Si Kulit Putih dan Serupai

12 November 2017
Si Kulit Putih dan Serupai


Malam itu mata-mata tertutup. Cahaya datang dari surai lampu di panggung, menjuntai ibarat rantai. Sebagian dari orang-orang terduduk di lantai, bersender kepada dinding hijau yang menyajikan ilustrasi anak-anak soal kebun imajiner.

Mereka yang berdiri di seberang panggung menggoyangkan badan kiri-kanan, lamban, patuh kepada alunan musik: dinamis, tak repetitif, sukar digambarkan dengan satu kalimat sederhana. Sudah jelas itu sebuah komposisi musik elektronik, namun ia punya sentuhan musik disko, funk, dan ambiens. Menariknya, di tengah campur-aduk bunyi itu selalu terselip alunan yang familiar: musik tradisional Indonesia.

Wolf Müller, lelaki muda yang duduk di panggung, sedang menggunakan alat musik tiup, barangkali sebuah serupai. Ia musisi Belgia keturunan Jerman yang melakukan residensi di Kalimantan tahun ini dalam rangka Europalia 2017, di mana Indonesia menjadi negara tamu. Selain berbaur dengan warga Dayak setempat, Müller juga merekam berbagai suara, mempelajari alat-alat musik tradisional—seperti agukng, sapek, keledik—dan mencari inspirasi di tengah pedalaman Kalimantan.

Malam itu, 10 November 2017, Bozar menyajikan beberapa sajian musik: Ellen Allien, Paula Temple, DC Salas, lalu kemudian para musisi Europalia: Otto Sidharta, DJ Dea Barandana, dan tentu saja, Wolf Müller. Dalam cuaca dingin orang-orang menembus angin malam pukul delapan, datang dari stasiun Gare Centrale untuk berkumpul di Rue Ravenstein 23, lalu mengantri tiket untuk beli minuman, dan kemudian menyebar ke berbagai sudut, menunggu sesuatu yang cukup seru untuk didengar dari dekat.

Suara-suara tradisional dalam musik Müller malam itu sudah direkam dahulu ketika ia melakukan residensinya. Pada video yang tersebar di internet, kita bisa melihatnya belajar memainkan keledik dan menembus sungai Mahakam dengan motornya di atas sampan. Malam itu Müller menyelipkan bunyi-bunyi tradisional live, dan ialah yang jadi pemainnya. Hasilnya: musik yang ramah di telinga, tetapi tidak kentara familiar untuk sekadar lewat saja. Anak-anak muda dari sekitaran aula tempat panggung didirikan perlahan mendekat, lalu masuk kerumunan, terpanggil alunan musik yang cepat namun variatif. 

Tubuh-tubuh pun bergoyang, mata-mata tertutup, tangan-tangan menggapai dan melambai ibarat cabang-cabang pohon tertiup angin. Sementara Müller dengan tangkas berganti-ganti alat-alat musik yang ia mainkan sambil duduk di panggung. Tangannya cekatan betul. Bagaimanapun juga ia telah berkeliling Eropa memainkan alat-alat musik itu. Selanjutnya ia akan tampil di Meakusma—Eupen, dan Vooruit—Gent.  Lahir dengan nama Jan Schulte, kita juga bisa mencarinya di internet sebagai Bufiman.

Musik Müller adalah harmoni. Komposisinya berlapis-lapis dalam variasi bunyi. Dengan pembukaan berupa dentuman ala disko sederhana, komposisi Müller jadi kian kompleks dan mumpuni. Perlahan bisa kita dengar pengaruh musik traditional Kalimantan, bunyi mirip gamelan, yang tentu saja adalah agukng. Kemudian muncul sesuatu yang tampak seperti bunyi alat musik tiup, barangkali keledik. Kemudian semacam suara hewan-hewan hutan kala malam. Tetapi tak ada yang yakin apakah itu betul suara hewan, atau suara alat musik: tak lagi jelas mana bunyi elektronik, mana yang bukan.

Selanjutnya, di tengah-tengah komposisi masuklah musik ambien, yang begitu berbeda dari pembukaan komposisi. Alunan repetitif masuk ke telinga, membikin semacam perasaam trance. Kemudian masuk sesuatu yang seperti suara manusia, memanggil-manggil, yang sekilas mirip lantunan adzan. Malam itu segala bunyi campur-baur, tanpa bentuk yang mumpuni, hanya ciri.

Seseorang, di tengah kerumunan yang bergoyang lamban, berujar, “This is really good!” Tak ada satu pun bantahan. [*]