Otniel Tasman Dapat Sambutan Luar Biasa Penonton Eropa

13 December 2017
Otniel Tasman Dapat Sambutan Luar Biasa Penonton Eropa


Pada 14 di Charleroi dan 17 Oktober 2017 di Brussels, koreografer Otniel Tasman menampilkan dua karya tari  Nosheheorit  dan  Lengger Laut .

Lengger Laut  merupakan karya lama Otniel, tapi ia beri sentuhan kebaruan penampilannya, dari sisi koreografi, musik, maupun artistik. Sedangkan  Nosheheorit  merupakan karya baru Otniel, yang berbicara mengenai gender performance. Menurutnya, hal itu penting untuk didalami dalam pewacanaan gagasannya.

Mengingat idenya cukup besar dan masing-masing kultur memiliki pemahamannya sendiri, maka penting bagi saya untuk memahami konsep gender, baik di negara saya maupun konsep Eropa,  kata Otniel.

Menurutnya, hal itu penting dilakukannya, supaya tak menjadi sesuatu yang asing untuk dinikmati pentonton Eropa.

Otniel mengakui, banyak sekali pengalaman yang ia dan timnya dapat sebelum mentas. Misalnya, pengalaman residensi dan berkolaborasi dengan lighting designer dari Belgia.

Pengalaman itu, memperkaya Otniel sebagai pencipta karya. Dari pengalaman tadi, Otniel merasa karyanya menjadi lebih berbobot dan tampilannya semakin mengundang simpati pentonton.

Ide residensi dan kolaborasi internasional yang difasilitasi oleh pihak Europalia Festival dari Belgia tersebut sangatlah penting, dan membantu kami belajar memperluas pemikiran dan berbagi ruang kreatif bersama kultur seniman asing,  ujar Otniel.   

Di dalam pementasannya, Otniel ingin menonjolkan olah tubuh tradisional yang dikemas kontemporer. Otniel mengatakan, hal itu dilakukan untuk memperkaya seluruh elemen artistik di dalam karyanya, serta tetap berpijak pada akar tradisi sebagai penari Indonesia, terutama Jawa.

Otniel sendiri sudah mengalami proses berkarya selama 10 tahun. Pengalamannya pertama kali dimulai saat masa kuliah di Institut Seni Indonesia, Surakarta, pada 2007.

Eksplorasi kekaryaan saya banyak terinspirasi kesenian lengger dari daerah kelahiran saya di Banyumas, Jawa Tengah,  kata Otniel.

Ia sangat terinspirasi dari Dariah, seorang penari lengger pria asal Banyumas, Jawa Tengah.

Terutama adalah mengenai kesenian lengger dan sejarahnya versi beliau, kehidupan beliau sebagai penari lengger lanang, lingkungan kesenian lengger yang begitu kaya nilai-nilai kehidupan,  kata Otniel.

Selain itu, kisah hidup Dariah juga banyak menginspirasi Otniel. Terutama, bagaimana  ketubuhan  Dariah yang buat Otniel hanya bisa dicapai dengan kesetiaan pada profesinya seabgai penari lengger.

Sebelum terbang untuk ikut Europalia Festival, Otniel rajin berkarya. Hal itu ia lakukan agar nama dan karyanya diketahui oleh para kurator dan kritikus seni di tanah air. Akhirnya, ia diundang untuk mengikuti showcase keperluan Europalia Festival.

Kesempatan ini saya manfaatkan bersama tim untuk bisa tampil sebaik-baiknya.

Otniel mengatakan, sebelum tampil, ia dan timnya berusaha untuk meningkatkan kualitas karya, serta penyampaian gagasan melalui karya agar bisa diterima dengan baik oleh penonton. Mereka berlatih dalam waktu yang cukup lama, dan melakukan banyak diskusi untuk tampil maksimal.

Di pentas, Otniel berkolaborasi dengan Lighting Designer asal Belgia, Pier Gallen, untuk karya  Nosheheorit .

Karya desain lampunya begitu menghidupkan dan mendukung setiap detail koreografi yang kami bawakan. Hal ini sangat penting, dan saya ingin terus terjalin, ada dalam karya-karya saya berikutnya,  kata Otniel.

Pertunjukan Otniel dan timnya mendapatkan sambutan yang sangat baik, standing applause panjang dari penonton. Para penonton banyak sekali yang masih tinggal di depan panggung untuk memberikan selamat dan menyampaikan kegembiraannya usai menikmati karya Otniel.

Para penonton mengucapkan selamat dan semoga mereka bisa menikmati karya saya di lain kesempatan.

Otniel sendiri mendapatkan penonton dari Prancis dan Belanda, yang rela datang jauh-jauh hanya untuk menonton karyanya. Mereka berharap, Otniel dan tim bisa tampil di negara mereka suatu saat.

Ini tentu menjadi obat lelah kami selama melakukan tur di Belgia. Rasanya terbayar dengan mengetahui sambutan dari penonton,  ujar Otniel.

Para penonton pun menyampaikan kekagumannya terhadap penari-penari yang luar biasa, dan tampil baik. Usai pementasan, diadakan diskusi. Hal ini, menurut Otniel, menjadi sebuah kesempatan penting bagi dirinya dan tim untuk mengetahui respons penonton, serta bagaimana antusiasme mereka terhadap penampilan karyanya dan kesenian Indonesia secara umum.