KETIKA KOMIKUS INDONESIA BERTEMU (CALON) KOMIKUS BELGIA

04 December 2017
KETIKA KOMIKUS INDONESIA BERTEMU (CALON) KOMIKUS BELGIA


 Mereka datang tanpa diduga. Sendiri maupun berkelompok. Penampilan mereka seperti layaknya seniman, dengan tas ransel di pundak dan buku sketsa serta pensil di tangan, mereka siap menggambar kapanpun dan dimanapun. Kehadiran mereka sempat membuat panitia panik. Maklum, walaupun acara yang dipersiapkan hari itu terbuka untuk publik dan bisa diikuti oleh siapa pun, kehadiran kelompok seniman muda itu cukup mengejutkan.

Sebulan sebelum Europalia Indonesia dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden RI Jusuf kalla, sejumlah acara-acara pendukung memang sudah dimulai. Bertempat di gedung bersejarah Dynasty Palais, di kaki bukit Mont Des Arts di jantung kota Brussels, Europalia Festival Centre menjadi pusat informasi serta pusat aktivitas-aktivitas pendukung selama berlangsungnya Europalia Indonesia hingga januari 2018 mendatang. = 

Di Europalia Festival Centre lah pada 7 Oktober 2017 lalu berlangsung acara workshop komik berjudul Cutting Paper with Yudha Sandy. Yudha adalah satu dari sejumlah seniman komik yang diundang hadir dalam rangkaian festival seni Europalia Indonesia di Brussels.  Pemuda asal Jogjakarta tersebut datang lebih awal untuk menyelesaikan sebuah mural di Centre Culturel Strombeek serta menyiapkan pameran karyanya di MuntPunt Brussels. Kedua acara tersebut masuk dalam rangkaian acara Europalia Indonesia.

Sambil mempersiapkan karya di dua tempat tersebut, Yudha kemudian didaulat untuk mengisi acara workshop yang awalnya dipersiapkan untuk anak-anak. Untuk memudahkan kegiatan workshop gunting kertas ini, panitia sengaja memilih tema ringan yaitu interpretasi cerita rakyat Timun Mas. Para peserta diminta membaca ringkasan cerita Timun Mas lalu bersama dengan Yudha, membuat cerita versi masing-masing dengan cara menggunting kertas.

Kejutannya datang kemudian. Tidak ada anak-anak yang jadi peserta workshop. Anak-anak yang dibayangkan panitia mewujud dalam seniman-seniman muda yang datang dari berbagai sekolah komik yang ada di Brussels. “Profesor kami menganjurkan datang ke workshop ini untuk belajar dan berkenalan dengan komikus Indonesia,” kata Louise Ploderer, pelajar komik dari École Supérieure des Arts Saint-Luc de Bruxelles.  

Louise datang bersama beberapa koleganya sesama mahasiswa seni jurusan komik. Selain mereka, beberapa mahasiswa  jurusan komik dari beberapa sekolah tinggi lainnya seperti Académie royale des Beaux-Arts de Bruxelles serta École nationale supérieure des arts visuels de la Cambre juga datang meramaikan. Workshop komik Cutting Paper with Yudha Sandy juga dihadiri oleh publik biasa maupun sejumlah pencinta komik serta praktisi seni. “Saya bekerja sebagai ilustrator bagian artistik di Shadow Theater. Saya tertarik datang karena teknik cutting paper juga sering saya gunakan dalam membuat dekorasi panggung teater bayangan tempat saya bekerja,” kata Marina Struillou.

Secara teknis, para peserta yang datang tidak punya kesulitan dalam memvisualisasikan Timun Mas. Kita bisa melihat bahwa setiap seniman komik punya gaya dan karakter sendiri-sendiri dari hasil workshop hari ini,” kata Yudha Sandy yang juga memboyong sejumlah contoh karya-karyanya, khususnya Atom Jardin, karya komiknya yang memenangkan Kosasih Award sebagai Komik Terbaik tahun 2015 lalu.

Setelah mengikuti workshop dan mendengarkan pengalaman Yudha merintis karir sebagai seniman komik, mereka sepakat bahwa untuk menjadi komikus tidak cukup hanya bakat. “Ketekunan, kegigihan, kesabaran, konsistensi serta kreativitas untuk terus berkarya tidak hanya melalui jalur yang diajarkan dunia akademis,” kata Anaïs Rouzier menyimpulkan. “Saya sendiri tidak akan cukup sabar memotong-motong kertas untuk membuat komik. Kesabaran ini yang harus saya contoh dari seniman seperti Yudha Sandy,” tambah Anaïs.

Pendapat yang sama juga dilontarkan oleh Maximilien Van De Wiele. Pelajar komik asal Prancis ini mengaku kagum dengan kegigihan dan ketekunan Yudha memproduksi dan menerbitkan sendiri sejumlah karya-karyanya. Seperti yang diajarkan di sekolah, target utama kami tentu saja membuat karya yang akan diterbitkan di penerbit-penerbit komik seperti Casterman. Do It Yourself masih belum dianggap terlalu serius. Tapi mungkin itu adalah jalan alternatif yang harus kami pikirkan lebih serius,” kata Maximilien.

Selain kegiatan workshop yang mengajak para peserta untuk mengadaptasi cerita rakyat Timun Mas, acara hari itu menjadi ajang perkenalan antara komikus-komikus muda Belgia yang berasal dari sekolah yang berbeda. Di antara pertukaran informasi dan pembicaraan hangat setelah berakhirnya acara, sejumlah undangan untuk berkolaborasi direncanakan secara informal. Mengamini harapan panitia, semoga workshop ini mewujud jadi sesuatu yang produktif dan berkelanjutan. *** 

Oleh Asmayani Kusrini