Liège dan Kerajaan Maritim Indonesia

13 November 2017
Liège dan Kerajaan Maritim Indonesia


Di La Boverie, museum terkemuka kota Liège, pameran besar ketiga Europalia Arts Festival Indonesia berlangsung dari 25 Oktober 2017 hingga 21 Januari 2018. Website La Boverie memperkenalkan pameran ini sebagai berikut:  

-Les Royaumes de la Mer - Archipel. Kerajaan-kerajaan Laut - Nusantara. Dari petualangan orang Austronesia hingga bandar Portugis dan Belanda, dari kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha hingga kesultanan Islam, pameran ini menyampaikan kisah menawan sebuah negara dengan sejarah yang beraneka ragam; kisah sebuah negeri yang kaya rempah-rempah, kayu, dan emas, di persimpangan jalur-jalur laut yang paling sibuk di dunia masa kini.-

 Apa sebabnya Liège tertarik kepada sejarah maritim Indonesia?

Website europalia.eu menjelaskan, pameran ini merupakan kerja sama lembaga dan ahli Indonesia, Belgia, Prancis, dan Belanda. Komite ilmiahnya mencakup antara lain Pierre-Yves Manguin, ahli Asia Tenggara asal Prancis namun kelahiran Portugal, yang sangat dikenal kalangan arkeolog Indonesia karena berbagai penelitian dan tulisannya.

Tentu juga ada pengaruh dari tim Europalia International. Mereka mempromosikan sejarah kepulauan kita sebagai -jejaring kaitan dan koneksi, di mana yang jauh dan yang dekat berhimpitan, berkompetisi di dunia maritim yang omnipresent, di mana laut lebih menyatukan daripada memisahkan, serta musim angin memaksa pedagang, penyebar agama, dan diplomat asing bermukim sementara, meninggalkan jejak dalam mitos, monumen, kesenian, dan tradisi Indonesia masa kini.- Eksotis? Mungkin.

Barangkali juga ada alasan yang lebih membumi. Jean-Pierre Hupkens, Echevin de la Culture et de l’Urbanisme, anggota dewan kota yang mengurus perkembangan kebudayaan dan masyarakat perkotaan, menjelaskan kepada Houda Joubail dari sebuah lembaga kebudayaan nirlaba Liège (lihat cultuurliege.be), perkembangan kota Liege sejak dahulu diwarnai interkulturalisme pemukim dari Italia, Spanyol, Turki, dan Afrika Utara dan penduduk -asli-.  

Lebih -dalam- dari multikulturalisme, interkulturalisme mengarah kepada pengembangan -mélange et bigarrure- yang mirip dengan -bhinneka tunggal ika- — meskipun, tentunya, skalanya berbeda. Wujudnya bermacam-macam. Ada -Solidarité Liège Monde- atau -Solidaritas Dunia Liège- yang membiayai proyek mikro di negara berkembang, dengan tujuan menjaga hubungan antara pendatang di Liège dan tempat asal mereka. Ada juga -La Fête de la soup- yang mengajak makan bersama penduduk Liège dari berbagai bangsa di satu meja panjang, dengan maksud mengakrabkan mereka. Pameran Archipel pun bisa dikatakan merupakan wujud interkulturalisme.

Program interkulturalisme ini didukung kemampuan finansial. Liège mampu menjalankan program seperti ini karena pemerintah kota ini masih memiliki anggaran kebudayaan yang lumayan besar. Anggaran tersebut terus meningkat sejak pembukaan Museum La Boverie pada bulan Mei 2016, meningkat lagi pada tahun 2017, dan akan meningkat lagi dengan pembukaan Taman Boverie. Bandingkan dengan penurunan anggaran kebudayaan sebesar 25% yang terjadi di Belanda.

Perekonomian Liège, yang mencakup antara lain industri komponen pesawat terbang Airbus (yang banyak dipakai di Indonesia) dan juga produsen senjata api FN Herstal (yang juga banyak dipakai di Indonesia), tetap tumbuh pada waktu perekonomian banyak kota lain di Eropa justru surut. Posisi strategis kota ini, dengan pelabuhan sungai terbesar ketiga di Eropa dan hubungan langsung ke Antwerpen, Rotterdam dan kota-kota di Jerman melalui sungai Meuse dan kanal Albert, juga berperan.

Barangkali, jaringan sungai dan kanal ini dilihat mirip dengan apa yang ada di ibukota Majapahit, negara maritim Indonesia dahulu. Mungkin juga, para pembuat keputusan Liège teringat pemain biola terkenal, kelahiran kota mereka, yaitu Eugène Ysaÿe, yang pertama kali memainkan karya Claude Debussy, String Quartet in G minor, yang dipengaruhi antara lain oleh musik gamelan. Siapa tahu.

Yang pasti, pameran Archipel telah dan masih mempesona ribuan pengunjung dan membuka ruang untuk berhubungan lebih jauh dengan Indonesia. Seperti dikatakan tim Europalia International di websitenya: -Sejarah Nusantara adalah sejarah begitu banyak hubungan dan keterhubungan, di mana yang jauh dan yang dekat berhimpitan … Laut lebih bersifat menyatukan daripada memisahkan dan musim angin memaksa para pedagang, penyebar agama, dan diplomat asing bermukim sementara, meninggalkan jejak dalam mitos, seni dan tradisi ….