Jogja Hiphop Foundation: Grup Hiphop Sejuta Paradoks

13 December 2017
Jogja Hiphop Foundation: Grup Hiphop Sejuta Paradoks


 Jogja Hiphop Foundation: Grup Hiphop Sejuta Paradoks

 
Teks: Rina Sitorus
Foto: Rina Sitorus
Words: 882
 
Yogyakarta tidak bisa dipisahkan dari diskusi seni budaya Indonesia. Walaupun merupakan provinsi terkecil dibanding provinsi lainnya di Jawa, sumbangsihnya sangat besar dalam dunia seni budaya Indonesia. Yogyakarta terkenal di mata dunia internasional sebagai ‘penghasil’ karawitan, wayang, dan tari-tarian klasik seperti tari Serimpi.  Tapi Yogyakarta bukanlah kota yang steril dan tertutup.  Salah satu pusat seni dan budaya Indonesia ini juga dikenal sebagai penghasil band-band pop kondang seperti Sheila on 7, Jikustik, atau Shaggy Dog. 
 
Dari Yogyakarta pula Jogja Hiphop Foundation berasal. Grup hiphop yang saat ini beranggotakan Kill the DJ (Marzuki Mohammad), Rotra (Janu Prihaminanto), Mamox (Heri Wiyoso), dan Balance (Perdana Putra) dengan segala paradoks yang mereka punya seperti menjadi simbol keberagaman Yogyakarta. Pertama, JHF membawakan musik hiphop yang khas Amerika dengan lirik berbahasa Jawa. Karena seperti dikatakan Marzuki, “Ngerap paling enak itu dalam bahasa ibu sendiri.”  
 
Paradoks yang berikutnya adalah meski berasal dari Yogyakarta, JHF tidak membawakan musik tradisional, dan meskipun tidak membawakan musik tradisional, JHF populer di luar negeri. Seperti yang kita tahu, dunia barat sepertinya masih lebih mengistimewakan musik tradisional khas Indonesia dibanding musik pop. Tapi JHF adalah salah satu yang membuktikan sebaliknya. Grup ini sering diundang ke panggung-panggung internasional, antara lain ke Singapura tahun 2009, ke tempat lahirnya hiphop: New York, dan San Fransisco pada  2011, serta ke Belanda dan Belgia dalam rangka Festival Europalia 2017. 
 
Bagi Marzuki Mohamad yang ditemui setelah tampil di Deventer, Belanda, walaupun hiphop dan rap menekankan pada lirik, tidak jadi masalah bahasa apapun yang digunakan di panggung manapun.  “Bahasa itu bagian dari musik, yang merupakan bagian dari bunyi. Yang lebih penting itu energi dan vibe yang kita sampaikan. Pengertian itu nomer sekianlah.  Itu tugas akademisilah, bukan tugas kita,” kata Marzuki.
 
Menarik juga mendengar tanggapan pendiri JHF ini karena kelompok ini dikenal sebagai band yang lumayan kritis. Melalui penampilan dan aktivitas mereka di luar panggung JHF menunjukkan keterlibatan mereka dalam advokasi keadilan sosial, kebebasan berpendapat, HAM dan pemerintahan bersih. Ini juga memunculkan paradoks tersendiri sebenarnya. Tapi tidak bisa dipungkiri, “Mengerti tanpa menerima itu susah. Kalo orang sudah menerima, baru dia mau cari tahu lebih. Jadi yang penting orang bisa menerima energi dari musik kita dan bisa menikmati.” 
 
Marzuki melanjutkan, “Kita itu menghadapi panggung gimana pun ya kita nikmati panggung kita sendiri. Kalo kita sendiri enjoy, orang juga akan menikmati meskipun mungkin mereka gak mengerti apa yang kita katakan. Tadi sih (penampilan di Burgerweeshuis Deventer) asyik. Ada beberapa lagu baru yang sebenarnya berat, tapi kita mau coba juga dan penonton bisa menikmati. Kita ngajak interaksi bisa, ngajak orang joget bisa. Itu artinya kita enjoy dan penonton menikmati. Seluruh penonton menangkap energi yang kami berikan, semua joget mengikuti musik hip hop dalam bingkai mantra-mantra Jawa. Seni selalu bisa menjembatani perbedaan, membangun kesepahaman, memanggil jiwa manusia untuk saling berbincang dalam bahasanya sendiri. “
 
Ketika ditanya soal proses kreatif dalam band, Marzuki menjawab, “Ide bisa dari siapa aja. Tinggal bagaimana mengawal konsep tersebut supaya bisa tereksekusi dengan baik hingga orang bisa menikmati energi musik tersebut.” Bagi mereka, JHF adalah realitas, bukan sekadar produk yang diciptakan. Marzuki menuturkan, “Kami selalu menikmati musik dan panggung dengan gairah yang penuh dan jujur. Kami percaya bahwa kejujuran akan membawa penonton masuk ke dalam jiwa pertunjukan dan mengikis segala perbedaan, termasuk bahasa.” 
 
Marzuki mengoleksi puluhan kitab berbahasa Jawa sebagai sumber inspirasi. “Salah satu bentuk pertanggungjawaban saya adalah menghidupkan bahasa ibu, untuk saya berarti bahasa Jawa.” Marzuki bercerita dia mulai tertarik mempelajari kitab berbahasa Jawa ketika berada di Prancis tahun 2000 untuk belajar musik elektronik. “Mungkin karena di luar negeri, maka bahasa dan budaya Jawa menjadi hal penting. Sempat malu, karena saya tidak tahu apa-apa tentang budaya dan bahasa ibu sendiri.”
 
Marzuki sendiri merupakan sosok yang jika dilihat sekilas penuh dengan paradoks. Seperti ketika ia bisa sangat terlibat sekaligus segera mengambil jarak, sebagaimana di pilpres 2014 Marzuki sebagai Kill the DJ tercatat sebagai musisi pertama yang membuat lagu dan video dukungan untuk kampanye Jokowi, untuk kemudian segera mundur setelah pilpres selesai, untuk mengawasi amanah kekuasaan. ”Menjadi relawan Jokowi buat saya adalah membantu diri sendiri karena dia adalah simpul bagi energi-energi positif yang kita miliki untuk Indonesia yang lebih baik.”
 
Paradoks berikutnya muncul dari keinginan Marzuki untuk bekerja sama dengan pemerintah. Sebenarnya band sudah cukup sukses membina kontak dan membuka jalan untuk tur dan rekaman di luar negeri dengan jaringan sendiri. Masalahnya pemerintah Indonesia harus belajar banyak soal potensi industri kreatif seperti ini. “Harusnya pemerintah punya strategi industri kreatif yang terencana dan targetnya terukur. Misalnya lima tahun ke depan sudah harus sampai dimana. Kayak industri Kpop dalam 20 tahun sudah harus mendunia, semacam itu,” demikian Marzuki.
 
Ketika disanggah dengan pernyataan bahwa pemerintah rajin mengadakan perhelatan berskala internasional dan mengundang para musisi luar negeri serta mengirim musisi Indonesia ke luar negeri, Marzuki menjawab, “Oke, itu benar, dan mungkin dampak ekonominya juga sudah terasa, tapi target jangka panjang yang terukur itu harus ada. Dan itu butuh strategi yang rigid dan disiplin, bukan yang kesannya impulsif begitu.” 
 
Satu lagi yang sangat penting, jika sudah jelas tujuannya, tujuan tersebut harus dipahami oleh semua pelaku dalam industri kreatif itu sendiri. “Kita kan gak tahu tujuannya apa. Jadinya sekarang kalau bisa bareng sama pemerintah ya hayuk, kalau enggak ya kita jalan sendiri aja.”
 
Jogja Hiphop Foundation melangsungkan tur Eropa 5 s/d 14 Desember 2017 sehubungan dengan Festival Europalia 2017 bersama Filastine & Nova  dan DJ Bayu.