Jalan Sunyi

11 December 2017
Jalan Sunyi


Bambu hanyalah satu bagian dari upayanya menemukan kembali tradisi dari budaya Nusantara terkait arsitektur.

Bagi Eko, arsitektur bukan seperti lambaian daun dihempas angin. Sebentar ke kanan, sebentar ke kiri, lalu limbung saat angin diam, menyusun kekuatan untuk merontokkan dedaunan dan membuatnya melayang-layang semakin jauh dari akar pohonnya.

Berarsitektur membutuhkan pijakan yang lebih kokoh dan menyatu dengan nilai-nilai hidup yang dihidupi. Hanya dengan itu, kecenderungan untuk terempas dalam gulungan wacana arus utama yang dominan, bisa disikapi dengan tegas agar tidak kehilangan pegangan.    

“Tidak mudah,”ujarnya suatu petang, “merunut akar seperti menapaki jalan sunyi, penuh kerisauan dan keraguan, juga ketidakpastian. Namun ada pijar nyala kecil yang senantiasa memanggil, yaitu kehidupan tradisi yang telah terbentang panjang dalam ruang dan waktu itu pasti ada banyak aspek yang tetap dan benar. Kebenaran inilah yang diupayakan untuk ditemukan kembali, dikenali. Ini adalah bagian dari ziarah panjang kemanusiaan kita.”

Kebudayaan bukan sesuatu yang linier padu, bergerak dan berbaris seperti deret hitung dalam urutan tanggal dan tahun, tetapi seperti lapis-lapis yang berpusar, bertumpang-tindih dan bergolak bercampur baur sangat kompleks.

Sebagai arsitek praktisi, pertanyaan Eko adalah, apakah kita masih memiliki kerendahan hati untuk bersedia belajar dan memaknai pengalaman-pengalaman yang sudah pernah ada? Apakah kepekaan serta ketajaman kita mampu melihat dan menangkap kebenaran serta nilai-nilai yang baik itu? Atau karena tidak gemerlap maka kita membiarkan tradisi itu lenyap atau terlelap? Benarkah tradisi sekadar sepih-serpih buih yang letih?

Eko mengamati, budaya Nusantara yang sangat bergantung pada alam bergeser karena pengaruh pemikiran industri. Bumi dan alam yang selama ini adalah Ibu kebudayaan, sedikit demi sedikit bergeser ke arah hubungan yang lebih mekanistik, transaksional bahkan eksploitatif. Alam dipandang tak lebih dari sumberdaya. Pergeseran ini mempengaruhi penghargaan atas sifat-sifat alam. Barang-barang yang berasal dari alam dianggap lebih rendah derajatnya karena industri adalah modernisasi.

Nilai simbolik kebersamaan menjadi terkikism berubah menjadi semakin individualistik dan menumpukan kepercayaan pada materi. Hubungan soaial kebersamaan semakin mencair, nyaris pudar.

Dalam bidang arsitektur, penggunaan bahan-bahan alam yang memerlukan pemeliharaan serta perlakuan khusus dianggap tidak praktis lagi, bahkan cenderung direndahkan menjadi bahan yang tidak awet dan hanya bersifat sementara.

“Stigma ini membuat kita tidak percaya diri dan kurang mandiri. Lalu berbondong-bonding mengonsumsi materi yang disodorkan industri. Kita hanyalah pasar,” ujarnya.   

Simpul kecil

Kerisauan itu membawanya menjauh dari hiruk-pikuk kota besar. Beberapa tahun sebelum pensiun pada tahun 2014, dia tiba di satu titik yang membuatnya harus menjawab pertanyaan eksistensial: Apa manfaat keberadaan saya di dunia ini?

“Saya ingin memproduksi pengetahuan,” gumamnya. “Selama 30 tahun mengajar saya merasa tidak menambah body of knowledge di bidang arsitektur.”

Beberapa universitas di luar negeri menawarinya program khusus untuk melakukan riset dan mengajar di sana selama beberapa waktu. Namun, menurut Rina, istrinya, Eko memilih belajar dari kehidupan, di mana mata air pengetahuan tak pernah kering.

Sebagai arsitek yang selama 20 tahun bersinggungan dengan Romo YB Mangunwijaya, boleh dikatakan, Eko Prawoto paling banyak mewarisi pemikiran YBM. Dia meyakini, arsitektur seharusnya merawat nilai-nilai hidup.

Semua boleh berubah, tetapi perasaan kita pada ibu, pada langit, pada pohon, pada alam, akan tetap sama. Banyak hal sudah ada di situ, dalam perasaan kita dan akan selalu demikian,” ujarnya, mengingat gurunya, Dr Balkrishna V. Doshi, saat belajar di Berlage Institute, Belanda, tahun 1991.

Maksudnya, arsitektur tak boleh sewenang-wenang, seakan-akan semua hal bisa diatur dan dimanipulasi,” jelas Eko.

Maka, kejujuran dan kerendahan hati dalam berarsitektur sangat penting dan melampaui segala bentuk rancangan. Intervensi selalu bersifat sementara. Hierarki tertinggi adalah alam,” katanya.

Eko kembali ke desa karena ingin menemukan akar tradisi yang punya ikatan khusus dengan bumi. Orang Jawa menjalaninya dengan “laku”, “nglakoni”, mengalami.”

Bagi Eko, desa merupakan sumber pengetahuan yang hampir terlupakan. “Kalau kita mau jeli melihat budaya pertanian desa, maka ada banyak pengetahuan lokal yang menarik dan penting untuk kita tengok lagi. Desa bukanlah masa lalu yang semakin memudar. Ada banyak pijar kearifan serta ketrampilan yang sangat unit. Kemampuan untuk menciptakan alat kerja adalah salah satu contoh yang dapat menginspirasi kita sebagai warga kota yang lebih sering sebagai konsumen, bukan pembuat.”

Namun, desa pun terus dilanda masalah karena dirangsek kebudayaan urban. Pengaruh media membuat banyak hal berubah, termasuk pola konsumsi. Kebudayaan agraris mulai luntur, padahal kehidupan desa bersifat kolektif.

Jadi seperti menganyam kembali remah-remah nilai yang seharusnya menjadi dasar pemikiran tentang keberlanjutan yang lebih otentik, yang harus digali dari dalam.”

Eko membuat semacam museum alat-alat pertukangan desa. ”Seperti memori kolektif yang disajikan ulang, yang bisa dipelajari lagi oleh orang desa maupun kota.”

Begitu memasuki pekarangan yang tak ada bedanya dengan pekarangan rumah-rumah sekitar di Dusun Kedondong, Kulon Progo, Yogyakarta, tampak dua rumah tua yang berasal dari Desa Paiton, Probolinggo, Jawa Timur. Umur rumah itu konon 125 tahun. Konstruksinya kayu jati utuh, dibuat tanpa mesin, hanya menggunakan pethel sehingga masih terlihat jejak urat kayunya.

Rumah utama berukuran enam kali 14 meter persegi, tanpa sekat, tempat tinggal Eko dan Rina. Rumah satunya berukuran lima kali delapan meter persegi untuk tamu yang menginap, belum selesai dibenahi.

Pelan-pelan sambil mengatur uangnya, he-he-he,” kata Eko, yang mengambil semua uang pensiun untuk merajut mimpinya.

Di bagian tebing bawah dihuni bangunan tua tanpa dinding dari Wonogiri, yang dimenangi” dari perebutan dengan orang asing. Di situlah Eko mengajar. Di hadapan alam, pikiran mahasiswa jadi terbuka.”

Ruang tamu ”formal” adalah ruangan di dalam bangunan kayu berukuran tiga kali lima meter, beralas tikar pandan, terletak di bagian tebing atas. Di situ, Eko menyimpan peralatan pertukangan tradisional yang nyaris punah. Perburuan untuk menyelamatkan peralatan pertukangan tradisional itu tidak mudah, membutuhkan waktu, ketelatenan dalam menjalin hubungan yang sifatnya lebih emosional dengan para petani di berbagai dusun, sekaligus menganyam kepercayaan masyarakat sekitar.

Koleksi peralatan pertanian dan ketukangan itu dikumpulkan dengan kecintaan serta keinginan untuk belajar. “Tentu ini akan menjadi rangkaian saling keterkaitan yang akan melebar juga,” kata Eko.

Peralatan bukan sekadar objek bendawi. Di dalamnya ada pengetahuan, ketrampilan, pengembangan gagasan, perjuangan serta kisah kehidupan masyarakat desa.

“Untuk membaca ulang yang mengendap di dalamnya, tidaklah sesederhana proses mengumpulkannya,” sambungnya.

Bacaan yang lebih seksama dan serius perlu dilakukan. “Namun sementara ini, mungkin menghimpun artefaknya perlu dilakukan sebelum keberadaannya menjadi semakin terpinggirkan bahkan hilang dan terlupakan. Keterputusan ketrampilan untuk membuat bukan hal yang tidak mungkin terjadi.”

Secara visual, keberagaman desain peralatan itu sangat menakjubkan. Dengan cara dan perkakas yang relatif sederhana, benda-benda itu dibuat.  Eko menyebutnya Museum of the Ordinary things. “Sebuah simpul kecil di desa Banjararum Kulon Progo, suatu prakarsa awal yang ingin mengajak kita merawat akar budaya, masa lalu sekaligus masa depan kita bersama.”

Begitulah.

Tekadnya untuk menemukan kembali akar tradisi dan pilihan untuk bermukim di desa, bukan tanpa konsekuensi. Dusun Kedondong, Kulon Progo, berada di wilayah rawan gempa. Namun semua itu dia nikmati dengan sepenuh hati. ”Pernah guncangannya lumayan besar sampai tetangga berdatangan setelah reda.”

Pun longsor. ”Koreksi alam atas bentuk rekaan,” kata Eko. ”Pelajaran penting bagi saya yang pengetahuannya belum genap satu putaran musim.”

Begitulah. Eko didukung istrinya, Rina, belajar dari kearifan di desa, seberapa pun bisa. ”Masih belum ke mana-mana, masih banyak yang tidak saya ketahui.”

Namun dia tahu, yang terpenting dari seluruh proses adalah srawung, karena pengetahuan sering datang tak terduga dari orang-orang sederhana yang dikunjunginya sampai ke ujung-ujung dusun.

Eko mengosongkan gelasnya dan membiarkannya terbuka....

Oleh Maria Hartiningsih