Karinding Attack dan Uwalmassa Menggoyang Rotterdam

01 December 2017
Karinding Attack dan Uwalmassa Menggoyang Rotterdam


Karinding Attack dan Uwalmassa, dua band dari Indonesia, disambut hangat hadirin yang memenuhi WORM Rotterdam, Belanda, Sabtu 18 November. Penampilan mereka merupakan bagian dari Europalia, biennale terbesar Eropa yang diselenggarakan mulai 10 Oktober 2017 sampai dengan 21 Januari 2018 di tujuh negara Eropa, yaitu Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Belgia, Austria, dan Polandia. Indonesia mendapat kehormatan menjadi negara fokus festival untuk edisi Europalia kali ini.

Penampilan dua kelompok musik dari Indonesia tersebut menampilkan kombinasi ciamik antara musik tradisional dan modern Indonesia. Lebih jauh lagi, pertunjukan kali ini bertujuan untuk memberi panggung bagi suara-suara mentah non-mainstream dan (bisa dibilang) non-konvensional dari Indonesia. Berlokasi di pusat kota Rotterdam, WORM dikenal dengan programnya yang avantgarde—salah satunya program Pantropical yang edisi kali ini juga memberi sorotan pada musik Indonesia—merupakan tempat yang tepat untuk menggelar pertunjukan ini. Karena letaknya yang persis di pusat keramaian hiburan malam Rotterdam, tempat ini ramai dikunjungi orang yang mencari hiburan live music. Seorang perempuan setengah baya dengan rambut sepenuhnya memutih terlihat duduk santai menunggu pertunjukan dimulai. Marianne namanya, seorang perempuan Belanda yang menarik perhatian karena mengenakan sandal di malam yang bersuhu enam derajat Celcius tersebut. Ketika ditanya, dia menjelaskan pernah tinggal di Indonesia. Walaupun tidak kenal dengan band yang tampil malam itu, dia datang untuk sekedar bernostalgia. “Sangat menyenangkan bisa mengobrol dengan orang-orang yang juga kenal Indonesia dan semoga penampilan malam ini bisa menghibur,“ katanya.

Uwalmassa sebagai penampil kedua malam itu berhasil membangun suasana dengan musik fusion elektronik yang sangat kental bau tradisionalnya. Band beranggotakan anak-anak muda dari Jakarta ini memang menggunakan musik dan bebunyian tradisional sebagai titik tolak, dengan menggunakan pelbagai sample bunyi instrumen tradisional. Titik sentralnya pada perkusi, yang juga dimainkan live dan direkam langsung saat pertunjukan. Dengan cara yang tidak biasa, kombinasi sejumlah unsur itu dibangun menjadi musik ekletik yang sangat ritmis. Mereka yang dekat dengan musik tradisional Jawa akan mengenali polanya. “Kita kepingin melestarikan warisan musik Indonesia, dengan cara yang kita tahu. Sayang memang, musik semacam ini lebih banyak dihargai di luar negeri,” kata Harsya Waluyo dari Uwalmassa.

Bagaimana bisa sampai tampil untuk Europalia? “Yah bisa dibilang keberuntungan juga ya.” kata Harsya. “Ini tur pertama kita, sebelum ini baru dua kali tampil di Jakarta. Kita hitungannya kan band baru. Tapi kita rajin kirim-kirim sampel kerjaan juga ke promotor-promotor di luar negeri. Tahun lalu, didekati salah seorang promotor dari sini yang tertarik sama karya kita. Mereka yang mengusahakan ke panitia Europalia di Indonesia supaya kita ikutan tur kemari.”

“Kita senang sekali bisa ikutan festival ini. Kita dapat kesempatan manggung di venue yang memang benar-benar bergengsi, kayak di Berghain, Berlin itu,” kata Randi dari Uwalmassa menimpali.

Ketika ditanya apakah ada perbedaan antara penonton di negara yang satu dengan negara yang lain selama festival di Eropa ini, Harsya menjelaskan, “Memang reaksi penonton beda-beda ya. Ada yang kalem banget, tidak bergerak, tidak bersuara karena mungkin terbiasa dengan cara nonton konser yang penuh konsentrasi begitu, tapi banyak juga yang tidak ragu-ragu langsung larut sama musik kita. Tergantung venue-nya dan tergantung promosi penyelenggara acaranya sih, kita bakal dapat penonton seperti apa. Kita harus pintar-pintar membaca reaksi penonton. Anyways, kita juga selalu improvisasi kok bahkan pas manggung.”

Tapi sepertinya puncak pertunjukan malam itu adalah penampilan Karinding Attack yang membuat penonton larut dalam keriaan musik heavymetal. Dibentuk tahun 2000, band yang sebenarnya masih merupakan proyek ini, terdiri dari sembilan anggota. Kelompok yang juga dikenal dengan nama Karat ini mempromosikan budaya dan suara Sunda dengan memainkan lagu menggunakan instrumen bambu bikinan sendiri dan cara bermain karinding yang khas, memainkan lagu-lagu metal.

Semakin malam, ruangan konser di WORM yang cukup menampung sekitar 500 orang itu semakin ramai. Sebagian besar penonton tidak kenal sebelumnya dengan para penampil dari Indonesia. “Saya datang karena Pantropical, tidak tahu menahu soal band yang akan tampil. Tapi ini keren banget, saya tidak sangka band Indonesia ada yang seperti itu. Kamu dari Indonesia, banyak yang seperti ini di sana? ” kata Matjaz, fotografer muda asal Slovenia balik bertanya.

Diwawancara sebelum manggung, pentolan band Karinding Attack yang dikenal dengan nama Man Jasad mengatakan tidak ada misi tertentu yang dibawa dalam tur Eropa kali ini. “Ya memang mau memperkenalkan kekayaan musik Indonesia, tapi misi utamanya dari dulu sampai sekarang tidak berubah, yaitu menyenangkan orang, menyenangkan penonton. Kalo band lain heavymetal, kita ini happymetal, “ katanya berseloroh.

Bagaimana tanggapan penonton sejauh ini? “Kita waktu di Berlin diminta balik ke panggung tiga kali! Satu dua kali udah biasa, ini tiga kali, wah rekor ini, diminta kasih encore tiga kali pertama kali, di Eropa pula,” kata Kimung, anggota lainnya.

Sebelum tampil di Rotterdam, baik Uwalmassa maupun Karinding Attack sudah tampil di Berlin, Gent, dan Brussels, bersama dengan artis-artis lainnya seperti Tarawangsawelas dan Rabih Beaini, Otto Sidharta juga dalam rangka festival Europalia. Acara ditutup dengan DIVISI62 (label Uwalmassa) yang tampil sebagai DJ bersama MADROTTER (Henk den Toom), DJ asal Rotterdam yang berdomisili di Bandung selama 20 tahun terakhir.

Oleh Rina Sitorus