Go International, Hari Gini?

25 November 2017
Go International, Hari Gini?


Bagi banyak musisi Indonesia, go international adalah mimpi besar, sesuatu yang harus bisa diraih, bagaimanapun caranya. Selain mendatangkan kebanggaan tersendiri, manggung atau tur di luar Indonesia bisa menambah kredibilitas mereka sebagai musisi.

Bagaimana dengan Karinding Attack dan Uwalmassa, dua band asal Indonesia yang tampil di sejumlah negara di Eropa dalam rangka festival Europalia 2017? Menarik untuk mengetahui pendapat kedua band yang sangat berbeda satu sama lain ini. Berdiri sejak 2009, Karinding Attack sudah beberapa kali menggelar tur di luar Indonesia, sementara bagi Uwalmassa yang baru terbentuk, ini adalah tur mereka yang pertama. -Boro-boro tur luar negeri, kita sebelum ini baru tampil dua kali di Jakarta,- kata Harsya Wahono, salah satu anggota Uwalmassa ketika ditemui seusai soundcheck di Worm Rotterdam Sabtu 18 November lalu.

Ketika ditanya bagaimana bisa tampil di festival Europalia, Harsya mengatakan sangat berterima kasih pada promotor yang semangat mengajukan nama mereka untuk ikut serta dalam festival ini. -Ada promotor dari Eropa yang suka sama musik kita. Kita dihubungi sama dia, lalu dia yang mengusahakan supaya kita juga bisa ikutan di festival ini.- Demikian Harsya.-Ya kita beruntung juga sih dalam hal itu.-  katanya lagi.

Sementara Karinding Attack, band metal asal Bandung ini lolos kurasi untuk ikut serta dalam festival. -Ya, pertama kita diminta untuk daftar. Lalu ada kurasi manggung di Yogyakarta tahun 2016. Bukan audisi, melainkan dikurasi oleh tim campuran dari Eropa dan Indonesia,- kata Meggie May, manajer band.

Perbedaan lainnya adalah peralatan perang mereka. Karinding Attack memainkan musik metal, lengkap dengan growling vocal, dengan alat musik tradisional dari bambu. Sementara Uwalmassa memainkan musik elektronik fusion dengan sound dan bit musik tradisional dari sejumlah daerah di Indonesia dengan komputer, turntable dan beberapa perkusi.

-Tapi Karinding Attack bukan band eksperimental. Kita ini metalheads. Di Eropa banyak heavymetal, kita heavybambu. Awalnya cuma mau menjaga warisan budaya instrumen bambu, dalam hal ini karinding, dengan gaya kita. Karena keterbatasan kita, cuma yang di Jawa Barat saja yang bisa kita tampilkan sekarang. Di Indonesia masih banyak instrumen bambu yang tidak terangkat.- demikian seloroh Man Jasad, salah satu vokalis Karinding Attack ketika ditemui di belakang panggung Worm. 

-Intinya, playing something new dengan something old. Ini caranya kita menari dengan jaman. Jadi, sesuatu yang kesannya lama, kuno, bisa kita sesuaikan dengan jaman sekarang, masa kini. - lanjut Man.

Ketika ditanya apakah ini yang membuat mereka dapat kesempatan lebih mudah untuk go international, Harsya Wahono dari Uwalmassa menjawab, -Tidak bisa dipungkiri, memang untuk sekarang ini, masyarakat luar negeri yang lebih bisa mengapresiasi musik kita. Sejauh ini penonton yang paling responsif yang di Brussels. Kan kita sudah manggung di Brussels, Gent, Berlin dan malam ini Rotterdam. Jika dibandingkan dengan di negara-negara Asia, seringkali waktu konser, penonton masih sering ngobrol dan foto-foto. Di sini, terutama di Brussels waktu itu, penonton tidak ada yang  ngobrol, konsentrasi semua. Agak kaget juga awalnya. Karena musik kita kan juga untuk bikin orang bergoyang.- Harsya menjelaskan bahwa penonton datang menemui para musisi setelah pertunjukan selesai untuk berterimakasih dan memberi komentar soal konser yang baru disaksikan. Sebagian besar penonton tidak mengenal band sebelumnya, tapi mereka datang untuk benar-benar menikmati musik.

Karinding Attack mereka sempat menolak tawaran manggung di luar negeri di awal karir. Menurut mereka, untuk apa manggung di luar negeri jika masyarakat Indonesia sendiri belum mengenal musik mereka. Bagaimana dengan sekarang? -Go international? Itu keharusan. Buat musisi Indonesia manggung di luar negeri itu suatu keharusan. Band Indonesia yang berkualitas sangat banyak jumlahnya dan dunia ini sangat luas. Di hari ini, di tahun 2017 ini, itu sudah jadi keharusan,- demikian Man Jasad. 

Tapi kenyataannya memang tidak semua dapat kesempatan untuk tur atau sekedar manggung di luar Indonesia. Mengenai itu, Man Jasad menanggapi, -Kesempatan selalu bisa dicari. Misalnya melalui media sosial. Jangan manja, yang namanya band harus berjuang. Karena di Indonesia sangat banyak band, jadi harus rajin komunikasi dengan dunia luar.- 

Sementara pendapat generasi milenial yang kali ini diwakili Uwalmassa sedikit berbeda. Ketika didesak apakah merasa terangkat derajatnya karena langsung tur Eropa sementara band baru beberapa tahun berdiri, Harsya balik bertanya, - Go international itu apa? Istilah itu mungkin lebih akurat di tahun 90-an. Tapi sekarang? Kita tiap hari juga bangun pagi lihat media sosial, lalu kontak sama orang-orang dari seluruh dunia, itu kan go international namanya. Lalu ada orang dari luar Indonesia memberi perhatian sama band kita, itu juga artinya udah go international. Jadi artinya istilah go international itu sendiri sudah berubah. Ya kita bersyukur aja secara fisik kita ada di sini sekarang. Semoga ke depannya jalurnya tambah terbuka.-

Tidak banyak anak muda kota besar jaman sekarang yang kita tahu menaruh banyak perhatian akan musik tradisional Indonesia. -Saya diajarkan sejak kecil untuk selalu mencari tahu peran kita dalam masyarakat. Jika kita punya ilmu, harus kita bagi. Tidak ada gunanya kamu kaya, punya keluarga bahagia, tapi hidup sendirian di masyarakat. Begitu misalnya. Intinya, apa yang bisa kita sumbangkan bagi masyarakat. Karena kami tahunya musik, kami bisanya sumbang sumbang musik. Kami tidak mau cuma jadi konsumen pasif.- demikian Harsya.

Sepertinya kedua band tidak merasa ada yang istimewa dengan kenyataan bahwa mereka bisa tur keliling Eropa. Yang satu merasa sudah kewajiban, yang satu lagi merasa go international itu istilah usang, karena (terutama untuk anak muda jaman sekarang) batas-batas fisik antar negara sudah semakin kabur.

Ketika ditanya apakah membawa misi khusus pada festival Europalia ini, Man Jasad menjawab bahwa misi khusus band sebagai musisi adalah membuat orang senang. Sesederhana itu. -Kita tidak berlebihan mau mengharumkan nama bangsa atau sejenisnya. Tak apa jika ada yang ingin begitu, tapi kita bukan tukang parfum, kita tidak bisa mengharumkan nama bangsa. Kita pingin bikin orang bahagia, minimal pas nonton kita, mereka bisa senyum. Karena buat saya, setiap panggung sama, mau di Garut mau di Rotterdam, sama. Mau tiga orang, mau tiga juta orang penonton, sama. -

Hening sejenak, Man Jasad melanjutkan, -Mungkin kalo dibilang misi khsusus ya, lewat penampilan kita, kita bisa menunjukkan bahwa orang Indonesia lebih banyak yang rileks, santai, bukan cuma teroris aja isinya. Ingat, kami ini happy bambu!-  Menilai reaksi penonton, sepertinya Karinding Attack sukses dalam menjalankan misi tersebut. Man bercerita soal reaksi penonton yang sangat menikmati penampilan mereka. Seperti di Brussels misalnya, penonton minta band untuk kembali naik panggung tiga kali. -Kayaknya Iron Maiden aja belum pernah dapat we want more sampai tiga kali.- seloroh Man  menutup percakapan.

 Rina Sitorus