Kolaborasi Bahari Makassar dan Mandar di Belgia di Europalia Arts Festival 2017

12 October 2017
Kolaborasi Bahari Makassar dan Mandar di Belgia di Europalia Arts Festival 2017


 

Ratusan kodi bungkusan berwarna biru terhambur di salah satu “battilang” (tempat pembuatan perahu) di Tana Beru, Bulukumba. Padanya tertempel dua kertas yang di atas tertulis huruf dan angka, kode-kode tertentu. Yang baru lihat mungkin bertanya isinya apa. Isinya, perahu!

Sepekan terakhir saya bersama Horst dan beberapa tukang perahu Bulukumba membongkar replika perahu padewakang, skala 1:1 (artinya: sesuai ukuran asli, panjang lebih 10 meter, lebar 3 meter, tinggi 2 meter) yang akan dikirim ke Belgia tanggal 25 September mendatang. Perahu yang tadinya sudah jadi harus dibongkar satu per satu bagiannya. Bagian-bagian perahu, yang mayoritas beristilah lokal alias susah mencari padanannya dalam Bahasa Indonesia, dilepas dengan hati-hati. Ditimbang dimensi, diukur beratnya, dibungkus dan catat. Begitu terus selama satu minggu penuh, dari pagi sampai sore. Sepertinya belum pernah ada kejadian begitu.

Bagi saya pribadi, juga Horst, ikut terlibat dalam persiapan ke Belgia, khususnya dalam proses pembuatan dan pembongkarannya adalah suatu keberuntungan. Bukan apa, meski kami berdua telah lama melakukan riset kemaritiman dan terlibat dalam beberapa even sejenis (mengirim perahu ke luar negeri), belum pernah sampai sedetail itu. Yang mengukur satu-satu bagian penyusun perahu. Selama ini paling bisa tebak-tebak berapa berat satu unit perahu dan berapa bagian-bagiannya. Tak pernah sampai detail. Dengan keterlibatan ini, kami berdua bisa riset gratis mencari tahu detail-detail itu.

Sebab harus mengirim perahu ke negara lain menggunakan pesawat, dan karena tak muat di pesawat, perahu harus dibongkar. Perahu yang sudah jadi itu dilepas. Seandainya itu sandeq, pertama harus dilepas tiang layarnya. Tiang layar itu diukur panjang dan beratnya. Lanjut ke “lapar”, “sanggilang”, “tombo”, “baratang”, “palatto” dan lain-lain. Perlu diingat, itu harus diukur satu-satu. Sebab satu-satu diukur, bisa diketahui ukurannya. Kalau sandeq mungkin jauh lebih mudah sebab jumlah bagiannya tak seberapa. Tapi ini perahu padewakang, jenis perahu yang dibuat dengan teknik menyusun banyak papan. Perkiraan saya, mungkin sandeq ga sampai 100 bagian. Sedang padewakang ini, dari hasil pencatatan, ada lebih 250 item. Jika didetailkan lagi, bisa lebih 300. 

Ternyata, berat perahu padewakang yang dibuat oleh tukang perahu Tana Beru tersebut sekitar 3,8 ton! Ya, angka itu tentu luar biasa. Bisa menjadi contoh kasus bahwa ternyata berat perahu itu sekian. Kalau sandeq lomba, mungkin beratnya tidak sampai 1 ton. Masih pakai istilah “mungkin” sebab memang belum pernah ada yang mengukurnya secara detail. Bukan hanya detail, tapi bisa merekam semua istilah-istilah perahu yang beberapa tukang perahu yang bekerjasama dengan kami membangun padewakang tak tahu apa istilahnya. Nanti tanya ke tukang yang lebih tua baru ditahu. Belum lagi rumus-rumus penyusunan lambungnya. Perahu padewakang akan dikirim ke Belgia dalam rangka Europalia Arts Festival 2017. Indonesia akan menjadi Guest Country pameran yang dilaksanakan tiap dua tahun tersebut sejak 1969, yang berpusat di Belgia dan beberapa negara Eropa, yakni Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Austria, dan Polandia. Festival Seni Europalia akan berlangsung selama tiga bulan, yakni pada 10 Oktober 2017 hingga 21 Januari 2018.

Europalia adalah pameran kebudayaan terbesar di Eropa. Selain kebudayaan bahari, juga akan ada 228 agenda budaya yang terdiri dari 69 pertunjukan tari dan teater, 71 pertunjukan musik, 36 karya sastra, 38 film, dan 14 pameran. Indonesia merupakan negara ASEAN pertama, sekaligus negara Asia keempat yang menjadi Guest Country dalam Festival Seni Europalia. Sebelumnya ada Republik Rakyat Tiongkok (RRT), India, dan Jepang, yang telah menjadi Guest Country di Festival Seni Europalia. Sebagai Guest Country Festival Europalia tahun 2017, Indonesia akan mengangkat tema "Heritage, Contemporary, Creation, and Exchange".

Rencana melibatkan kebudayaan bahari saya mulai dengar atau libati Januari 2017 lalu. Waktu itu saya, Horst dan beberapa ahli kemaritiman diminta ke Jakarta untuk mempresentasikan jenis perahu yang akan diusung ke sana. Waktu itu, saat pertemuan di Museum Nasional, juga muncul ide untuk membawa sandeq. Tapi karena alasan bahwa saat pameran diadakan masuk musim dingin, sandeq tidak akan bisa “dilayarkan” di sungai dekat museum. Pun sandeq membutuhkan sandeq ruang yang lebih luas dan tinggi, tidak muat di ruang museum yang tingginya hanya 7 meteran. Yang paling memungkinkan dan nilai historinya sangat penting adalah perahu padewakang.

Nantinya Indonesia menampilkan dua tema utama pameran di Festival Europalia, yaitu Pameran Ancestor dan Pameran Archipel. Pameran Archipel akan dilangsungkan di Museum la Boverie, Liege. Di Pameran Archipel itulah akan ditampilkan kebudayaan bahari Nusantara. Adapun yang akan menjadi pusat perhatian di Archipel adalah perahu padewakang. Sejatinya perahu padewakang yang ditampilkan mewakili dua hasil karya suku berorientasi maritim di Nusantara, yaitu Makassar dan Mandar. Badan perahu dibuat di Bulukumba, sedang bagian layar dan tali temali dibuat di Mandar. Layar “karoroq” yang terbuat dari daun gebang (“lanu” Bahasa Mandarnya) ditenun wanita di Kampung Lanu Campalagian. Tenunan itu selanjutnya dijahit menjadi layar oleh nelayan Pambusuang. Adapun tali yang terbuat dari ijuk dan sabut kelapa dipintal di Lambe, Karama.

Proses awal pembuatan dimulai akhir Maret 2017. Waktu itu, bersama Sekretaris Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Museum Nasional, Horst Liebner dan beberapa staf museum serta peneliti kemaritiman, Abdul Rahman Hamid, kami ke kediaman H. Jafar, “panrita lopi” ahli pembuat perahu Tana Beru, Bulukumba. Tujuan utama adalah memesan perahu padewakang. April, saya kembali datang ke Bulukumba untuk mendokumentasikan proses awal pembuatan.

Proses awalnya adalah penebangan pohon di hutan yang nantinya akan dijadikan balok lunas dan “sotting”. Itu saya lakukan bersama Urwa, relawan Armada Pustaka Mandar. Mendokumentasikan proses tebang pohon yang nantinya dibuat perahu beberapa kali saya lakukan, tapi kalau untuk dibuat untuk lunas pertama kali. Ini sangat penting sebab umumnya dewasa ini lunas perahu menggunakan kayu ulin yang berasal dari Kalimantan Timur. Rasanya mustahil untuk bisa mengikuti proses A sampai Z mendokumentasikan pohon ulin yang nantinya menjadi lunas.