I Made Sidia: Permainan Kaca dan Bayangan

12 November 2017
I Made Sidia: Permainan Kaca dan Bayangan


Dua hewan mirip kuda berlari sepanjang lanskap berlatar senja. Di sisi kiri dan kanan layar dua pohon kerempeng berupa siluet berdiri lunglai, seolah akan roboh bahkan dengan angin sepoi-sepoi sekalipun. Sesosok manusia kemudian masuk ke layar membelai hewan mirip kuda itu. 

Gambaran di atas adalah salah satu adegan dalam pementasan wayang I Made Sidia. Adegan itu tak sesederhana kelihatannya. Lanskap berlatar senja, beserta dua pohon itu, misalnya, adalah sebuah proyeksi video. Sementara kedua hewan mirip kuda adalah bayangan, hasil proyeksi terhadap sepasang wayang kulit, dan manusia yang muncul adalah proyeksi terhadap wayang orang.

Pada salah satu adegan lain, Made Sidia juga melakukan hal yang sama. Siluet bersosok manusia bertangan banyak, barangkali Dewi Durga, tampil dengan layar berlatar video berupa luar angkasa. Kemudian sesosok manusia lebih kecil, kuning emas dan berpendar cahaya, masuk ke layar dan melayang di tengah siluet sosok hitam itu, seolah mengatakan bahwa cahaya adalah inti siluet hitam itu. Hal ini memberikan kesan ilahiah kepada keseluruhan tampilan.

Proyeksi siluet hitam datang dari beberapa manusia sementara sosok emas berpendaran cahaya itu muncul dari sebuah wayang kaca, inovasi lain dari I Made Sidia. Permainan kaca ini juga muncul dalam banyak cara, seperti panah cahaya (menggambarkan kekuatan mumpuni dari serangan), lingkaran cahaya yang mengelilingi Sita (menggambarkan kecantikan. Ia menyukai berbagai efek kaca ini, yang dapat dicapai dengan sekadar mengganti material wayang—meskipun begitu, ialah orang pertama yang melakukan ini. Ia menyebutkan bahwa telah memulai eksperimentasi ini sejak kuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar, Bali. Ia lulus dari kampus itu pada 1992, pada jurusan teater Bali. “Saya juga belajar dari seniman luar. Saya beruntung, semenjak muda bisa pergi ke berbagai tempat. Tiap kali saya melihat eksperimen dari suatu pementasan, saya mencoba menafsir ulang teknik mereka.”

Siang itu ia muncul di lobi Thon Hotel, Brussels, dengan ikat kepala warna biru pucat. Ia harus meninggalkan hotel pukul dua belas; beserta tim ia akan berangkat ke museum topeng dan kostum karnival di Binche, 50 kilometer dari Brussels. Hari ini 9 November 2017 dan dua hari ke depan (10 dan 11 November 2017) ia akan pentas di sana. Setelah itu ia akan melanjutkan perjalanan ke Liège, Antwerpen, dan Tournai. Ia juga membawa keluarga. Anak bungsu dan keponakannya adalah bagian dari tim tersebut.

“Dia (keponakan) manajer saya,” kata Made Sidia, sementara anak bungsunya tengah belajar menjadi dalang. Ia tampak santai dan tanpa beban siang itu.

Satu adegan menarik lain dari pementasan wayang Sidia: pementasan ini menggunakan campuran Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa Kuno, dan Bahasa Inggris. “Untuk karakter-karakter punakawan seperti Gareng dan Petruk, saya menggunakan bahasa Inggris,” katanya.

Ada satu adegan yang menarik: ketika rombongan karakter punawakan ini berhadapan dengan seekor macan. Salah satu punakawan mencoba berdamai dengan si macan dalam bahasa Bali. Macan itu menyerangnya. Punawakan lain pun berseru dalam bahasa Inggris, “Ia tak paham Bahasa Bali! Kita coba tampilkan lagu Indonesia?” Dan karakter punakawan itu mulai menyanyikan Indonesia Raya. Macan itu tetap mengamuk.

Dan karakter itu pun membalas, “Maybe you’re a Malaysian tiger?” Penonton tertawa. Padahal Indonesia dan Malaysia ada pada rumpun bahasa yang sama dan, barangkali, akan minim mengalami kesulitan komunikasi lantaran bahasa.

Ironi mengenai koneksi antarmanusia semacam ini ada pada karya-karya I Made Sidia. Ia mengakui bahwa sebagai dalang, ia tak bisa mengkritik keadaan dengan terbuka dan keras. Bagi dia, inilah cara seorang dalang merespons keadaan sekitarnya. Ia juga betul-betul menggunakan bahasa sebagai suatu cara berkomunikasi dengan audiensnya. “Ketika di Ubud saya menggunakan Bahasa Inggris, ketika pentas di pura, seluruhnya Jawa Kuno.”

Sekilas tersirat bahwa modernisme yang diusung oleh I Made Sidia tidak berpusar dalam gagasan pada pementasan. Ia sendiri menggambarkan dirinya sebagai seorang tradisionalis, yang memegang teguh ajaran Hindu Bali. Namun, ia percaya presentasi modern yang lebih segar akan membuat karyanya lebih membumi dan bisa dinikmati hari ini. Secara ringkas, ia bereksperimen dalam rangka berkomunikasi. Ia berharap anak-anak muda tidak meninggalkan tradisi pewayangan dan pertunjukkan.

Kritik I Made Sidia juga tampil dalam hal-hal sederhana seperti latar tempat. Pada satu pementasan mengenai Dasamuka latar yang dipakai adalah sebuah lanskap kota dengan hotel-hotel berbintang dan kemacetan. “Sita ‘kan artinya tanah. Jadi saya menggunakan kisah Sita untuk mengkritik penggunaan lahan di jaman modern.” 

Namun, ia tidak menganggap kritikannya terbatas pada apa yang terjadi di Bali. “(Bagi saya) Universal, karena bisa terjadi di mana saja di dunia. Bli mencoba menggunakan filsafat wayang untuk merespons perkembangan jaman.”

Kegemaran dalang sendiri datang dari keluarganya. Ayah dan kakek buyutnya adalah seorang dalang. “Namun Bli tidak mau jadi seperti beliau (ayah). Bli tidak mau skill Bli sama persis seperti yang dimiliki Bapak.”

Ia berharap kelak bisa menggabungkan video game dengan pewayangan. “Detail-detail soal pewayangan bisa diselipkan ke dalam game. Dan kalau itu bisa dipahami, mereka dapat mainnya, juga pendidikan budi pekerti dari leluhur kita.” Harapannya yang lain: pesta ulang tahun anak-anak tak lagi hanya berputar di sekitaran mall. “Kalau kita bisa bawa wayang ke anak-anak, dan memberikan mereka cerita yang ada di kehidupan mereka, tradisi kita tak akan ditinggalkan.” [*]