Pantulan Kita, di Bozar

13 December 2017
Pantulan Kita, di Bozar


Bangunan dua lantai itu lebih tua daripada kita semua. Bercat putih”krem, dua lantai, berdiri di pertigaan di Rue Ravenstein 23. Sudut bangunannya lengkung dengan sepasang pintu dorong yang akan membawa siapa saja masuk ke dalamnya. Orang”orang terus berseliweran, menyeberang, keluar masuk bangunan itu dan bangunan di seberangnya, yang adalah kantor”kantor dan juga jalan tembus ke stasiun metro Gare Centrale.

BOZAR, nama populer bangunan itu, adalah venue utama Europalia Internasional di Brussels. Tahun ini Indonesia adalah negara tamu. Dua eksibisi Indonesia dijalankan di sana: Ancestors & Rituals, yang menampilkan artifak”artifak leluhur di berbagai wilayah di Indonesia, dan Power and other things, yang menampilkan linimasa sejarah Indonesia dalam teks, gambar, lukisan, bahkan surat.

BOZAR dibangun dengan arahan arsitek Victor Horta, sebagai lanjutan atas berdirinya Société du Palais des Beaux”Arts pada 1922. Bangunannya sendiri selesai dibangun pada 1929. Sejak 2002, nama BOZAR dipakai sebagai merek resmi. Pada 2010 BOZAR mengadakan eksibisi karya”karya Frida Kahlo, yang merupakan salah satu pameran paling bergengsi yang tampil di sana.

Di sini digelar pertunjukkan dan diskusi seniman”seniman Indonesia. Pada 10 November 2017, sejak pukul delapan malam, Otto Sidharta, DJ Dea Barandana, Wolf Müller berbagi panggung. Pada 15 November 2017, Ayu Utami bicara soal Indonesia paska Soeharto. Alexis Gautier, seniman Belgia, juga akan melakukan eksibisi mengenai arti kata “pulau,” setelah melakukan residensi di Indonesia selama dua bulan.

Pada Ancestors and Rituals bisa kita temukan barang”barang budaya dari masa pra”kolonial, dari berbagai tempat di Indonesia. Ada patung bernuansa buddhisme, patung leluhur dari Papua, Si Gale Gale dari Tapanuli, juga kain dan selendang. Pertanyaan”pertanyaan ditempelkan di dinding: “Apa itu leluhur?” “Apa pentingnya leluhur?” “Cara untuk menjadi leluhur?” Sebuah guci raksasa membuka perjalanan eksibisi ini. Gunanya: membawa arwah leluhur ke dunia selanjutnya. Boneka Si Gale Gale bisa terbujur di seksi ritual kematian. Gunanya: agar arwah leluhur tidak mati karena tidak terurus. 

Di salah satu sudut, misalnya, bisa kita temukan beberapa peninggalan Batak Toba, termasuk sebuah foto tarian hoda”hoda, yang dipersembahkan kepada arwah leluhur. Tarian itu tak lagi bisa ditemukan pada keluarga Batak, tersapu oleh ajaran Kristen dan Islam—dua agama yang diadopsi mayoritas keluarga Batak.

Di sudut lain bisa kita temukan sebuah layar yang menyajikan kehidupan orang Toraja kontemporer, bagaimana adat dan agama Kristen bergulat setiap harinya. “Bagi saya Kristen dan adat bisa berjalan beriringan,” kata seorang lelaki muda dari Toraja di video, dengan datar, tanpa nada tegas yang meyakinkan. Salah satu patung leluhur Dayak menggunakan topi capotain. Rupanya ia bernama leluhur Kristen, menunjuk ke orang”orang Eropa yang dulu bisa berbaur dengan suku Dayak.

Menariknya, di ujung pameran ada Cabinet des pertes non reconnues, atau lemari untuk menyimpan kehilangan yang terpendam. “Pada lemari ini kamu bisa mengucapkan selamat tinggal terhadap kesedihan”kesedihan dalam hidupmu, kecil maupun besar. Kau bisa mewakili mereka dengan sepitik kuku, sehelai rambut, sepotong kain bajumu, atau bahkan setetes air mata. Pada akhir eksibisi ini, Beyon the Spoken adan membuat sebuah ritual perpisahan untuk semua kesedihan dan kehilangan yang ada di kabinet.” Sebuah gunting keemasan dengan rantai terpacak di dindingnya, yang penuh dengan potongan kertas dan kain. [*]