Gamelan Planet Harmonik : Menangkap Phytagoras, Membumikan Dewa Ruci

22 December 2017
Gamelan Planet Harmonik : Menangkap Phytagoras, Membumikan Dewa Ruci


 Jagad kang gumelar, rinengga mabyoring lintang lan rembulan, binarung sabarang kang munya; swara kang dumadi awit musiking kabeh sapaduluraning jagad, kang lelana nut wirama kang kinodrat, ambabar gendhing kang semu, datan kena kapireng ing karna, hamung mapan haneng jagad pasupenan.

(Intro dalam Gamelan Planet Harmonik: Alam raya yang tergelar, dihiasi bintang-bintang dan rembulan, ditingkah oleh segala yang berbunyi, bunyi yang tercipta oleh pergerakan dari segenap isi alam raya, yang berkelana seirama dengan kodrat masing-masing, menciptakan musik yang fana, mustahil terdengar oleh telinga, hanya berada di alam imajinasi.)

SIAPA sangka, Phytagoras (582-496 Sebelum Masehi), filsuf Yunani yang melahirkan banyak teori matematika yang rumit-tapi-mencerahkan, mampu meninggalkan jejak obsesi imajinatif pada Aloysius Suwardi (66), seorang pengrawit dan komposer karawitan Jawa?

Inilah peran seorang seniman yang melintas zaman.

Menurut salah satu teori Phytagoras, yaitu, pergerakan planet-planet yang sama-sama mengitari Matahari memiliki interval nada satu sama lain, dan menghasilkan “bunyi” sendiri-sendiri. Bagi Al Suwardi, teori tersebut telah membangun imajinasinya tentang suatu “orkestra alam raya” yang sungguh menantang untuk diwujudkan dalam suatu orkestra sungguhan.

Bayangkanlah: putaran planet menghasilkan bunyi. Dan imajinasi tentang “bunyi planet yang berputar” itulah yang disusun orkestrasinya oleh Suwardi. Sejak 1983 ia sudah melakukan berbagai eksplorasi serta eksperimen-eksperimen, baik menyangkut orkestra (konsep garap) maupun instrumen gamelan – perangkat musik yang memang dia akrabi sejak remaja.

Di tangan seniman musik yang otentik seperti Suwardi, nada-nada musik yang hendak disusun tak sebatas bunyi yang dihasilkan dari instrumen-instrumen yang telah ada. Dia senantiasa tertantang untuk menciptakan bunyi dan nada baru yang sesuai dengan imajinasinya lewat instrumen yang dia ciptakan sendiri dari hasil eksplorasi yang amat panjang.

Dari hasil eksplorasinya atas instrumen-instrumen musik ciptaannya itu, sejak 1990-an, ia menyusun sistem nada atau laras dengan mengeksplorasi anak nada alias nada parsial yang dianggap paling kuat dari setiap instrumen, namun bukan tangga nada fundamentalnya. Itulah yang dijadikan Suwardi sebagai acuan dalam penyusunan komposisi Gamelan Planet Harmonik.

Dua Ensemble

Secara garis besar Gamelan Planet Harmonik sekarang ini gabungan dari dua perangkat ensemble, yaitu seperangkat Gamelan Gentha (2001), serta satu ensemble lain yang belakangan dihasilkan dari seperangkat instrumen musik baru dari batang besi cor ciptaan Al Suwardi.

Gamelan Gentha adalah modifikasi dari Gamelan Genthana yang menjadi koleksi Keraton Surakarta, konon hadiah dari Raja Thailand (1930). Namun, ia mengaku sama sekali belum pernah mendengar bunyi maupun gendhing Gamelan Genthana milik Keraton itu saat ditabuh. Dengan Gamelan Gentha yang dia buat dari bahan kuningan, Suwardi lantas mereka-reka sendiri, baik bentuk, susunan maupun cara menabuhnya. Ia bikin genta-genta dalam berbagai ukuran dan fungsi. Namanya: klonthang, klonthong, klunthung, klinthing, dan gong.

Ada yang ditabuh di atas rancakan khusus dan ditata seperti ricikan bonang berbentuk setengah lingkaran di lantai. Ada genta-genta yang digantung yang dilengkapi dengan resonator sehingga menghasilkan bunyi yang unik, termasuk genta-genta kecil bergantungan, berbentuk artistik dan menabuhnya dengan cara digoyang seperti angklung. Ada pun gong Gamelan Gentha terdiri dari dua gentha besar – berukuran 25 cm dan 30 cm -- dengan resonator “vas” cantik dengan bagian “leher” yang meninggi.

Seperangkat instrumen terakhir umumnya terbuat dari bahan batang besi beton cor solid berbagai ukuran – berdiameter 6 hingga 8 mm -- yang dipotong-potong dengan ukuran sesuai tangga nada yang dipilih. Instrumen unik ini ada yang dijajarkan secara digantung pada suatu panel, ada pula yang berjajar menancap pada pondasi semen di atas meja. Setiap instrumen itu dirancang cukup artistik. Namanya pun unik: glendhang (6 unit), glendhung (2), klenthar (1).

Penciptaan terhadap setiap instrumen musik itu dilakukan sebagai eksplorasi untuk menemukan bunyi seperti yang diangankan dalam imajinasi Suwardi. Imajinasi tentang “bunyi” yang dihasilkan oleh pergerakan antarplanet sebagaimana diteorikan oleh Pythagoras. Maklumlah kita bila proses pencarian untuk mewujudkannya yang begitu panjang ini menuntut bukan hanya imajinasi tetapi juga menguras energi.

Untuk menghasilkan gaung yang terus-menerus pada gender, baik waktu ditabuh maupun digesek, sebagai contoh, Suwardi meletakkan bilah-bilah gender dengan cara memotong sebagian tabung resonator lalu dihubungkan dengan vibraphone yang digerakkan dengan dinamo bekas tape recorder. Adapun centhuwing, bonang dengan air yang sedikit digoyang. Atau, untuk menghasilkan bunyi air mendidih saat seruling ditiup, maka terciptalah jalenthir.

Ketika setiap instrumen unik itu tercipta sering melahirkan kejutan-kejutan produksi bunyi baru. Perasaan puas yang tak terkatakan meliputi Suwardi, penemu instrumen baru yang mengerjakaan sendiri pembuataan seluruh instrumen musiknya, kecuali Gamelan Gentha. Dalam proses pengerjaan itu ia dibantu para personel Gamelan Planet Harmonik – mahasiswa dan pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Mereka kompak dalam upaya proses pencarian bunyi demi lahirnya nada demi nada yang diinginkan sesuai arahan Suwardi.

Lompatan Budaya

Suwardi menyebutnya sebagai “gamelan” karena instrumen-instrumen perkusi tersebut sebagian besar ditabuh (dipukul) seperti layaknya alat musik perkusi tradisional Jawa. Selain dipukul, teknik menabuh lainnya yaitu dengan digesek (pada bilah-bilah vibrander) dengan alat gesek rebab, digoyang (seperti angklung), ditiup (jalenthir), di-thorek (scrap), dan digetarkan sehingga menghasilkan bunyi yang disebut trimolo.

Dengan instrumen-instrumen musik temuan baru yang otentik serta menghasilkan bunyian musik baru, Gamelan Planet Harmonik lewat bentuk eksperimentalnya, niscaya merupakan sebuah “lompatan” budaya yang genuine dari seorang seniman Indonesia.

Di samping kebaruan alat musiknya, Suwardi menyusun komposisi yang melodi serta bagian-bagiannya segera mengingatkan kita pada susunan gendhing karawitan. Bagi audiens yang mengakrabi karawitan Jawa, komposisi-komposisi karya Al Suwardi masih dikenali alias tak terlalu asing di telinga. Namun, mengingat instrumen-instrumen itu – baik Gamelan Gentha maupun “gamelan besi cor” – merupakan hasil ciptaan yang sama sekali baru; kita akan mendengar suguhan musik yang bukan hanya unik, melainkan juga terasa segar dan gairah baru.

Nomor-nomor komposisi dalam Planet Harmonik yang telah diciptakan Al Suwardi pun masih “Jawa”, seperti Pisungsung, Nunggak Semi, Gegineman. Selain itu, ada komposisi lain ciptaan Agus Prasetyo, Transformasi, sebagai wujud alih generasi dalam musik eksperimental ini. Agus adalah salah satu personel dari 17 personel dalam Gamelan Planet Harmonik. Durasi masing-masing nomor tersebut antara 10 hingga 20 menit.

“Melalui komposisi dalam Planet Harmonik ini audiens akan mendapatkan pengalaman baru. Dengan itu audiens akan lebih mengenal konsep garap yang baru – dalam berbagai aspeknya. Bukan hanya mengapresiasi komposisi lama yang sudah ada. Saya percaya, ini akan memperkaya wawasan serta menambah daya apresasi mereka. Apalagi bila mendengarkannya dilakukan berkali-kali,” papar Suwardi tentang cara mengapresiasi karya eksperimental.

Alhasil, sekalipun penjelajahan dan eksplorasi Al Suwardi terhadap bunyi baru – tanpa batas, sampai terinspirasi oleh teori Phytagoras tentang bunyi yang dihasilkan oleh interval akibat pergerakan planet-planet di ruang angkasa; komposisi-komposisi pada Planet Harmonik menunjukkan karya seorang anak bangsa yang kokoh dengan konsep serta jatidirinya.

Di sisi lain, kreativitas Al Suwardi dengan Gamelan Planet Harmoniknya sekaligus membuktikan akan universalitas musik tingkat dunia.

Tentang jalan kesenimanannya yang cenderung memilih bentuk eksperimental, baik menyangkut konsep garap maupun ide-ide penciptaan instrumen yang baru – termasuk hasil kreasi modifikasi, Al Suwardi mengungkapkan, “Saya terinspirasi oleh sosok Bratasena dalam lakon Dewa Ruci, saat ia diperintahkan oleh gurunya Resi Durna untuk mencari kayu gung susuhing angin. Saya selaluhaus akan pengetahuan, ingin terus mencari sesuatu yang baru.

Oleh (Ardus M Sawega) 

 

TENTANG EUROPALIA 

Europalia merupakan sebuah festival budaya internasional yang diadakan setiap dua-tahunan atau biennale, mempersembahkan cultural heritage – yakni kesenian dan kebudayaan dimana setiap festival dipilih satu negara tamu kehormatan atau Guest Country.Sejak pendiriannya di tahun 1969 di Brussel, Belgia, Europalia merupakan festival seni budaya multidisipliner dengan menyuguhkan baik seniman ternama juga seniman pendatang berbakat tidak hanya pameran namun juga seni pertunjukan, music, sastra prosa dan puisi, konferensi dan film.  Penyelenggaraan festival berpusat di Belgia yang dihadiri masyarakat Eropa dari berbagai kota ditempat penyelenggaraannya di beberapa negara Eropa lain. Warisan budaya dan artefak menjadi bagian penting karena dihadirkan benda museum asli, dan seni kontemporer sangat berperan, kreasi baru serta interaksi antara seniman pekerja seni negara tamu dan mereka di Eropa juga menjadi bagian yang memiliki perhatian khusus.

Tujuan Europalia adalah untuk mendekatkan dan menguatkan hubungan antara Belgia (dan Eropa) dengan negara tamu terpilih melalui diplomasi budaya.

 

EUROPALIA ARTS FESTIVAL INDONESIA

Indonesia terpilih terpilih sebagai negara tamu kehormatan di festival Europalia yang ke 26 ini, merupakan negara Asia keempat (setelah Cina, Jepang dan India) dan pertama Asia Tenggara. Pada festival seni internasional yang ke-26 Europalia 2017, Indonesia mendapatkan suatu kehormatan sebagai negara tamu yang mempertunjukkan berbagai kesenian dan kebudayaannya di Belgia dan di sekitar 50 kota di Eropa, berlangsung 104 hari, dimulai 10 Oktober 2017 hingga 21 Januari 2018.

Europalia Arts Festival Indonersia kali ini diselenggarakan di beberapa kota dan venue di 7 negara Eropa, yakni di Belgia, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Austria dan Polandia.  Festival Europalia ini menjadi ajang menduniakan keragaman budaya Indonesia yang toleran, demokratis dan modern namun tetap menjujung tinggi khasanah seni dan budaya Europalia. Diharapkan melalui dialog artistik dan karya cipta baru menjadi sentral dan mencerminkan misi EUROPALIA. Untuk itu dengan segala sesuatu yang terjadi di dunia saat ini, kita yakin akan misi ini yakni seni sebagai katalisator untuk mengenal dan saling memahami dengan lebih baik serta untuk mencapai perspektif baru yang diangkat melalui 3 (tiga) tema besarnya: Ancestors and RitualsBiodiversity danExchange.  Ketiganya ditampilkan melalui 5 (lima) program: Seni pertunjukan, Sastra, Pameran, Musik, dan Film, melibatkan 316 pekerja seni, seniman, budayawan pada 247 program. Pihak EUROPALIA memandang Indonesia sebagai negara multi-etnik dengan keragaman budayanya dan sudah saatnya mendapat perhatian dari masyarakat Eropa yang semakin majemuk.  Bukan hanya itu saja, diharapkan juga bisa memperkuat hubungan kerjasama Indonesia dengan negara-negara Eropa serta meningkatkan people to people understanding and contact.

RAMPAI INDONESIA

Rampai Indonesia merupakan tajuk yang dicanangkan melekat pada berbagai persembahan yang dipersiapkan dengan matang dan melalui kerja keras para pelaku dan pencipta seni dan budaya yang lahir dari talenta-talenta muda, baik melalui tradisi maupun Sekolah-sekolah Tinggi Seni yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dari perhelatan seni dan budaya multidisiplin ini diharapkan akan terjadi interaksi antar pelaku, penikmat, pecinta dan penggagas ajang kesenian dan kebudayaan dari publik dunia.  Melalui Europalia Arts Festival juga diharapkan akan meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara, demikian pula menumbuhkan kebanggaan serta memperkaya perbendaharaan seni dan budaya bangsa Indonesia. Persembahan seni tradisional dan kontemporer karya anak bangsa ini siap disuguhkan dan dalam berbagai program kegiatan yang segera dinikmati oleh khalayak pecinta seni