Musik Otto Sidharta Adalah Untuk Diamati

01 December 2017
Musik Otto Sidharta Adalah Untuk Diamati


Di dalam musiknya ada ruang untuk berimprovisasi, tergantung dari suasana saat itu. Pentas bagi Otto Sidharta adalah juga berinteraksi dengan penonton. Dengan ratapan untuk mengenang para korban teror ia mengundang beragam reaksi. Ada yang merasakan kehampaan. Ada yang merasakan ketegangan. Dan ada pula yang merasa tersiksa.

Mengenang korban teroris

“Karena berita-berita tentang teror ini sangat mengganggu saya, koq masih terus terjadi,” jelas pemusik elektronik Indonesia ini ketika dijumpai usai konser pada 12 November 2017 di Korzo Theater, Den Haag. Komposisi baru ini khusus disiapkannya untuk tur biennale Europalia, manifestasi seni multidisiplin di berbagai kota di Eropa, yang kali ini berfokus pada Indonesia. Sebelum ke Den Haag Otto Sidharta tampil di Brussel dan Eupen.

Walaupun sudah lama berkarya sebagai pemusik berpengalaman, Otto Sidharta (62) membawa sebuah pelajaran baru dari Belgia. Pengunjung konsernya di Brussel datang dengan harapan akan bisa joget dengan musik elektronik seperti di disko. Ketika ditanyaapakah salah jika mendengarkan musik sambil joget dijawabnya: “Tidak salah. Yang salah adalah ketika mereka berbicara satu sama lain. Jadi tidak mendengarkan musik. Mereka ingin bergerak dengan musik. Musik saya ini untuk didengar, diamati dan dirasakan.”

Reaksi penonton semacam itu membuat musiknya menjadi hiasan dinding semata.Sangat berbeda dengan pengunjung di Eupen, kota kecil di Belgia Timur yang berbatasan dengan Jerman. Mereka diam dan mendengarkan. Sama halnya dengan penonton di Den Haag, kota yang dijuluki ‘Jandanya Hindia Belanda’ yang pada sore hari itu memenuhi Korzo Theater.

Tampil di panggung internasional bagi Otto Sidharta adalah juga untuk berinteraksi dengan penonton, hal ini memperkaya imajinasinya. Ada yang menyebut musik komposisinya sebagai musik elektronik, ada pula yang menyebutnya electro-acoustic. Namun Otto Sidharta sendiri mengatakan: “Musik ya musik, apakah dengan alat musik baku atau tidak.”

Mendengarkan dan mengamati Otto Sidharta berdiri di belakang komputer di panggung terkesan ada saat-saat ia berimprovisasi. Hal ini ia benarkan. Sekitar enam puluh persen komposisinya tetap dan empat puluh persen lainnya bisa mengalami perubahan. Apa yang mempengaruhi perubahan itu? “Tergantung dari imajinasi saya saat itu. Ketika kita merasakan ruang, merasakan bunyi. Apa yang terjadi di ruang itu. Setiap ruang kan berbeda. Suasana berbeda, lampu berbeda. Itu mempengaruhi imajinasi saya untuk melakukan perubahan, menyesuaikan dengan situasi yang ada,” jelasnya.

Ancaman dan siksaan

Sjors Hoebrechts, pria Belanda paruh baya di waktu istirahat mengatakan senang dengan musik komposisi Otto Sidharta. Ia mendengar kegelisahan dan merasakan bunyi-bunyi yang mengancan. Dengan perubahan-perubahan yang subtil musiknya memukau, tapi baginya agak terlalu panjang. Dia mengasosiasikannya dengan musik minimalis komponis Amerika Steve Reich.

Menjawab asosiasi itu Otto Sidharta menjelaskan bahwa Steve Reich (1936) terpengaruh musik Timur, repetitif dan adanya perubahan yang berangsur-angsur. Ciri-ciri itu sudah ada pada diri Otto Sidharta tanpa Steve Reich.

Ratapan mengenang para korban teror ini bagaikan penganiayaan bagi Agrar Sudrajat,penonton dan teman Otto Sidharta semenjak ia mengenyam pendidikannya di Sweelinck Conservatorium bergengsi di Amsterdam. Berbeda dengan tanggapan Kurniawan Saefullah, yang sedang menyelesaikan S3 di Leiden. Baginya pesan komponis sampai. “Pendengar bisa menghayati. Bisa merasakan kekosongan. Kehilangan. Itulah yang dirasakan keluarga korban.” Komposisi untuk mengenang korban terorisme itu berhasil. 

Kehadiran Otto Sidharta di Korzo Theater, Den Haag masuk akal. Teater ini menyediakan panggung untuk talenta-talenta baru dan gagasan-gagasan anyar dalam berbagai disiplin seni. Musikolog Shane Burmania, penanggungjawab penyusunan acara Korzo Theater menjelaskan ia bermaksud memperkenalkan pengunjung dengan perkembangan dalam dunia musik elektronik dan musik baru. Ia menilai musik Otto Sidharta sangat intens dengan lengkungan ketegangan yang bagus.