Di Bawah Nol Derajat Bersama JHF, DJ Bayu, Filastine dan Nova

13 December 2017
Di Bawah Nol Derajat Bersama JHF, DJ Bayu, Filastine dan Nova


 Di Bawah Nol Derajat Bersama JHF, DJ Bayu, Filastine dan Nova

Lea Pamungkas
 
Den Haag—EUROPALIA. Gelap mulai beranjak di pelataran Nieuwe-Kerk Den Haag, semua terasa lengang. Sebuah becak sebagai dekor, dipasang di depannya. Asing dan sendiri. Entah kenapa, tiba-tiba di kepala saya nyelonong selarik puisi: ke mana akan pergi/mencari matahari/ketika salju turun/pepohonan kehilangan daun.* Dan ya, salju mulai turun seperti kapas, dan temperatur melorot di bawah titik nol.
 
Malam minggu itu (9/12), di sini ada pertunjukan-pertunjukan menarik: Jogja Hip-hop Foundation (JHF), DJ Bayu, serta Filastine & Nova. Saya bergegas masuk sambil  menahan  dingin.
 
Meraih ritual hiphop
Lampu-lampu kristal masih bergantung menjuntai dari ketinggian langit‐langit Nieuwe-kerk. Dekor gereja seperti mimbar pastur, orgel gereja, dan kursi-kursi ditata melingkar. Gereja yang dibangun tahun 1656, adalah salah satu bangunan yang dilindungi UNESCO. Kendati sejak tahun 1965 telah beralih fungsi menjadi tempat pertunjukan dan seminar, baik arsitektur maupun interiornya tidak boleh diubah.
 
Dari bangku penonton yang berjarak kurang lebih 50 meter, dan terutama oleh kemegahan ruang Nieuwe-kerk, personil JHF : Kill the DJ ( Marzuki Mohammad), Rotra (Janu Prihaminanto), Mamox (Heri Wiyoso), dan Balance (Perdana Putra), tampak seperti sosok-sosok mungil yang meloncat-loncat kian kemari.
 
Salah satu nomor mereka yang mengesankan, Sadulur dengan latar visual biografis perbedaan agama antar-anggota JHF, ditampilkan malam ini. Sadulur, yang artinya satu saudara, layaknya sebuah peringatan untuk problem pertentangan antar-agama dewasa ini. Selama ini JHF memang dikenal sebagai kelompok musik yang cukup kritis menanggapi situasi sosial politik di tanah air.
 
Di tangan JHF, hiphop menjadi sarana yang unik. Dengan pola sintaksis yang tak mungkin ditemui dalam bahasa sehari-hari dan bahasa campur aduk Jawa-Indonesia- Inggris,  tetapi  tanpa  melupakan  musikalitasnya,  mereka  membangun arena komunikasi yang dialogis. Kendati sudah dua lagu dipertunjukan JHF, sekitar 50- an penonton yang hadir—umumnya orang Indonesia, tampak ragu‐ragu. Tetap duduk atau ikut bergoyang.
 
Ritus hiphop—kebersamaan, suasana dialogis dengan penonton, dan kehadiran tanpa jarak—sesaat gagal berlangsung. “Ayolah, mari kita persempit jarak,” tukas Marzuki Mohammad di sela jeda lagu. Inisiatif tepat. Suasana canggung mulai mencair, para penonton akhirnya satu per satu turun dari tempat duduknya. Dan ikut bergoyang serta menimpali celetukan JHF.
 
 
Spirit ruang, waktu, dan publik
Tampilan berikutnya pada malam bersalju dengan temperatur yang anjlok dibawah titik nol ini adalah Filastine & Nova, serta DJ Bayu. DJ Bayu, nama lengkapnya Bayu Aditya, yang pada dua malam sebelumnya tampil bersama JHF di Deventer, telah menyiapkan seperangkat piringan hitam kesukaannya.
 
“Hari ini saya hanya diminta untuk membuka acara JHF, kemudian nanti menutupnya. Semacam after party gitulah,” jelas Bayu yang ketika ditemui Kamis malam (7/12). ”Saya suka tampil pada bagian-bagian ini. Karena bagi saya, seorang disc-jockey bukanlah seseorang yang berada di depan panggung atau mengatur sesuatu. Tetapi bagian dari sebuah latar. Yang kemudian menangkap spirit yang ada dalam ruang, waktu, dan publik saat itu,” tambahnya.
 
Pemuda kurus kelahiran Bandung ini mengaku mengawali karirnya sebagai DJ karena hobinya mengumpulkan piringan hitam. Dari hobi ini kemudian ia melakukan pelbagai eksperimen. Ketertarikannya pada musik ini pula yang mengantarnya ke Turki dan akhirnya Australia. “Sehari-hari saya bekerja di sebuah perusahaan rekaman di sana. Selain terus mengasah diri saya.”
 
Mengolah pembatasan jadi energi
Filastine & Nova membuka paruh kedua pertunjukan malam ini dengan kolaborasi terbarunya, Drapetomania. Drapetomania adalah seri improvisasi musik studio dengan unsur musik Afrika, Asia, Arab juga gamelan Jawa. Yang kemudian dikomposisikan produk elektronik, drum, bass dan dubstep, dan vokal Nova dalam Bahasa Inggris dan Indonesia berlanggam Jawa.
 
Ruang Nieuwe-kerk dibuat pekat dan penonton diajak masuk pada suasana bandara udara, untuk kemudian memasuki pesawat terbang bersama Filastine, Nova, dan Wirastuti Susilaningtyas. Untuk Europalia, Filastine & Nova hadir bersama Gunarto dan Toto Tewel.
 
Pada layar belakang serentetan film ditayangkan para pengungsi Suriah, kampung-kampung berdebu di daerah gurun, dan kawasan urban perkotaan. Drapetomania (secara etimologi artinya dorongan kuat untuk lari) adalah pertunjukan musik, video semantik, dan tarian.
 
Hampir di setiap komposisi musiknya, Filastine & Nova kerap memasukkan tema-tema aktual, seperti problem gender, lingkungan, dan pembatasan (border). Dalam proses pengerjaan album Drapetomania, yang dirilis April lalu, mereka kerap bepergian baik untuk melakukan syuting ataupun kerja kreatif lainnya. Tak jarang mereka mengalami berbagai kesulitan berkait dengan soal visa dan izin tinggal. Menghadapi berbagai pembatasan. Pengalaman ini kemudian banyak mempengaruhi proses kreatif mereka.
 
“Menolak pembatasan ini, bukanlah semata pemberontakan,” demikian Nova Ruth ketika ditemui sebelum pertunjukan dimulai. “ Tetapi juga keprihatinan, doa dan semangat. Menjadi energi.”
 
 
 
Lemahnya publikasi, kuatnya pengeluaran
Permainan multimedia yang apik, penampilan yang teatrikal, komposisi musik eletronik-eklektik dan olahan vokal yang kaya gradasi dari Filastine & Nova ini, sempat mencuri perhatian publik pada program A Night in Indonesia Holland Festival Juni 2017 lalu. Berbeda dengan malam ini, kala itu ratusan penonton ikut menyaksikan pertunjukan mereka. Dengan harga tiket relatif terjangkau, Eu 12, penonton disuguhi berbagai genre musik Indonesia selama 5 jam.
 
“Tidak, tidak banyak yang tahu bahwa ada program Europalia di sini. Tidak banyak publikasinya. Saya diberitahu kawan bahwa ada pertunjukan di sini. Dan saya tinggal di Den Haag, jadi saya tetap bisa nonton,” jelas Ron Pasaribu (29), seorang penggemar live-music ketika ditanya pendapatnya tentang minimnya penonton hari itu.
 
Menurut Ron, yang sehari-hari bekerja di sebuah rumah makan, sebenarnya ia sudah berjanji dengan beberapa orang dari kota-kota lain di Belanda. “Tapi mereka batal datang, selain udara buruk dan lintas kereta api sulit, kayaknya harga tiket yang lumayan mahal itu pun jadi alasan.”
 
 
*Salju, karya Wing Kardjo