Komik Indonesia dan Imajinasi Sebuah Bangsa

04 December 2017
Komik Indonesia dan Imajinasi Sebuah Bangsa


 Pameran Sejarah Komik Indonesia terbesar dan terlengkap di Eropa dibuka dengan sejumlah pujian pada 21 November 2017 lalu di Bibliotheca Wittockiana, Brussels. Pameran bertajuk Equatorial Imagination: Indonesian Comics 1929–2017  yang merupakan bagian dari Europalia Arta Festival Indonesia yang diresmikan dengan pemotongan tumpeng oleh Yuri Thamrin, Duta Besar Indonesia untuk Belgia itu memang istimewa.

Jarang ada yang tahu bahwa nun jauh ribuan kilometer dari Belgia, tanah yang dikenal sebagai pusat komik Eropa itu, ada pergerakan komik yang begitu dinamis dan produktif. Pernyataan kekaguman dari pengunjung pembukaan pameran pada malam itu dirangkum dengan tepat oleh Koen Clement, Direktur Europalia.

“Pameran sejarah komik Indonesia ini menggerakkan pandangan kita ke arah horison lain  dan membuka wawasan baru. Pameran ini menancapkan posisi Indonesia di peta komik dunia internasional sebagai karya seni yang patut bersanding dengan karya-karya komik lain,” kata Koen. Koen Clement tidak mengada-ada.

Dalam rentang waktu antara tahun 1972, ketika Marcel Bonneff, peneliti komik Prancis yang menulis disertasi doktoralnya tentang komik Indonesia hingga 2015, ketika Komik Indonesia ditampilkan di Frankfurt Book Fair 2015 di antara buku-buku sastra Indonesia,  komik Indonesia masih menjadi sesuatu yang dibicarakan selintas tapi nyaris tak terjangkau publik secara luas. 

Pun ketika Paul Gravett, peneliti komik dari Inggris memasukkan, Wayang Purwa oleh komikus Ardisoma dalam bukunya 1001 Comics You Must Read Before You Die yang kemudian diterbitkan pada 2011, komik Indonesia hanya tercatat namun tak tampak. Selain minimnya data dan sumber penelitian tentang komik Indonesia, salah satu kendala membuat sejarah komik Indonesia sulit untuk dihadirkan secara utuh tentu saja karena pengarsipan komik yang masih sporadis.

“Sekarang kebanyakan terkumpul di tangan para kolektor,” jelas Hikmat Darmawan, Hikmat bertindak sebagai kurator komik yang mewakili Indonesia bekerja sama dengan Michel Wittock yang mewakili pihak Europalia Belgia. Terwujudnya pameran ini tidak lepas dari campur tangan sejumlah ahli serta kolektor komik Indonesia termasuk penulis ternama Seno Gumira Ajidarma, Iwan Gunawan, dan tim produksi Adyaksa yang koleksi komiknya termasuk dipamerkan dalam Equatorial Imagination.

Dalam konteks inilah Equatorial Imagination: Indonesian Comics 1929–2017 menjadi pameran yang bersejarah. Untuk pertama kalinya, komik Indonesia hadir di tengah-tengah masyarakat Eropa secara fisik dengan metode periodisasi kronologis yang komprehensif.  Menurut Hikmat, bahkan masyarakat Indonesia pun belum pernah menyaksikan sejarah komik secara lengkap seperti ini.

“Di Frankfurt Book Fair 2015, sejarah komik juga dihadirkan secara kronologis tapi dengan skala yang lebih kecil. Di Bibliotheca Wittockiana Brussels, sejarah komik Indonesia dihadirkan dalam periodisasi yang memudahkan pengunjung memahami konteks ketika komik-komik itu dibuat,” jelas Hikmat.

Para undangan yang hadir pada pembukaan pamerantermasuk sejumlah petinggi Europalia Belgia, Duta Besar, undangan khusus serta sejumlah seniman komik Belgia dan juga Paul Gravett, peneliti komik asal Inggris yang khusus datang ke Wittockiana malam itu—cukup terkejut dengan koleksi komik yang dihadirkan. “Pameran Equatorial Imagination ini harus dibawa berkeliling, jangan hanya di Belgia tapi juga di kantong-kantong komunitas komik Eropa lainnya,” kata Gravett.  Pernyataan Paul Gravett adalah pujian sekaligus saran yang tidak bisa diabaikan.

Lebih dari 100 contoh komik-komik Indonesia, baik yang asli maupun yang reproduksi ulang ditampilkan dalam empat periodisasi, yaitu fase perintis antara tahun 1929–1953, periode awal produksi komik strip setelah euforia kemerdekaan antara tahun 1954–1963, zaman keemasan komik strip di tahun 1964 hingga 1980an dan periode independen komik di dunia digital sejak tahun 1990 hingga saat ini.

Dengan periodisasi tersebut, Equatorial Imagination membawa pengunjung pada sejarah komik Indonesia beriringan dengan konteks ketika Indonesia masih menjadi benih yang kemudian lahir dan tumbuh menjadi bangsa modern seperti yang kita kenal saat ini. Dinamika hubungan antara sejarah bangsa dan sejarah imajinasi visual melalui komik ini terasa kental sejak dari panel-panel awal yang menghadirkan sejumlah ilustrasi asli majalah Sin Po terbitan tahun 1929 hingga panel-panel akhir yang menampilkan karya-karya kontemporer seniman visual seperti Sheila Rooswitha Putri, Tita Larasati, hingga Eko Nugroho.

Tidak hanya itu, pameran komik Indonesia yang merupakan harta karun budaya Indonesia yang selama ini tersembunyi dari publik Eropa juga digelar di sebuah museum  yang unik. Beberapa pengunjung mengaku tidak tahu ada Museum di antara jejeran rumah-rumah villa di kawasan elite tepi Taman Woluwe.  Bibliotheca Wittockiana adalah perpustakaan sekaligus museum yang didedikasikan untuk para pencinta buku alias bibliophile. Wittockiana juga dianggap sebagai Brussels hidden treasure yang menyimpan banyak manuskrip-manuskrip berharga dan langka. Di Bibliotheca Wittockiana-lah tersimpan kumpulan sketsa dan gambar asli  komik Les Cités Obscures karya komikus Belgia ternama, François Schuiten. Hadirnya komik Indonesia di museum Wittockiana, tempat yang sama yang menyimpan panel asli  karya komikus Belgia, bisa jadi sebuah pertanda baik.***