Mengapa Padewakang?

14 November 2017
Mengapa Padewakang?


 

Mengapa perahu padewakang? Perahu padewakang adalah perahu dibuat dengan teknik menyusun papan. Sejenis dengan baqgo, lete, palari, dan atau pinisi. Di tengah ada balok lunas lalu di kedua sisinya ditambahi papan yang disebut “papang tobo”; jumlahnya ada tujuh, sembilan, sebelas, dan seterusnya. Makin besar perahu makin banyak “papang-nya”. Bedanya dengan sandeq atau pakur, keduanya terbuat dari kayu yang dikeruk di tengah lalu ditambahi papan di kedua sisinya.  Paling banyak dua atau tiga papan.

Perahu padewakang diperkirakan merupakan perahu utama pelayaran jarak jauh pelaut-pelaut dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Mandar). Menurut Horst dalam makalahnya Perahu-perahu Tradisional NusantaraPadewakang-padewakang milik pedagang Mandar, Makassar dan Bugis melayari seluruh Samudera Indonesia di antara Irian Jaya dan Semenanjung Malaya, dan sekurang-kurangnya sejak abad ke-19 secara rutin berlayar  sampai ke Australia untuk mencari tripang, dalam suatu byuku dari abad silam bahkan terdapat gambaran sebuah perahu padewakang yang dicapi “perahu bajak laut asal Sulawesi di Teluk Persia. Tipe perahu ini menggambarkan dengan baik sifat-sifat perahu Nusantara sejak kedatangan kolonial: Sebuah lambung yangmenurut standar Eropaberukuran sedang dan dilengkapi dengan satu sampai dua geladak, kemudi samping, dan layar jenis tanjaq yang dipasang pada sebatang tiang tripod tanpa laberang."

Berdasarkan catatan di atas dan jejak-jejak teknik pembuatan perahu kayu, dulu perahu padewakang juga banyak digunakan di Mandar. Beberapa foto koleksi KITLV Belanda, di situ keterangannya tertulis padewakang Mandar. Hanya saja, sudah lama perahu ini punah di Mandar dan kontinyuitasnya tidak sesemarak pembuatan perahu di Bulukumba. Yang khas pada perahu padewakang adalah bentuk layarnya, yakni layar segi empat yang oleh orang Mandar menyebutnya “sombal tanjaq”. Bentuknya segi empat. Konon, layar ini disebut “tanjaq” karena kalau kena angin, bagian bawah layar (peloang) seperti orang yang “mattanjaq” atau menendang.

Jenis layar ini khas Austronesia. Bentuknya tergambar jelas di relief Candi Borobudur. Cara pemasangannya juga demikian, yakni ada orang yang memanjat di tiang layar. Saya pernah melihat teknik demikian waktu perahu pakur Mandar yang dilayarkan ke Jepang tahun 2009 dikembangkan.Layar tanjaq padewakang terbuat dari serat daun lanu. Bagian daun yang diambil di pohon lanu adalah daun mudanya. Daun tersebut dikeringkan lalu bagian atau lapisannya yang keras yang tak mudah putus/robek diambil, diurai menjadi selebar 2 mm. Helai kecil itu disambung sampai ratusan meter. Bagian inilah yang ditenun, layaknya menenun sutera. Hanya saja untuk menenun karoroq tidak menggunakan suruq. 

Perahu Padekawang terakhir yang pernah dibuat. Bernama “Hati Maregeyang dibuat dalam rangka ekspedisi ke Australia. Perahu ini juga dibuat di Tana Beru oleh H. Jafar dan keluarga, pembuat perahu yang saat ini  dipamerkan di BelgiaGuna merakit perahu padewakang di Belgia berukuran sekitar 12 meter, dengan lebar tiga meter dan tinggi lebih dua meter, tukang yang membuat perahu padewakang akan dibawa serta. Mereka terdiri dari Muhammad Ali Jafar, Muhammad Usman Jafar, Bahri dan Budi. Saya dan Horst Liebner akan mendampingi. Rencananya berangkat ke Belgia akhir September atau awal Oktober.

Proses persiapan bahan layar membutuhkan waktu lebih sepekan. Jika semua telah siap, proses penenunan dilakukan. Untuk menenun butuh waktu empat hari. Setiap lembar berukuran rata-rata panjang lima meter, lebar 70 cm. Ini kemudian disambung antar sisi dengan cara menjahit menggunakan “pappas” (juga lanu). Adapun sisi diperkuat menggunakan “randang bulu” atau tali ijuk. Ini semua dibuat di Mandar, kerjasama wanita Kampung Lanu di Campalagiang dengan nelayan di Pambusuang.

Untuk perahu padewakang yang akan dipamerkan di Belgia, ada dua helai layar. Layar haluan berukuran 7 x 5 meter, yang buritan 5 x 3 meter. Kalau digunakan melaut, layar biasa tahan 2 – 3 bulan. Dalam setiap pelayaran, pelaut membawa banyak cadangan karoroq. Dulu, sebelum tahun 70-an, karoroq sangat laku di Mandar. Selain digunakan sebagai layar, juga sebagai kelambu, tikar untuk menjemur padi. Ketika karoroq plastik masuk dan murah, peran karoroq daun ditinggalkan. Saat ini bisa dikatakan punah. Lembaran karoroq baru diproduksi kalau ada yang pesan. Untuk kegiatan pameran di Belgia ini dibutuhkan 15 lembar karoroq. Satu lembar harganya Rp 400.000. Ya, lebih mahal daripada sutera.

Masyarakat Indonesia lebih mengenal perahu pinisi dibanding padewakang. Padahal dari segi “lama digunakan”, padewakang jauh lebih lama dibanding pinisi. Jika pinisi baru digunakan kurang 150 tahun terakhir, padewakang lebih dulu. Berdasarkan fresko pada Candi Borobudur, waktunya bisa 1000 tahun.

Itulah sebab mengapa dalam rapat di Museum Nasional beberapa bulan lalu, diputuskan untuk memilih padewakang daripada pinisi. Pertimbangan teknis, jika membuat skala sesuai asli, padewakang jauh lebih memungkinkan daripada pinisi. Ya, pinisi dibuat, tapi ukurannya akan besar yang akan lebih repot serta lama dalam proses buat, bongkar dan pasang lagi. Minimal panjang pinisi 15 meter, tinggi layar juga begitu. Itu tidak muat di museum yang tingginya hanya 7 meter. Sedang padewakang bisa.

Padewakang bentuknya sangat sederhana. Bagian lambung mirip dengan jenis baqgo: lambung, bagian atas ada “kurung” tapi tak tertutup semua oleh papan (“lapar” bahasa Mandarnya) melainkan atap. Bagian buritan ada semacam ruang untuk mengemudi. Paling belakang buritan ada dua tingkat, sebagai tempat pemantauan dan bawahnya untuk buang air. Ya, ada tempat yang tersembunyi untuk jongkok.

Bagian adalam lambung berupa lantai bambu atau kalau dalam istilah kita “lattang”. Padewakang bisa menggunakan satu atau dua tiang layar. Kalau besar selalu menggunakan dua layar. Bagian haluan lebih besar layarnya daripada buritan.

Besar dugaan, jenis padewakang-lah yang mendominasi sebagai armada dagang jarak jauh yang digunakan pelayar-pelayar Nusantara, khususnya dari Makassar dan Mandar dalam perdaganganrempah-rempah. Dari Ternate dan Tidore (serta pulau-pulau sekitarnya yang menghasilkan rempah) ke Indonesia bagian barat, misal Tumasik (Singapura), Malaka dan Padang; serta ke utara, Sulu (Filipina).

Bila dibandingkan dengan teknik pembuatan perahu kayu dewasa ini di Mandar dan apa yang saya saksikan di Bulukumba, relatif sama. Ada lunas, papan penyusun yang disebut “tobo” di Mandar tapi di Tana Beru (Suku Makassar, Sub Suku Kajang) disebut “terasaq”, dan di atas susunan “tobo” disebut “pallamma”. Baik di Mandar maupun di Kajang itu sama, sama-sama “pallamma”.

Jika tak ada bagian tambahan di atas struktur badan lambung, biasa diistilahkan perahu “pajala”. Mandar dan Kajang sekali lagi sama dalam istilah itu. Jenis perahu “pajala-lah” yang pertama kali diusulkan oleh Horst Liebner dalam pertemuan bersama tim ahli persiapan pameran Europalia. Alasannya, senada dengan pendapat Adrian Horridge dalam buku Perahu Layar Tradisional Nusantara, “Perahu asli lain dari barat Sulawesi Selatan adalah pajala, yang mempunyai karakteristik berupa badan perahu yang dibangun dari papan. Sebenarnya pola dari papan memperlihatkan bahwa hal itu tidak terlalu jauh dari perahu tradisional dari sejak seribu tahun yang lalu.” Tapi karena alasan konstruksi “pajala” itu terlalu sederhana, saya usulkan model padawakang ke anggota tim ahli yang lain. Pinisi, sebagaimana yang dituliskan sebelumnya, diabaikan sebab terlalu besar. Pun padewakang itu lebih umum digunakan di Nusantara, khususnya di pesisir barat Pulau Sulawesi. Termasuk oleh pelaut-pelaut Mandar di masa lampau.

Meski disebut digunakan setidaknya satu milenium lalu, berdasar eskavasi atas perahu tenggelam yang diduga berasal masa ratusan tahun lalu, misalnya yang tenggelam di Laut Cirebon, ada perbedaan teknik dalam penyusunan papan lambung. Saat ini, susunan papan lambung diperkokoh oleh pasak yang dipasang ke “tajoq” dan “kilu”. Tapi dulu tidak demikian, melainkan menggunakan teknik ikat. Setiap papan ada bagian yang timbul yang disebut “tambuku”. Pada tambuku dibuat lubang yang nantinya menjadi tempat memasukkan tali pengikat (terbuat dari ijuk) yang menghubungkan papan lambung (lewat tambuku) dengan tulang (“tajoq” dan “kilu”) perahu. Teknik demikian pernah saya rekonstruksi bersama tukang perahu di Pambusuang yang kemudian di pamerkan di pameran Jalur Rempah dua tahun lalu di Jakarta. Saat ini perahu tersebut dipajang di halaman Museum Nasional yang di situ tertulis “Perahu Rempah Mandar”.

Jenis perahu pajala masih bisa ditemui di Mandar. Itu bisa kita lihat jejerannya di Pantai Lapeo (Baqba Toa) dan Pantai Buku, keduanya Kecamatan Campalagian. Sepertinya tinggal dua kampung itu di Mandar yang masih menggunakan perahu pajala. Jenis perahu itu digunakan untuk berburu ikan pelagis kecil di pantai dan ikan penja pada waktu-waktu tertentu. Dulu pajala juga bisa disaksikan di Majene (Taman Kota dan sekitarnya) dan Desa Sabang Subik dan Galung Tulu (Kecamatan Balanipa). Tapi sekarang tak ada lagi. Nelayan panjala memang masih banyak di Majene, tapi tak ada lagi menggunakan model perahu pajala tradisional melainkan kapal motor yang disebut “bodi”. Disebut pajala sebab perahu ini alat tangkap utamanya adalah jala. Teknik dan alat tangkap demikian sehari-hari masih digunakan nelayan di Galung Tulu, tapi menggunakan sampan besar bercadik. Mereka disebut “panjala biring”.

Pengembangan perahu pajala atau variannya cukup beragam. Bisa dikatakan dasar atau cikal bakal hampir semua perahu kuno di Nusantara yang tekniknya berupa susunan papan, adalah perahu pajala. Baik itu padewakang, palari, pattorani, baqgo maupun pinisi. Analaginya sama bila mengatakan bahwa dasar utama perahu bercadik seperti sandeq, pakur, katinting dan lainnya adalah lepa-lepa (sampan). Yaitu batang kayu yang dikeruk tengahnya.

Muh. Ridwan