Diplomasi Lewat Bahasa Bambu

22 December 2017
Diplomasi Lewat Bahasa Bambu


Barang kali ini kali pertama Dermaga Bonaparte di Antwerp beralih rupa, dengan ruas-ruas bamboo berceranggah dari permukaanairnya. Ketika angin berembus, lamat-lamat tertangkap bunyi yang terciptadari benturan kecil bilah-bilah bambu. Suara angklung. Sepotong Indonesia sedang hadir di kota pelabuhan di Belgia itu.

Susunan bambu itu adalah karya arsitek dan perupa Eko Prawoto. Ia membawa Bale Kambang—begitu ia menamai instalasi itu—sebagai bingkisan dari Indonesia untuk Belgia dan Eropa pada ajang Europalia Art Festival yang berlangsung Oktober 2017–Januari 2018. Bale Kambang menjadi bagian dari pameran senirupa kontemporer Indonesia bertajuk “Lalu, Kini [BudayaBendawi/Material Culture]”.

Lewattema “Lalu, Kini” kurator pameran Asikin Hasandan Rizki A. Zaelani mau menunjukkan kepada publik di Eropa bagaimana budaya benda wi atau material culture itu lekat dalam keseharian masyarakat Indonesia. Bahwa budaya material tradisional beserta keterampilannya tidak lenyap dengan datangnya yang modern. Ia justru tumbuh sebagai sebuah kearifan.

Dalam proses kurasi, konsep Bale Kambang yang ditawarkan Eko dinilai relevan dengan tema yang akan diusung. Bale Kambang—juga karya Faisal Habibi yang menampilkan pola-pola geometris pada bangunan di Brussel—memperlihatkan symbol dan narasi yang mengacu pada ketradisian, kemodernan, dan kekinian yang hidup di Indonesia.

Eko bercerita tentang karyanya, “Ide awalnya membuat semacam ruang publik di tengah air. Publik dapat mengunjungi dan mengalami ruang yang menggunakan konstruksi bambu sepenuhnya. Sebuah gagasan untuk membagikan pengalaman ruang bagi publik di Eropa, Antwerp khususnya. Mengusung sekeping pengalaman tentang budaya Indonesia.”

Seperti pada karya-karya yang lain, Eko bergerak pertama-tama dari situs dan material. Suatu kali, Eko pernah berkata, situs tidak pernah terisolasi, ia punya kaitan dengan masa lalu dan masa depan. Ketika pada awal 2017 lalu Dermaga Bonaparte di Museum aan de Stroom (MAS) disodorkan kepada Eko sebagai situs untuk karyanya kelak, ia membayangkan struktur bambu yang pas dibangun di latar badan air. Ia lantas teringat bale kambang—tempat tetirah pada tradisi kerajaan masa lampau, juga imaji-imaji tentang permukiman nelayan berupa rumah panggung di pinggir sungai. “Ini mungkin bisa merepresentasikan budaya serta pengalaman ruang tentang Indonesia,” tutur Eko.

Di sini bambu adalah pilihan strategis. Dalam esainya yang berjudul “Ketukangan”, Avianti Armand, dengan menyitir pendapat Sennet, menyatakan bahwa seni dan arsitektur dikerjakan atas dasar “kesadaran material”. Kesadaran untuk bekerja melalui dan dengan perkakas yang ada pada kita. Kesadaran untuk menghasilkan sesuatu yang berkualitas disertai kepekaan pada apa yang terpaut dengan perkakas itu: kepekaan kepada tenaga manusia, bahan, lingkungan alam, dan semua yang konkret, berubah, dan majemuk.

Bambu, sebagai bagian dari tradisi Indonesia, memiliki akar panjang di masa lalu dan kemungkinan berkembang yang luas di masa mendatang. Orang Indonesia secara turun-temurun punya keterkaitan dengan bambu dan kecakapan untuk bekerja dengan material itu. Orang Indonesia, juga Asia, telah lama akrab dengan bambu sebagai material untuk bahan bangunan, peralatan dapur, alat kesenian, atau kerajinan. Dengan memakai material bambu dalam karya Bale Kambang, Indonesia menunjukkan realita budaya yang ada di negara ini. Potensi, dinamika, dan persoalannya.

“Indonesia bukan sekadar penghasil bahan baku bambu, tetapi terlebih adalah pemilik aset budaya berupa bambu itu, yang berwujud pengetahuan dan keterampilan. Dalam konteks diplomasi budaya, saya pikir ini dapat menjadi sebuah jembatan yang baik untuk mengomunikasikan budaya Indonesia,” ujar Eko.

Di sisi lain, budaya bambu juga kebanyakan masih dan hanya dikenal dalam wujudnya yang vernakular atau tradisional. Tampilnya instalasi bambu di Europalia juga menjadi kesempatan untuk mengomunikasikan bambu dalam karya kontemporer.

Asikin mengatakan, material bambu yang kerap digunakan di Indonesia dan juga Asia bisa menjadi tawaran baru bagi masyarakat Eropa yang sangat industrial. Terlebih, di tengah gerakan untuk kembali menggunakan material yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Bambu yang kerap disebut sebagai material masa depan relevan karena kecepatan pertumbuhannya yang tinggi, kelenturan, dan kekuatannya.

Tarian Bambu

Pekerjaan membangun Bale Kambang dimulai pada pertengahan Oktober 2017. Ratusan batang bambu yang dibawa dari Yogyakarta dengan kontainer diturunkan di Antwerp. Di tengah cuaca cukup dingin dan angin yang lumayan kencang kala itu, para tukang bambu dari Indonesia bekerja.

Dalam proses itu, Eko melihat, tantangan membangun desainnya datang dari kondisi fisik situs yang tidak rata dan penuh lumpur. Faktor seperti lumpur di dasar perairan, kedalaman air, dan kontur dasar dermaga adalah varibel teknis yang asing bagi tim Indonesia. Asikin mengatakan, sejumlah penyesuaian pun perlu dibuat, misalnya melubangi bagian dasar bambu justru agar air dan lumpur bisa masuk ke dalamnya. Dengan begitu, dasar perairan akan lebih kuat mencengkeram bambu.

Salah satu penyesuaian mayor, struktur Bale Kambang mesti diubah dari rancangan awal. Mulanya, bentuk Bale Kambang jika dilihat dari atas menyerupai sulur. Melambangkan pertumbuhan dan persahabatan antara dua negara. Orang-orang bisa berjalan di atas instalasi itu dan mengalami berada di dalam ruang bambu. Namun, karena kondisi tidak memungkinkan orang untuk menjejak instalasi ini, bentuknya dimodifikasi.

Struktur final instalasi ini terdiri atasdua bagian, yang di badan air dan di darat. Instalasi yang berada di badan air berwujud seperti tanaman air yang mengapung, sementara yang di darat adalah konstruksi vertikal yang memiliki platform, tempat orang bisa duduk di atasnya. Di sekeliling konstruksi inilah digantungkan banyak angklung bambu yang berbunyi ketika angin bertiup. Bentuk instalasi yang cenderung lebih modular itu, juga material bambu yang tampak rustic sekaligus hangat, memberi kontras di antara bangunan-bangunan modern yang berkesan dingin di Antwerp.

Sejak proses membangun sampai karya ini jadi, bambu-bambu dan Bale Kambang cukup menarik perhatian publik. “Banyak yang baru pertama kali lihat bambu,” kata Eko. Saat perakitan bambu, satu atau dua orang kadang singgah dan bertanya, juga memotret. Beberapa orang bahkan meminta potongan bambu yang tidak terpakai untuk dibawa pulang dan disimpan.

Eko memberi deskripsi indah tentang karyanya ini, “Bale Kambang adalah struktur yang menari dan mengapung, yang bentuk organiknya beradaptasi dengan fleksibilitas air. Ini adalah pertunjukan material di dalam air, makhluk yang menari seiring alunan angklung. Bingkisan dari Pertiwi Indonesia untuk kota Antwerp.”(Novka Kuaranita)