Hibah untuk Museum La Boverie

13 December 2017
Hibah untuk Museum La Boverie


 Di antara ratusan artefak dan puluhan karya yang dipamerkan di Museum La Boverie, Belgia, ada satu koleksi yang dipastikan tak akan dibawa kembali, yaitu Perahu Padewakang dari Tana Beru, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kapal legendaris tersebut, menurut Intan Mardiana, sudah dihibahkan untuk Museum La Boverie.

“Kapal Padewakang akan ditinggal. Kalau dibilang hadiah, ya bukan. Lebih tepatnya, ini hibah,” dia menjelaskan. Pemerintah Indonesia, menurut dia, telah setuju menghibahkan kapal tersebut sampai batas waktu yang belum ditentukan lantaran seluruh proses eksekusi hingga bisa terpajang di Belgia difasilitasi oleh venue di sana.

Perahu Padewakang merupakan ikon warisan budaya maritim Nusantara. Kapal berukuran 11 meter x 7 meter x 4 meter yang dipamerkan itu adalah repliksa 1:1 kapal aslinya, yang berusia lebih tua dibandingkan kapal Pinisi.

Sejauh ini, perahu Padewakang hanya dibuat oleh maestro perakitan kapal keluarga Haji Jafar. Akan tetapi, karena Haji Jafar senior sudah terlalu tua, tanggung jawab itu diserahkan penuh kepada empat putranya. Keempatnya, yakni Muhammad Ali Jafar, Muhammad Usman Jafar, Bahri A MD, dan Harli Novianto, diberangkatkan ke Belgia untuk memenuhi amanah tersebut.

“Meskipun Haji Jafar tidak ikut, fotonya kami pajang di museum,” beber Intan.

Selain mereka, juru masak bernama Nurwahidah dari Bulukumba juga diundang venue di Belgia. Total lima warga Bulukumba ini akan didampingi dua peneliti maritim lain, yaitu Horst Liebner dari Jerman dan Muh. Ridwan Alimuddin dari Indonesia.

Tradisi Selamatan

Kendati tergolong perahu yang gesit di lautan, untuk sampai di Belgia replika perahu Padewakang itu tidak dibawa dengan jalan berlayar. Oleh karenanya, kapal harus dibongkar untuk bisa diboyong ke Benua Biru dan kemudian dipasang kembali.

Proses pembongkaran tidak sembarangan. Intan Mardiana mengungkap, ada ritual khusus yang dibuat warga Tanah Beru ketika kapal itu dibongkar, diangkat sampai dikemas. “Wah, kami pesta pokoknya, masak-masak, selametan,” tuturnya.

Tradisi selamatan itu, ucap Intan, sebenarnya tidak hanya untuk perahu Padewakang, Ia mengakui, seluruh koleksi museum, terutama yang dianggap bernilai sakral, dibuatkan selamatan.

“Bagi saya, itu hal biasa. Semua didoakan dulu. Bukan untuk memuja bendanya, tetapi lebih kepada menjaga mereka yang membawa. Karena berdasarkan pengalaman saja, jangan sampai selama perjalanan, ada yang jatuh atau kejepit,” cetus dia,

Di sisi lain, Intan terus mengingatkan agar semua potongan perahu disusun serapi mungkin. Diberi nomor urut, lalu diperiksa lagi, jangan sampai ada yang ketinggalan atau tercecer tak jelas. “Saya bawelin, soalnya kalau ada yang hilang kan repot cari bahan bakunya di Belgia.”

Apresiasi

Syukuran perahu Padewakang di mata Intan sangat berkesan. Kentalnya nilai budaya Indonesia selama proses pembongkaran itu, katanya, sangat terasa. Apalagi Direktur Museum La Boverie juga datang mengikuti seluruh rangkaian prosesi.

“Dia terpana ketika melihat Padewakang. “Ini bener kapal segede ini mau dibawa ke museum saya?” tutur Intan,menirukan ucapannya . “Dia senang sekali museumnya mendapatkan kehormatan untuk memamerkan perahu bersejarah itu. Sampai dipandangi terus itu kapal.

Makin larut, kemeriahan semakin terasa. Ketika waktu makan tiba, Intan menyuapi si pengelola museum. “Orang-orang bule ini datang dan bilang excellent. Mereka sangat menikmati acaranya,” tutupnya.