Ekosistem Budaya di Balik Europalia

29 November 2017
Ekosistem Budaya di Balik Europalia


Bulan pertama Europalia Arts Festival Indonesia telah terlewati. Pembukaan sukses. Ketiga pameran utama sukses. Semua pertunjukan ramai penonton, bahkan ada yang mem-bludag. Brussels. Liège. Antwerpen. Juga London, Amsterdam, dan sebentar lagi Berlin. Tetapi, ada juga Woluwé-Saint-Lambert, Strombeek, Charleroi dan lain-lain kota yang jarang kita dengar.

Bila seniman dan kesenian Indonesia menarik perhatian penduduk Antwerpen, kita mungkin tidak heran. Antwerpen merupakan kota dengan tingkat keanekaragaman tertinggi kedua di Eropa. Sukses di Brussels, London, Amsterdam pun tidak begitu mengherankan. Namun, Woluwé-Saint-Lambert, Strombeek, Charleroi?

Woluwé-Saint-Lambert berpenduduk 55.000 dan punya Collège Sacré Coeur de Lindthout dengan tradisi sekolah katolik yang kokoh. Di ruang pertunjukan sekolah tersebut — yang tidak kalah dengan ruang pertunjukan komersial — para penari Saman Gayo Lues memukau murid-murid, orang tua mereka, dan juga penduduk kota. Kita mungkin tidak mengenal kota ini, namun salah seorang penduduknya, Georges Prosper Remi atau Hergè, kreator tokoh komik Tintin, barangkali lebih akrab.

Penduduk Strombeek, atau tepatnya Strombeek-Bever, hanya 11.500. Letaknya di bagian Belgia berbahasa Belanda, namun banyak penduduk Strombeek berbahasa Perancis dalam keseharian mereka. Mereka memiliki pusat kebudayaan, Cultuurcentrum Strombeek atau CC Strombeek, yang didirikan tahun 1973, juga Kaai Theater, dan beberapa tempat pertunjukan seni lainnya. Untuk Europalia Arts Festival Indonesia, CC Strombeek menjadi tuan rumah Darlane Litaay dan Mohammad Hariyanto (tari) serta Yudha Sandy dan Elisabeth Ida (seni rupa).

Woluwé-Saint-Lambert dan Strombeek sebetulnya merupakan bagian dari metropolis Brussels. Charleroi berbeda. Penduduk kotanya sekitar 200.000. Namun, Charleroi juga merupakan pusat daerah metropolitan tersendiri, yang berpenduduk sekitar 500.000. Penduduk ini disebut — dan menyebut diri — Carolorégiens atau Carolos, yang mungkin diambil dari chronogram FVNDATVR CAROLOREGIVM (MDCLVVVI atau 1666). Orang Jawa mengenal kebiasaan seperti ini dalam bentuk chandrasengkala, seperti misalnya sirna ilang kertaning bumi, yang menunjukkan tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi. Ada kemungkinan, permainan kata dalam judul tarian Otniel Tasman, yaitu NOSHEHEORIT (No She He Or It), yang menjadi daya tarik bagi pengelola Les Ècuries, bagian dari Charleroi danse, pusat koreografi Federasi Wallonia-Brussels, yang memiliki misi mengembangkan tarian frankofon Belgia dengan menghadirkan tarian internasional, untuk menampilkan hasil koreografi Otniel. Mungkin.

Yang pasti, kita tidak akan pernah tahu alasan pemilihan kesenian dan seniman Indonesia oleh masing-masing venue bila kita tidak bertanya. Panitia Europalia tidak menjelaskannya.  

Karena itu, bisa jadi luput dari perhatian kita, sesungguhnya ada hubungan antar venue yang mendukung Europalia Arts Festival Indonesia. CC Strombeek bermitra dengan S.M.A.K. di Gent yang akan menampilkan Melati Suryodarmo pada tanggal 5 Desember. Les Ècuries di Charleroi berhubungan dengan Les Raffineries di Brussels dalam proyek Charleroi danse. Beberapa website venue memberikan informasi kegiatan dari venue yang lain, apalagi yang terkait dalam program Europalia. Hubungan seperti ini membentuk jejaring yang luas, lintas kota, bahkan lintas negara.

Lebih jauh, di dalam jejaring ini, kurator, produser, dan manajer venue berperan sebagai penentu program atau, dapat juga dikatakan, sebagai -juru kunci- yang harus dilewati kesenian dan seniman yang belum populer bila ingin berkiprah di Eropa. Melalui para -juru kunci- ini, festival musik di Krakow berhubungan dengan acara musik di London; pameran seni rupa berhubungan dengan pementasan tari di pusat kebudayaan yang sama; bahkan penampilan di panggung berkelanjutan dengan rekaman di studio.

Ada yang menyebut jejaring dan aktivitasnya ini sebagai industri budaya. Ada lagi yang menyebutnya ekonomi kreatif. Kita dapat melihatnya sebagai ekosistem budaya, sejalan dengan UU Pemajuan Kebudayaan. Adapun upaya untuk memasuki ekosistem budaya ini bisa disebut sebagai diplomasi budaya, sejalan dengan semangat yang terkandung dalam ayat 1, pasal 32, UUD 1945: -Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia …- serta pernyataan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, pada Pertemuan Puncak Organization of Islamic Cooperation satu tahun yang lalu di Jakarta, yang diulang pada pertemuan di Brussels menjelang pembukaan Europalia Arts Festival Indonesia: -I wish to strengthen people-to-people relationships by exchanging cultures.-

Hubungan antar manusia ini dirasakan langsung oleh Direktur Jenderal Kebudayaan ketika bertemu dengan pengelola venue Vooruit di Gent, La Boverie di Liège, dan lainnya. -Tantangannya sekarang adalah mengembangkan hubungan antar manusia ini di dalam ekosistem budaya Eropa. Kita tidak sekadar bertamu lalu pulang tapi membentuk ruang untuk terus memelihara hubungan. Misinya mempromosikan Bhinneka Tunggal Ika, multikulturalisme khas Indonesia, untuk mempengaruhi peradaban dunia,- ungkap Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid, di kantornya.

Idham Bachtiar Setiadi