PINTU-PINTU EROPA

13 December 2017
PINTU-PINTU EROPA


 Bagi pelancong yang santai dan jeli, pintu-pintu berbagai bangunan di Eropa akan mencuri perhatian. Brussels cukup istimewa dalam soal ini, karena pernah jadi bagian penting gerakan Art Nouveau (Seni Baru). Gerakan seni yang lahir secara internasional di Eropa ini popular pada 1890-1910.

Gerakan Seni Baru ini adalah gerakan dalam senirupa, arsitektur, dan seni terapan. Seni dekoratif, yang dileceh sebagai bagian dari dunia "tradisional" sehingga terasa wagu dan tak diinginkan dalam sebuah dunia modern atau kontemporer, direngkuh dalam karya-karya Art Nouveau.

Tak heran jika pintu-pintu di Brussels banyak yang tampak tua dan artistik –khususnya, pintu-pintu pada bangunan-bangunan lama. Bahannya kayu yang kokoh, kadang kecil kadang tinggi mengintimidasi. Hiasan ukir kayu menambah intensitas pintu-pintu itu secara visual, sering dibarengi hiasan atau ukiran logam.

Di balik setiap pintu, kita bisa membayangkan ada banyak kisah. Tapi, pintu-pintu Eropa itu tampaknya cukup sulit dibuka. Dan pintu-pintu itu agaknya cukup tebal, sehingga sukar bisa ditendang begitu saja untuk menjebolnya, seperti sering kita lihat dalam film-film Amerika. Di balik pintu tertutup, seakan dunia Eropa tak mengajak kita masuk, membiarkan kita tetap di luar, di depan pintu.

Soal "Pintu Tertutup", itu jadi judul drama karya Sartre yang sangat terkenal itu. Huis Clos, drama tentang orang lain adalah "neraka". Untuk waktu lama, Eropa (juga Belgia, secara khusus) memandang liyan (the Other) secara eksotik, dan mengganggu. Eropa, biar bagaimana, mengakarkan diri pada sejarah kolonial yang panjang. Sudut pandang Eropa itu memengaruhi relasi antara Eropa dengan negara-negara di luar "pintu"-nya.

Tapi, pada 2000-an Eropa mulai membuka pintu-pintunya lebih lebar. Migrasi dari Afrika, Asia, dan nyaris seluruh penjuru dunia, baik karena terpaksa (mengungsi) atau pun tidak, tampak mewarnai kota Brussels dan kota-kota besar lain dalam wilayah Uni Eropa. Brussels tampak sangat meriah oleh subkultur kaum migran di beberapa wilayah kotanya. Aneka bahasa dengan mudah mampir di telinga saat dalam tram, atau bis, atau ketika berjalan kaki melintasi orang-orang nongkrong.

Pada 6 Mei 2017, gedung Berlaymont di kota ini, tempat markas Uni Eropa berkantor, menerapkan program "Buka Pintu" dari pk. 10.00 hingga pk. 18.00 untuk masyarakat. Semua orang boleh masuk, dan menanyakan apa saja sih kerja Uni Eropa? Program tersebut seakan melambangkan semangat membuka pintu yang semakin naik.

Sebetulnya, kehadiran lebih dari 200 seniman Indonesia di tujuh negara dan puluhan kota di Eropa dalam Europalia kali ini adalah upaya aktif mengetuk pintu-pintu yang masih terlihat tebal, agar Eropa membuka pintu bagi budaya dan seni Indonesia. ***