. “Saya ingin diberi kejutan,” kata Koen. Dia datang karena beberapa koleganya merekomendasikan untuk menonton.

Penonton yang lain mengaku datang karena memang sudah mengenal karya-karya Melati sebelumnya. “Selama ini saya melihat pertunjukan solonya.  Kebanyakan dia tampil sendiri. Baru kali ini saya akan melihat karyanya sebagai sutradara. Saya datang mencari kejutan-kejutan yang selalu ada dalam karya-karya Melati,” kata Matt Van Orter, seorang penari senior yang mengaku pernah bertandang ke Padepokan Lemah Putih milik ayah Melati, Suprapto Suryodarmo.

Kejutan-kejutan yang diharapkan sebagian besar penonton malam itu hadir beruntun mulai dari menit pertama. Dengan tata panggung yang minimalis bernuansa hitam putih dan secarik aksen merah tembaga di pinggir panggung, Melati berhasil menciptakan sebuah ruang supernatural, ruang (per)antara yang riil dan yang mistis, sebagai  arena pergolakan antara ambisi manusia yang ingin mengendalikan segalanya dengan kekuatan (super)natural diluar jangkauan nalar. Di arena inilah berlangsung pertarungan antara yin dan yang, tarik menarik antara kekuatan positif dan negatif, perjuangan untuk terus menjaga keseimbangan.

Kompleksitas Yin dan Yang yang terlihat sederhana, ditampilkan dengan sangat efektif oleh Melati melalui rangkaian peristiwa di atas panggung, baik itu peristiwa yang riuh diiringi gebukan gendang, maupun saat panggung diselimuti aura meditatif yang senyap. Dalam Tomorrow, as Purposed, Melati banyak menampilkan dualitas yang terus-terusan bertarung untuk saling melengkapi.

Dualitas yin dan yang mewujud dalam berbagai bentuk. Dua perempuan yang saling memelintir dan nyaris menyatu, dua burung besi yang bertarung untuk mewujudkan sebuah tujuan yang sama: “Aku ingin membangun dunia, di mana semua orang merasa bahagia di dalamnya.” Selain itu, dualitas ini juga mewujud dalam laki-laki dan perempuan, suami dan istri, kekuatan kiri dan kanan, sepatu hak tinggi hitam dan putih.

Bagi Melati, setidaknya yang tersirat dalam Tomorrow, as Purposed, untuk kelangsungan hidup manusia di bumi, keseimbangan itu perlu. Tapi butuh kerja keras dan usaha yang tidak ada hentinya untuk menjaga keseimbangan agar yin tidak mendominasi yang, maupun sebaliknya. Bahwa segala sesuatu yang terjadi tidak pernah sesederhana hitam (atau / dan)  putih.

Para pelakon dalam Tomorrow as Purposed nampak bergerak karena terdorong oleh keserakahan maupun keadaan. Sosok yang bergerak seperti roh, membawa bumi/tanah ditangannyapot tanpa bungayang melampaui kepalanya dan berjalan tanpa bisa melihat apa yang ada di depan. Mereka terseret, baik itu oleh ambisi pribadi maupun tekanan eksternal, masuk ke wilayah-wilayah surealis lewat ilmu gaib, persis seperti Macbeth yang percaya bahwa hari esok akan membuat dia jadi raja.

Tomorrow, as Purposed adalah karya pertunjukan yang matang menggabungkan semua elemen (antara tari, teater, visual, musik sekaligus puisi) tradisional dan kontemporer. Dari gerakan tari Pakarena, tarian tradisional suku Bugis di Sulawesi Selatan hingga koreografi tari zaman digital, sesekali diiringi gendang riuh yang disusupi music elektronik ekperimental bercampur dengan dialog berbahasa daerah dan pembacaan teks yang lantang dan teatrikal.   

Meskipun disebut-sebut sebagai karya yang diambil dari lakon Macbeth seperti yang tertulis di flyer dan materi promosi pentas ini, Melati Suryodarmo tidak mengadaptasi karya klasik Shakespeare tersebut. Selain beberapa kutipan dialog dari Macbeth serta tema tentang dampak tragis kekuasaan, Tomorrow as Purposed adalah karya utuh yang orisinil dan bukan sekedar karya “interpretasi".***

Oleh : Asmayani Kusrini