Menyusur Sunyi Menemui (Lagi) Akar Tradisi

11 December 2017
Menyusur Sunyi Menemui (Lagi) Akar Tradisi


 

Eko Prawoto:

Menyusur Sunyi Menemui (Lagi) Akar Tradisi

Balekambang...

Secara literal berarti sebuah platform terapung, tempat untuk duduk atau menghibur tamu dari istana Sultan. Struktur seluruhnya terbuat dari bambu, berjumlah ribuan batang dan irisan yang dibawa di dalam kontainer, menyeberangi samudera dan tiba di Antwerpen, kota kedua terbesar setelah Brussel, Belgia.  

Ini adalah dialog budaya antara Indonesia dan Belgia.

Struktur itu berada di suatu lokasi instalasi yang spesifik di Bonaparte Dock, sebuah situs warisan di satu lokasi yang sangat spesial di Antwerpen. “Namun dalam membangunnya kita mengalami berbagai kesulitan. Membangun di atas air tampaknya menjadi pengalaman baru bagi kita,” kenang Eko Prawoto (59).

Eko berjuang keras bersama 17 tukang dari Desa Ngibikan, Bantul, selama beberapa hari untuk membangun Balekambang itu. Namun cuaca dingin, angin dan berbagai kendala teknis membuat seluruh usaha seperti sia-sia. Baru kemudian mereka memahami apa yang disampaikan alam.

“Kita tidak bisa melawan untuk menentang karakteristik dan kehendak alam. Air dan angin harus menjadi elemen utama dari instalasi yang akan menyingkap karakteristik spiritual bambu,” kenang Eko, suatu malam, tentang Festival Seni Europalia yang diikutinya di Antwerpen, Belgia, akhir bulan Oktober 2017.  

Bambu sangat kuat, tetapi mengapung di air. “Mengambang itu bukan berarti tidak pasti. Itu adalah jenis stabilitas yang berbeda. Air menerima dan memeluk bambu dan bambu menjadi elemen akuatik yang menari di dalam alunan ombak.  Ini juga mengingatkan kita tentang kekayaan Nusantara, permata di khatulistiwa.”

Eko mengingat, beberapa malam dia bersama para tukang berpikir keras untuk mewujudkan karya instalasi yang berbeda dari rancangan awal, desainnya dimodifikasi diselaraskan dengan situasi alam di lokasi. Proses itu, bagi Eko, tak bisa menjadi catatan kaki, tetapi tubuh dari suatu karya seni.

“Balekambang mentransformasikan dirinya ke dalam struktur mengambang yang menari, seperti bentuk organik yang diinginkan air. Itu adalah suatu penampilan material di dalam air, makhluk hidup yang menari, disaksikan dan dikitari suara musikal lonceng angin bambu yang berdiri di kejauhan.”

Itulah persembahan untuk Antwerpen dari Ibu Alam Indonesia.

Pengalaman di Antwerpen memberikan pengalaman yang baru. Akan tetapi, menurut Eko, setiap karya instalasi dari bambu memberi pengalaman yang selalu berbeda. “Setiap karya instalasi inginnya sebagai sesuatu yang sangat spesifik di suatu situs. Atau berkaitan dengan ‘komentar’ atau tanggapan atas situs itu.”

Pada dasarnya, karya seni berupaya untuk membuat makna yang berkait atau mengait atau dikaitkan dengan sesuatu dari lokal. Bisa tentang memori kolektif atau persoalan atau identitas budaya atau lainnya.

“Sebetulnya karya instalasi bisa menjadi media yang menarik,” ungkap Eko. “Makanya saya sangat mementingkan prosesnya.”

Oleh: Maria Hartiningsih