IMAJINASI KHATULISTIWA

13 December 2017
IMAJINASI KHATULISTIWA


 Khalayak pembaca komik modern Indonesia bisa dianggap pertama kali muncul tahun 1929 (secara teknis, “Indonesia” belum ada ketika itu) ketika Sin Po menerbitkan kartun jenaka yang kemudian mencakup penerjemahan komik strip modern. Waktu itu, majalah kalangan Tionghoa tersebut juga menerbitkan iklan yang menggunakan komik satu panel, dengan narasi verbal di luar bingkai tanpa balon kata-kata.

Tentu saja, para pembaca komik pertama itu berasal dari masyarakat yang sudah punya dasar budaya komik: orang Jawa dan Bali terbiasa dengan narasi visual sekuensial tradisional seperti relief di Candi Borobudur atau Prasi Lontar Bali. Tapi ketika Sin Po menerbitkan Put On, komik strip humor karya Kho Wang Gie, komik modern Indonesia sejati yang pertama pun lahir 

Tokoh-tokoh utama Put On adalah orang Tionghoa yang hidup di lingkungan urban baru Batavia (atau Jakarta). Tokoh-tokoh itu dan ceritanya unik, ringan, dan kosmopolitan. Keragaman kehidupan sehari-hari Indonesia amat jelas di seri tersebut. Keragaman dan percampuran budaya memang selalu hadir di sejarah komik Indonesia sesudahnya. 

Dapat dilihat bahwa kebangkitan komik wayang pada 1950-an adalah hibridisasi mitologi Hindu, budaya tradisional Jawa, nilai-nilai Islam, dan wahana bahasa visual modern. Dan komik-komik silat yang mendominasi industri komik lokal di 1970-an menampilkan keragaman silat dari Batavia, Sumatra, Sulawesi, Jawa, dan bahkan Papua.

Cerita rakyat lokal mengenai asal-usul tempat atau kisah supranatural, beraneka pemandangan alam, serta lokalisasi mitos dan genre global yang seringkali penuh humor—semua itu dan banyak lainnya dieksplorasi dalam berbagai kadar imajinasi sepanjang sejarah komik Indonesia dari 1929 sampai sekarang. Anda bisa melihat sekilas eksplorasi itu di 100 lebih komik Indonesia dari berbagai periode yang dipamerkan di Museum Wittockiana, Brussels.

Dengan kehidupan khatulistiwa yang berciri khas alam dan budaya penuh warna di kurang lebih 17.000 pulau dengan 700 lebih bahasa, suatu narasi Indonesia—dalam bentuk komik atau lainnya—tak bisa tak penuh warna pula.***

Hikmat Darmawan