Jembatan Tradisi Melalui Maskulinitas : Catatan dari program Male Solos, Festival Seni Europalia Indonesia

21 December 2017
Jembatan Tradisi Melalui Maskulinitas : Catatan dari program Male Solos, Festival Seni Europalia Indonesia


  Di atas panggung, dia seperti makhluk yang bermetamorfosis. Dari wayang dengan dalang tak terlihat, makhluk bersayap yang keluar dari cangkang, topeng monyet yang hilir mudik menghibur, hingga makhluk yang terperangkap dalam jaring yang mencoba untuk kembali tegak berdiri. Kelenturan tubuh Mugiyono Kasido menunjukkan keahliannya terhadap olah tubuh yang makin terlihat ketika elemen-elemen tubuhnya seperti bergerak sesuai kehendak sendiri.

Tangan-tangan yang bergerak kesana kemari, kaki-kaki yang berontak, tubuh yang menggelinding liar, semua dilakukan oleh anggota badannya sendiri. Metamorfosa Mugiyono Kasido di panggung berlatar belakang hitam pekat itu terasa lengkap dengan ekspresi wajahnya yang juga berubah-ubah. Dengan kostum kaos oblong putih dan celana pendek warna senada, Mugiyono kembali memikat penonton Brussels, Sabtu malam, 9 Desember 2017, di ruang Studio BOZAR, Brussels, Belgia. Malam itu, Mugiyono menampilkan aksi panggung solo bertajuk Kabar Kabur atau The Rumors.

Ruangan berkapasitas 210 kursi tersebut seperti ikut berpartisipasi dengan elastisitas dan dinamisme penguasaan panggung Mugiyono. Sesekali ruangan studio terasa lengang namun bisa tiba-tiba riuh dengn gelak tawa ketika Mugiyono beraksi dengan ekspresi wajah maupun tubuhnya. Ekspresinya yang jenaka namun kadang berubah-ubah menjadi ekspresi takut, malu, segan, seiring dengan olah tubuhnya yang seperti adonan yang bisa berbentuk apa saja membuat penonton tak segan-segan mengumbar tepuk tangan.

Koreografer asal Klaten, Jawa Tengah ini bukan seniman tari yang asing bagi para penggemar seni pentas di Brussels. Sebelum tampil di Europalia Indonesia 2017, Mugiyono sebelumnya sudah pernah tampil di Les Brigittines Bruxelles dalam rangka festival seni tahunan, KunstenFESTIVALdesArts di tahun 2003. Waktu itu Mugiyono menampilkan salah satu karya solonya yang paling mengesankan, Looking For Temple Eyes / Mencari Mata Candi.

“Saya sudah pernah menyaksikan penampilan Mugiyono sebelumnya beberapa tahun lalu. Performanya itu masih membekas diingatan saya sampai sekarang. Jadi waktu saya lihat dia mau tampil di sini, saya langsung membeli tiketnya jauh-jauh hari,” kata Mathilde, seorang guru tari yang berasal dari  Leuze-en-Hainut, kota kecil di bagian Wallonia Belgia.

Mathilde lagi-lagi terpukau dengan pertunjukan Mugiyono malam itu di Bozar. Ia membandingkan Mugiyono dengan banyak penari-penari kontemporer yang biasanya lebih fokus pada mewujudkan ide dan konsep. “Mugiyono punya akar tari yang kuat dari tradisi Indonesia, sekaligus juga punya ide dan konsep yang matang dalam setiap karyanya. Kombinasi dua pondasi seni ini yang membuat karya-karyanya selalu punya nilai lebih,” tambah Mathilde.

Menurut Mathilde, The Rumors pun kembali memadukan konsep dan tradisi untuk mengkritik fenomena sosial yang terjadi di Indonesia. Sentilan terhadap situasi sosial selama rezim orde baru dan setelah tumbangnya kejayaan Soeharto terutama terasa saat Mugiyono memperagakan gaya militer, tegak berdiri sambil memberi hormat dengan tangan yang berganti antara kiri dan kanan. Guyonan ini menjadi berbahaya ketika ada pistol yang ditodongkan ke kepala. The Rumors kemudian menjadi monolog sekaligus dialog tentang sebab akibat dalam bentuk aksi panggung solo. 

Meskipun terkemas dalam penataan panggung dan kostum minimalis kontemporer, The Rumors terasa kental dengan tradisi wayang, gerak tari tradisional, dan ledhek kthek, kesenian tradisional yang menggunakan monyet sebagai performer.

Menurut keterangan Nuri Aryati, Direktur program Mugi Dance, The Rumors adalah salah satu karya Mugiyono yang paling banyak dipentaskan di berbagai kota dan benua. The Rumors sudah dipentaskan sekitar 140 kali di Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika. Penampilan Mugiyono di BOZAR menambah panjang daftar pementasan The Rumors.

Berasal Dari Tradisi

The Rumors karya Mugiyono Kasido adalah satu dari beberapa karya yang ditampilkan di BOZAR dalam program Male Solos, salah satu program seni panggung untuk Europalia Indonesia. Sesuai namanya, Male Solos menampilkan sejumlah penari dengan karya-karya solo mereka. Selain Mugiyono Kasido, program ini juga menampilkan penari  I Gede Radiana Putra, Kurniadi Ilham dan Moh. Hariyanto.

Menurut Arco Renz, penari sekaligus koreografer asal Jerman yang menjadi kurator tari Europalia Indonesia, program Male Solos dibuat untuk menunjukkan bahwa dunia tari, khususnya di Indonesia tidak hanya didominasi oleh perempuan. Dalam benak orang-orang Eropa khususnya, terbentuk semacam stereotype bahwa panggung tari Indonesia di dominasi oleh perempuan.

Tarian-tarian tradisional di Indonesia, khususnya yang ditampilkan di depan-depan turis di daerah-daerah pariwisata, menurut Arco selalu menampilkan perempuan. Maka untuk menggeser anggapan tersebut, Arco memilih penari-penari laki-laki yang tampil solo yang menampilkan berbagai macam tarian tradisional dan kontemporer.

Sebagai pembuka program Male Solos, tampil pertama kali adalah I Gede Radiana Putra yang menampilkan Baris Tunggal, tarian bela diri tradisional dari Bali yang biasa ditampilkan di panggung-panggung pesta rakyat di Bali. Tari Baris Tunggal diciptakan seperti ritual untuk mengedepankan peran kstaria atau pejuang laki-laki yang hendak maju ke medan perang.

Berpakaian tradisional yang lazim dikenakan para penari Baris, I Gede Radiana Putra tampil diiringi gamelan yang menghentak-hentak. Tubuh dan matanya ikut bergerak sesuai hentakan musik yang rancak. Tarian Baris sudah sangat popular di kalangan masyarakat dunia termasuk warga Belgia, khususnya bagi mereka yang sudah pernah ke Indonesia. Bagi penonton, kehadiran I Gede Radiana Putra dengan tari Baris menjadi semacam pelepas rindu sekaligus nostalgia.

“Saya jadi kangen dengan Bali,” kata Clarisse, seorang pelajar muda asal Mechelen yang pernah bertandang bersama orang tuanya ke Bali. Simon dan Christine, orang tua Clarisse yang juga hadir malam itu mengamini pernyataan Clarisse. « Lewat tarian Baris, kami merasa dilempar kembali ke tahun 2004 ketika pertam kalinya kami mengunjungi Bali, » kata Simon. Tahun itu, mereka datang tanpa tahu apa-apa tentang Bali kecuali melalui buku perjalanan. Ditemani seorang guide lokal, mereka dibawa menyaksikan berbagai pertunjukan tradisional Bali termasuk tari Baris. Sejak itu, hampir dua tahun sekali, mereka ke Indonesia, tidak hanya mengunjungi Bali, tapi juga daerah-daerah lain di Indonesia.

Selain mengagumi tarian tradisional, pengunjung malam itu juga mengapresiasi tarian kontemporer karya koreografer muda seperti Sherli Novalinda. Melalui penari Kurniadi Ilham, Sherli menampilkan In The Footsteps of The Body, aksi tunggal dengan tata panggung minimalis dan lingkaran warna-warni seperti papan target memanah sebagai pusat. Sebagai karya kontemporer yang minimalis, In The Footsteps of The Body terbuka lebar untuk interpretasi tergantung referensi kultural masing-masing penonton.

Dengan menggunakan simbolisme lingkaran, karya dosen seni tari ISI Padangpanjang ini mengingatkan pada Enso, simbol lingkaran kehidupan dalam filosofi Zen. Enso, yang dalam bahasa Jepang berarti lingkaran, adalah praktis seni lukis dengan tinta dan kuas, menggambar lingkaran dalam satu sapuan.

Menggambar Enso dipercaya sebagai praktis spiritual yang membutuhkan konsentrasi tinggi untuk menghasilkan enso sesuai dengan yang diinginkan, sempurna maupun tidak sempurna. Namun inti enso yang sesungguhnya adalah proses melingkar, lingkar kehidupan yang mulai dari membebaskan tubuh, jiwa dan raga untuk memulai proses kreasi  dalam segala bentuk dan kemudian kembali ke asal ketika proses itu sudah tercapai atau selesai.

In The Footsteps of The Body, proses itu dimulai ketika Kurniadi Ilham memasuki panggung, membebaskan diri dari pakaian yang dikenakannya, kemudian memasuki lingkaran untuk memulai proses kreasi olah tubuh yang bebas mencari bentuk estetika, simetris maupun asimetris. Sang penari tidak hanya bebas mencari bentuk estetik, ia juga menapak tilas keseimbangan fisik maupun spiritual, ragawi maupun rohani melalui fungsi-fungsi tubuhnya.

Ketika napak tilas itu selesai, sang penari kembali ke kondisi asalnya, persis seperti lingkaran enso. Dan seperti simbolisasi enso yang pada dasarnya jarang sempurna dalam filososfi zen, tibanya sang penari ke kondisi awal bukan berarti ia kembali ke titik nol, tapi ia mencapai titik yang pernah diawalinya.

In The Footsteps of the Body, kolaborasi antara Sherli Novalinda sebagai koreografer dan Kurniadi Ilham sebagai penari, mengundang kebingungan sekaligus kekaguman. “Karya seperti ini tidak bisa disimpulkan dalam kata suka atau tidak suka. Karya ini mengundang untuk diinterpretasi melalui sebuah petunjuk awal, lingkaran di tengah panggung,” kata Curtis Schmidt, seorang pengusaha muda yang juga mengaku sebagai pengamat seni panggung kontemporer.

“Sayangnya, saya tidak punya banyak referensi tentang seni tari di Indonesia. Di selebaran program ini, saya baca bahwa karya ini berakar dari budaya Kerinci dan Minangkabau, tapi saya tidak tahu apa-apa tentang tradisi dari dua tempat tersebut, jadi saya agak tersesat dan kurang bisa menginterpretasinya dengan baik. Saya hanya bisa menangkap sedikit gerakan pencak silat dalam karya tersebut karena saya juga pernah sedikit belajar silat,” jelas Curtis. Menurut Curtis, In The Footsteps of The Body bisa saja dinikmati sebagai karya tari kontemporer tanpa latar belakang referensi kultural, namun menempatkan tarian kontemporer dalam konteks budayanya akan lebih membuat apresiasi karya tersebut menjadi lebih utuh.

Hal yang sama juga berlaku dalam menginterpretasi karya Moh. Hariyanto berjudul GHULUR, yang juga berarti gelombang. Dan seperti judulnya, penari asal Madura tersebut ditemani seng bergelombang yang membuat penonton terdiam dan mengkerutkan kening. Maklum, seng adalah materi yang yang sudah semakin langka digunakan dalam konstruksi atap di Eropa. Materi yang terkenal murah ini sudah jarang digunakan karena kemampuan termal dan kemampuan isolasi yang buruk. Seng juga tidak mampu bertahan lama dengan empat musim dan temperature ekstrim di Eropa.

Maka ketika selembar seng yang awalnya digulung hadir  di panggung bersama Hariyanto, material itu langsung menjadi karakter antagonis. Duet antara seng dan Hariyanto menjadi pergulatan antara tokoh jahat dan tokoh yang tertindas, protagonist-antagonis. Meskipun seng itu akhirnya terlentang di tengah panggung, suara seng yang diinjak, dirayapi, dilompati, ditelusuri, diketuk, menguasai ruang yang memantulkan kebisingan yang begitu menganggu. Seng menjelma sebagai simbol alat penyiksa fisik maupun psikologis, yang mengingatkan penonton pada sound torture – penganiayaan psikologis bagi para tahanan seperti yang pernah digunakan tentara Amerika pada tahanan-tahanan mereka di Guantanamo.

Setiap kali tubuh sang penari bergerak, setiap kali itupula seng itu menjerit dan melengking, menciptakan  jeruji penjara tak tampak. Semakin lama, dialog yang tercipta antara yang tertindas dan yang menindas menjadi kabur dan menciptakan dilema kausalitas, hubungan sebab akibat yang mengabur ditengah kekisruhan aksi reaksi. Sampai ketika sang penari tergulung oleh gelombang seng, lalu terdiam diikuti sunyi yang mencekam, penonton baru sadar, siapa yang sebetulnya menjadi korban.  

Ghulur Karya Moh. Hariyanto yang juga dosen  di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) itu menutup program Male Solos, Europalia Indonesia. Suasana hening terasa kental beberapa detik setelah pertunjukan usai dan gelap pekat membalut panggung. Penonton baru menghembuskan nafas lega dan tepuk tangan bergemuruh ketika lampu-lampu dinyalakan. “Sebuah penutup yang sempurna,” gumam seorang penonton.

Asmayani Kusrini