KE PASAR RAYA BUKU LAGI

13 December 2017
KE PASAR RAYA BUKU LAGI


Mampir sejenak ke Frankfurt Book Fair (FBF) 2017, naik kereta dari Brussels ke Frankfurt selama sekitar tiga jam perjalanan. Lalu, menikmati dua hari terakhir pasar raya buku internasional ini. FBF masihlah sebuah pasar raya yang meriah. Dua tahun lalu, pada FBF 2015, Indonesia jadi Tamu Kehormatan. Kali ini, Prancis yang jadi tamu kehormatan.

Seperti biasa, paviliun di gedung Forum FBF menjadi pusat pameran negara kehormatan. Indonesia dua tahun lalu merancang paviliun dengan elemen-elemen etnik yang telah distilisasi seperti piksel komputer yang telah dihaluskan. Paviliun Indonesia saat itu tampil elegan dengan warna dominan hitam. Karena waktu itu saya sibuk mengurusi program dan kurasi pameran komik, saya tak banyak berkomentar soal desain. Waktu itu, hanya sempat membatin, mengapa tak lebih beraneka warna, sesuai karakter tropis negeri kita?

Desain paviliun Prancis saya kira kalah elegan dari desain paviliun Indonesia. Yang dominan adalah rak kayu nyaris tanpa furnish dan stilisasi apa-apa. Kesannya, labirin kayu yang sempit. Tapi, kelebihannya adalah materi buku yang dipamerkan memang banyak sekali. Hal ini terkait dengan banyaknya buku dari Prancis yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, atau minimal bahasa Inggris. Di samping, tentu saja, cerminan industri buku yang besar dari Prancis.

Melihat itu mau tak mau saya terantuk pada sebuah renungan standar yang rutin muncul setiap kali berurusan dengan pameran atau festival buku internasional seperti FBF ini: betapa sedikit dan alitnya industri buku kita dari tahun ke tahun. Pada 2016, total pengunjung FBF adalah 278.023 orang. Di antara total pengunjung itu, 172.296 orang adalah pengunjung untuk tujuan dagang, dari 125 negara. FBF memang selalu membagi acaranya menjadi dua: tiga hari pertama untuk para pebisnis buku, dan dua hari terakhir adalah untuk umum.

 Stand dan program Indonesia di FBF sejak 2015 diselenggarakan oleh sebuah komite khusus di bawah naungan Kemendikbud, yang sejak 2016 bernama Komite Buku Nasional (KBN), diketuai oleh Laura Prinsloo. Menurut mereka, minat agen dan penerbit internasional pada buku Indonesia sebetulnya meningkat tahun ini. Tapi, KBN masih harus berjuang keras dalam hal pendanaan untuk membuat program seperti di FBF ini. ***