Maison de la Bellone

13 December 2017
Maison de la Bellone


Jendela dari ruang tamu tempat kami menginap menampilkan sebuah tampak depan bangunan bergaya rococo, alias late-Baroque. Bangunan itu terpenjara dalam sebuah aula besar dengan palang-palang besi menyangga atap kaca. Mereka adalah bagian dari bangunan lain yang lebih besar lagi—yang dibangun dengan gaya khas bangunan modern di Brussels. Di hadapan bangunan rococo itu terhampar ruang kosong berbentuk persegi, kira-kira 25 x 25 meter. Ruang itu adalah panggsung, dan biasa melangsungkan konser, pertunjukkan tari, drama, diskusi.

Sekarang keseluruhan komplek bangunan itulah yang menggunakan nama Maison de la Bellone. Meskipun, nama itu dulunya eksklusif milik bangunan rococo tadi. Ia dibangun pada 1697 oleh Jean Cosyn, yang juga mendesain Grand Palace, salah satu pusat turisme dan sosialita di Brussels.

Ketika masuk dari pintu depan, kita bisa menemukan tumpukan brosur pertunjukkan rapi terpajang seperti barang-barang di toko ponsel. Selanjutnya, di lorong menuju panggung, buku-buku terpajang di etalase di sepanjang dinding. Judul-judulnya berbahasa Perancis dan kebanyakan membicarakan seni pertunjukkan.

Masing-masing kami menempati satu kamar di apartemen seniman La Bellone. Saya menempati kamar yang lebih kecil, tetapi dengan kasur besar. Sementara Intan Paramaditha menempati kamar lebih besar, namun dengan dua kasur kecil mirip sofa. Jendela Intan menampilkan cerobong asap dan langit, sementara milik saya menyajikan bangunan rococo itu, lengkap langit Belgia yang selalu pucat, tetapi kini samar katena atap kaca. 

Pemanas ruangan tamu tidak bisa dimatikan, sehingga kami membiarkannya menyala selama kami berada di sana. Ketika malam, saya tetap saja kedinginan. Berbeda dari Intan yang mengatakan kepada saya, ketika kami berbagi cerita soal kehidupan masing-masing, “Aku suka tinggal di negeri dengan empat musim, dengan musim dingin yang sangat dingin.” Sudah lebih dari satu dekade dia habiskan sebagai diaspora Indonesia di Amerika, dan kini di Australia. Saya baru pergi ke luar negeri ketika berumur 27 tahun.

Apartemen tempat kami tinggal memang mengundang seniman-seniman untuk tinggal di sana. Semuanya bisa diakses melalui situs mereka. Kami ada di sana atas undangan Europalia Festival 2017, yang memilih Indonesia sebagai Negara Tamu.

Di lemari panjang di ruang tamu itu bisa kami temukan paket alat-alat mandi—sampo, sabun, sikat dan pasta gigi—dalam plastik-plastik transparan warna hijau atau biru. “Kita enggak usah beli wine,” kata Intan ketika kami pergi mencari kebutuhan sehari-hari di Lindt, “di rumah banyak.” Saya menemukan bukti kata-katanya, juga di salah satu laci.

La Bellone punya sebuah kafe kecil di lantai dasar. Orang-orang berkumpul di sana ketika sore tiba. Kafe itu menyajikan kopi dan roti yang terkenal enak. Salah satu bartender mereka, seorang perempuan berambut pirang dengan highlight hitam, datang ke sesi kami, sebuah diskusi soal gender dan tradisi, bersama Intan Paramaditha, Isabelle Bats, Arco Renz, Sophie Aujean, dan saya sendiri.

Dinding yang menjadi latar diskusi kami terbutat dari batu bata oranye. Saya duga umurnya sudah renta. Noda hitam di mana-mana, membuat dinding ini cocok untuk menjadi latar foto bersama.

Dari jendela ruang tamu itu kami juga bisa melihat para pengurus La Bellone. Mereka bekerja, membaca dokumen, dan mondar-mandir. Bangunan rococo itu kini adalah sebuah kantor. Para pengurus teater ramah dan murah senyum. Valérie Sombryn, koordinator La Bellone, memeluk kami ketika bertemu, juga ketika kami pulang. Ketika tiba, ia mengantarkan kami ke kamar dan menjelaskan ringkas sejarah La Bellone. Lift menuju kamar kami punya pintu berwarna merah, sesuai dengan warna khas sampul buku-buku Intan Paramaditha. “Kalau kamarnya ingin dibersihkan, telepon saja,” katanya. Kadang-kadang kami menelepon.