Mengabarkan Kejayaan Maritim Indonesia

13 December 2017
Mengabarkan Kejayaan Maritim Indonesia


Tak ada yang bisa menyangkal bahwa Indonesia termasuk negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan sedikitnya 17.503 pulau membentang dari Sabang sampai Merauke, bukan mimpi siang bolong jika Indonesia bercita-cita menjadi kekuatan poros maritim dunia. Bahkan, visi besar itu tertuang dalam Nawacita Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Semangat yang sama digelorakan ke Festival Europalia dalam ajang pameran kebudayaan maritim (Archipelago) bertajuk “Kingdoms of the Sea Archipel” di Museum La Boverie di Liege, Belgia pada 25 Oktober 2017 hingga 21 Januari 2018.Selama rentang waktu itu, kemegahan dan kekayaan warisan budaya Indonesia dipamerkan kepada khalayak dunia, khususnya orang Eropa.

Intan Mardiana, mantan Direktur Museum Nasional yang menjadi kurator pameran Archipelago dalam Festival Europalia-Indonesia 2017, mengungkapkan, pameran tersebut merupakan yang pertama kali bagi Indonesia. Pameran ke luar negeri sejatinya sudah sering dilakukan oleh tim kurasi dari Museum Nasional. Namun begitu, baru kali ini Indonesia menggelar pameran sebesar dan semegah di Belgia. Untuk pertama kalinya juga, tema yang diangkat adalah kemaritiman.

“Karena Indonesia punya visi besar, cita-cita sebagai poros maritim dunia. Ini penting, maka kami buat pameranArchipelago. Berisi kebudayaan dan sejarah maritim Indonesia, bagaimana peran negara ini sangat terbuka, ada akulturasi dari sisi pelayaran dan perdagangan,” urainya.

Karya yang dipamerkan tidak tanggung-tanggung. Terdapat 248 artefak koleksi Museum Nasional dan museum provinsi lain, seperti dari  Jawa Tengah, Sumatra Selatan, Jambi, dan Bali, yang diboyong ke Museum La Boverie. Jumlah itu termasuk 139 karya instalasi.

“Semua yang kami tampilkan di sanaadalah masterpiece. Benda-benda dan koleksi yang khas suku-suku di Indonesia,” ia menekankan.

Salah satu warisan budaya Nusantara yang mengundang decak kagum warga Eropa adalah Perahu Padewakang. Perahu kayu rakitan warga Bulukumba, Sulawesi Selatan itu merupakan cikal bakal kapal Phinisi yang terkenal.

Perahu Padewakang adalah kapal tradisional pembawa rempah-rempah yang menjadi saksi kesuksesan pelayaran menaklukkan Samudra Pasifik dan Madagaskar pada masa orang-orang Eropa belum mengenal teknologi kelautan.  Kapal berukuran 11 meter x 7 meter x 4 meter itu semakin menarik perhatian warga setempat karena dibawa langsung dari Tanah Beru, Bulukumba dan proses perakitannya dilakukan di Museum La Boverie.

Bagi Intan, ini merupakan momen yang tepat memperkenalkan betapa besar potensi kemaritiman Indonesia dalam skala global. Modal yang ditanamkan sejak era Kerajaan Sriwijaya, kerajaan maritim terbesar di Asia yang berpusat di Palembang, Sumatra Selatan pada periode 650-1377 M. Sempat jatuh bangun karena masyarakat kembali pada ketergantungan agraris, kejayaan maritim Nusantara dibangkitkan lagi pada era Majapahit melalui Sumpah Palapa oleh Patih Gajah Mada. Sekian lama terpaku pada daratan, pada 2014, Indonesia menaikkan lagi harkat dan derajatnya sebagai negara kepulauan.

“Sejarah kejayaan kemaritiman Indonesia itulah yang kami sampaikan di Liege. Mulai dari Kerajaan Sriwijaya, yang kita tahu adalah kerajaan maritim terbesar dan berkuasa di Sumatra dan Pulau Bangka pada masanya. Dan itu kejayaan maritim pertama kita, hingga masuk ke Mataram Kuno, dan terakhir Majapahit,” paparnya.

Pameran archipelago di Belgia, melibatkan Wali Kota Liege, Willy Demeyer, koordinator kurator Europalia International Dirk Vermaelen, konsultan peneliti arkeologi dari Ecole Francaise d"extreme Orient Pierre Yves Manguin, dan peneliti sejarah maritim Indonesia dari Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah.

Oleh Silviana Dharma