Ngobrol-Ngobrol dengan Charlotte Vandeveyer di Schouwburg Leuven

10 December 2017
Ngobrol-Ngobrol dengan Charlotte Vandeveyer di Schouwburg Leuven


Sambil menunggu pementasan Cry Jailolo di 30CC Schouwburg, Leuven, kami ngobrol-ngobrol dengan Charlotte Vandeveyer (Dance Programmer STUK) di kantin khusus artis yang terletak di bagian bawah gedung. Berusia 150 tahun, gedung ini sangat indah, kokoh, namun dengan banyak detail cantik yang dibentuk oleh perupa G. Vanderlinden. Arsiteknya E. Lavergne.

Gedung ini sudah beberapa kali direnovasi. Terakhir, tahun 1994-1996, biro arsitek V.D.F. ditugaskan oleh pemerintah kota Leuven untuk melakukan restorasi, inovasi, dan perombakan, termasuk mengganti kapasitas menjadi 750 kursi penonton (dari sebelumnya 1.000). Tahun 1994, gedung ini menjadi bangunan yang dilindungi dengan keputusan menteri. Akan tetapi, pada tahun 2015, seluruh kursi diganti lagi.

Berada di dalam bangunan ini, suasana yang menarik mengelilingi kami. Ada artistiknya. Ada sejarahnya. Tetapi, hadir pula fungsi sebagai gedung pertunjukan, dengan pintu, lobi, tangga dan gang yang diatur sedemikian rupa sehingga mendorong orang menuju ke ruang pertunjukan.

 Masuk ke ruang pertunjukan, bagi yang pernah masuk gedung kesenian di pasar baru, ada kesan akrab, hanya dengan ukuran yang lebih besar. Kursi-kursi di sisi ruangan terbagi atas empat lantai. Langit-langitnya dihiasi mural yang indah, sesuai dengan ruangannya. Ada lampu-lampu khas gedung pertunjukan.

Ruangan tersebut begitu hening, namun memiliki akustik yang sangat baik. Saat semua terdiam, jangankan batuk ataupun bersin, gesekan jaket pun terdengar dari ujung ke ujung. Kualitas ini sangat mendukung pertunjukan Cry Jailolo yang mengandalkan hentakan kaki untuk membuat irama.

Di kantin, kami dilayani oleh penjaga kantin yang sangat ramah dan cekatan. Berusia mungkin di atas 60 tahun, dengan seragam blazer dan rok hitam, dengan aksen garis merah, ia nampak -menyatu- dengan gedung ini.

Charlotte mengenalnya dengan baik, meskipun kantor Charlotte bukanlah di Schouwburg; bukan pula di 30CC. Ia manajer program tari STUK, yang disebut -a house for dance, image and sound-. STUK merupakan pusat kesenian kota Leuven, sementara Cultuurcentrum 30CC merupakan pusat kebudayaannya. Pusat kebudayaan ini mengelola berbagai gedung milik kota, termasuk Schouwburg, di samping menjalankan program kesenian tersendiri. STUK memiliki gedung sendiri, namun seringkali memakai gedung yang lain, termasuk, untuk pementasan Cry Jailolo, 30CC Schouwburg Leuven.

STUK (bukan singkatan; pengembangan dari nama lama Stuc yang bisa berarti turap atau lepa, namun bisa juga berarti plester) terbentuk di dalam gerakan mahasiswa akhir 70an dan sejak 1986 diakui oleh pemerintahan orang Vlaam di Belgia. Sejak 1993, STUK menerima dana bantuan tetap. Nampaknya, keberhasilan dalam menjaga kesinambungan festival KLAPSTUK (beef atau daging sapi) menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pemberian dana bantuan tetap itu.

Melompat maju dalam sejarahnya, obrolan dengan Charlotte tentang STUK mengarah kepada pengorganisasian kegiatan seni di Leuven. Pada musim pertunjukan 2015-2016, STUK mengambil arah baru, dengan fokus tari, senirupa dan musik; 30CC memusatkan perhatiannya kepada teater dan sastra, yang menjadi kekuatan utamanya.

Nampaknya ada pembagian kerja yang rapi antara kedua institusi kebudayaan/kesenian Leuven. Namun, bagi orang yang baru -masuk- ke dunia kesenian di kota ini, kerjasama keduanya dapat membingungkan. Meskipun memiliki program dan gedung sendiri-sendiri, namun seringkali mereka bekerja sama dan  mempergunakan beberapa gedung milik kota Leuven yang ada di bawah pengelolaan 30CC; saling menunjang, menghindari kompetisi antar mereka. Begitu eratnya jejaring kerjasama para petugas mereka, ada kalanya sulit membaca siapa yang sebetulnya membuat keputusan untuk penggunaan ruang, gedung, ataupun menentukan kalender acara. Charlotte sendiri mengakuisambil tersenyum simpulsituasinya memang agak kompleks.

Ia sendiri baru satu tahun bergabung dengan STUK. Sebelumnya, hingga usia 20an, ia merupakan penari balet. Tubuhnya yang langsing dan sikap tubuhnya yang selalu tegak, juga langkahnya yang ringan dengan posisi kaki yang khas, menunjukkan latar belakangnya.

Charlotte tinggal di Brussels, namun bekerja di Leuven. Setiap hari ia mengendarai sepedanya, kemudian naik kereta, lalu naik sepeda lagi. Udara musim dingin nampaknya tidak begitu mempengaruhinya.

Di kantin, seperti juga hampir seluruh gedung, udara dingin kota Leuven sore itu tidak terasa. Nampaknya ada sistem pemanas ruangan yang bekerja dengan sangat baik: tidak dingin, namun juga tidak panas.

Ngobrol-ngobrol dengan Charlotte bergulir begitu lancar. Tidak terasa waktu pementasan sudah dekat. Ia bersiap-siap untuk menjaga pintu, karena malam itu Charlotte bertugas mengurus tiket.

Pertunjukan sold out. Tidak heran, sebenarnya, karena Eko Supriyanto sudah dikenal. Sebelumnya, ia sudah pernah berkolaborasi dengan seniman Belgia, tepatnya dengan Arco Renz (yang juga menjadi kurator tari Europalia Arts Festival Indonesia), dalam program Monsoon.

Charlotte menjelaskan cara yang paling mudah untuk memasuki dunia seni Belgia adalah melalui orang-orang seperti Arco Renz yang sudah dikenal dan sudah mengenal baik sistemnya. Arco, begitu Charlotte menyebutnya, merupakan koreografer terkenal dan memiliki dance company sendiri. Ia pun pernah menerima dana bantuan tetap.

Lewat Arco-lah, STUK dengan orientasi baru untuk pertama kali bekerja sama dengan Europalia begitu intens. Selain pertunjukan Eko di Schouwburg, STUK juga mementaskan karya seniman Indonesia lainnya. Arco yang diyakini memiliki pengetahuan dan pengalaman luas di Asia Tenggara dipandang sebagai orang yang tepat untuk membawa kesenian Indonesia ke Leuven. 

Bagi STUK, yang memiliki pendekatan terhadap tari sebagai media yang kaya ragam, nampaknya kurasi Arco cocok dengan keinginan mereka untuk senantiasa menghadirkan kualitas inovatif. Pendekatan ini terinspirasi oleh -rumah tari- internasional yang sudah terkemuka, seperti Dansenhus di Stockholm, Tanzhaus NRW di Düsseldorf, Maison de la Danse di Lyon, atau Tanzquartier di Wien.

Apakah Cry Jailolo karya Eko Supriyanto mendukung misi STUK untuk mengembangkan kalangan penonton dan sekaligus menjadi penghubung bagi berbagai generasi? Entahlah. Ulasannya belum keluar. Yang pasti, ketika menyusul Charlotte ke depan untuk mengambil tiket gratis, kami melihat tua muda memang berkumpul di lobi depan, dengan wajah-wajah yang penuh semangat.

Idham Bachtiar Setiadi, bersama Feri Latif (fotografi)