Lily Yulianti Farid: Islam dan Indonesia Timur

04 December 2017
Lily Yulianti Farid: Islam dan Indonesia Timur


“Saya dibesarkan oleh pengasuh non-muslim sejak lahir,” kata Lily Yulianti Farid sebelum membacakan cerpennya yang ditulis berdasarkan pengalaman hidupnya tersebut, di Europalia Festival Centre di Dynasty Building, Mont des Arts 5, Brussels. “Hal ini tidak umum untuk keluarga Muslim di daerah saya tinggal (Makassar), dan lebih tak biasa lagi, pengasuh saya laki-laki.”

Ia lahir di kota itu, 16 Juli 1971. Sekarang Lily telah tinggal lebih dari satu dekade di Melbourne, Australia. Ia mengambil studi master dan doktoral berkaitan dengan gender di Universitas Melbourne. Pada 2008 dia menerbitkan cerita-cerita pendeknya melalui program Makkunrai, yang mencoba meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai isu-isu terkait gender melalui sastra dan seni pertunjukkan. Pada 2010 Yayasan Lontar menerbitkan terjemahan cerita-cerita Lily, Family Room. Pada 2015 ia ikut dibawa Indonesia ke Frankfurt Book Fair.

 Pada sesi diskusi mengenai Islam di Europalia Festival Centre malam itu, salah satu penulis lain dalam panel itu, Intan Paramaditha, menekankan pada awal diskusi bahwa ada bermacam-macam cara praktik Islam di Indonesia. Lily mengungkapkan persetujuannya kepada pernyataan Intan dengan mengatakan respons keluarga besarnya yang heran dengan keputusan orangtuanya untuk punya pengasuh dari lain suku, pulau, dan bahkan agama.

“Barangkali karena ini saya sudah terbiasa dengan keragaman,” kata Ly, begitu ia biasa dipanggil, mengenai masa kecilnya. Ia mengatakan bahwa ia tidak mengalami kebingungan dari segi keimanan karena pengasuhnya. “Saya menunggui pengasuh saya kebaktian, dengan duduk-duduk di halaman gereja. Pengasuh saya mengingatkan dan mengantarkan saya ke kelas membaca Quran.” Pada cerpennya itu Jois menemani si bungsu menghapal nama-nama nabi dan malaikat dalam agama Islam.

Salah satu sesinya dilaksanakan di Tulitu, toko buku berbahasa Perancis di sekitaran Rue de Flanders. Ia berbicara dengan Caroline Godart pada sesinya di sana. Seluruh diskusi Lily di Brussels dilangsungkan dalam Bahasa Inggris.

Karya-karya Lily adalah representasi kehidupan masyarakat Makasar, yang masih belum cukup visibel bagi penduduk di wilayah lain di Indonesia, seperti yang tertulis pada buku cerpennya Ayahku Bulan, Engkau Matahari (Gramedia Pustaka Utama, 2012) . Pada karyanya juga ada ironi ringan, yang menyentil secara sosial. Misalnya pada cerpennya “Kue Lapis,” di mana Lily menggambarkan pasar tradisional di Yogyakarta yang menuju bangkru, setelah berdirinya supermarket besar tepat di seberang pasar.

Selain penulis, Lily juga dikenal sebagai salah satu pendiri Makassar International Writers Festival. Menjalankan aktivitas festivalnya di tempat-tempat bersejarah di Makasar, MIWF dilaksanakan kali pertama pada Juni 2011. Semuanya bermula dari Rumata Art Space, yang Lily dirikan bersama Riri Riza pada Februari tahun yang sama.

Bagi Lily, festival sastra adalah cara yang baik untuk mengenalkan sastra kepada masyarakat, dengan harapan masyarakat awam akan kembali terlibat dalam gerakan membaca dan pada akhirnya turut memeriahkan sastra. “Karena itu, saya terus menekankan bahwa festival ini (MIWF) harus gratis. Semua harus punya akses untuk masuk dan mendengarkan para penulis bicara,” katanya. Ia juga melibatkan relawan, yang kini boleh dibilang sudah seperti sebuah komunitas yang bisa melibatkan seribuan orang.

Selama di Brussels, Lily menjalani residensi di Druum, sebuah rumah dari abad ke-19 yang dijadikan bed & breakfast. Menurut Lily Druum ini menarik karena seniman bisa tinggal di sana tanpa membayar asal mau menghabiskan beberapa jam setiap harinya bekerja untuk mereka. [*]