Cerita dari Kande, Cerita dari Aceh

22 December 2017
Cerita dari Kande, Cerita dari Aceh


 Apakah yang tersisa ketika suatu masyarakat terapit antara peperangan panjang dan bencana alam yang datang bertubi-tubi? Jika keresahan mereka dapat tertuang dalam lagu, apakah yang akan mereka nyanyikan?

Bagi Kande, sejarah pelik ini tak mesti berujung pada lagu-lagu bernada murung. Kelompok musik beranggotakan 9 orang ini didirikan di Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam, pada tahun 2000. Dipimpin oleh vokalis mereka yang kharismatik, Rafli, mereka memboyong alatmusik tradisional Aceh ke panggung, mencampuradukkan pengaruh tradisi dengan instrumentasi Barat, dan memukau penonton mancanegara dengan penampilan mereka yang enerjik. Tak berlebihan jika mereka disebut sebagai ikon musik Aceh kontemporer, pahlawan lokal yang semestinya masuk radar penikmat musik kebanyakan.

Para personil Kande tumbuh pada masa-masa kelam Orde Baru, ketika Aceh ditetapkan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM). Antara 1989-1998, tentara nasional berbondong-bondong menduduki Serambi Mekkah untuk menyudahi konflik berkepanjangan dengan gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Temuan dari Amnesty International mencatat, pada periode ini antara 10 hingga 30 ribu orang tewas, diculik, dihilangkan, atau menjadi korban penyiksaan. Banyak masyarakat sipil pun turut gugur dalam operasi militer besar-besaran itu.

Bagi Chairyan, manajer sekaligus -tetua- Kande, masa-masa ini membuat kesenian Aceh mati suri. “Saat itu ada jam malam di Aceh,” kenangnya, “setiap jam 7 malam, semua orang harus tutup pintu dan tidak boleh keluar rumah, kalau tidak bisa dicurigai. Situasinya mencekam.” Padahal, tuturnya, banyak kegiatan kesenian seperti konser justru berlangsung pada malam hari.

Setelah status DOM dicabut pasca kejatuhan rezim Orde Baru, sebetulnya musik Aceh sempat menggeliat lagi. Namun, kisah Chairyan, saat itu khazanah musik populer di Aceh didominasi oleh penyanyi-penyanyi picisan yang “menjiplak lagu India dan menyanyikannya ulang dalam bahasa Aceh.”

Hal ini mengganggu Chairyan dan Rafli, kawan baiknya yang saat itu bekerja sebagai guru. Kondisi semacam ini tak hanya buruk secara estetis. Namun, tradisi budaya Aceh beserta kearifan lokal yang menyertainya bisa terlupakan. Bersama beberapa musisi muda yang mempelajari alat-alat musik tradisional di sanggar, mereka pun berinisiatif mendirikan grup musik bernama Kande – yang berarti pelita raja-raja.

Menyaksikan mereka dari dekat, anda dapat merasakan energi luar biasa dari musiknya. Dalam lagu Meuseunoh, misalnya, nada-nada kompleks dari gitar dan bass kemudian dipecah oleh iringan perkusi dari rapa-i (sejenis rebana) dan tambo. Namun, olah vokal brilian dari Rafli tetap menjadi bintangnya. Ia merapalkan lirik berbahasa Aceh dengan lantang, membabat habis falsetto tanpa sedikitpun beristirahat – konon suaranya dapat mencapai lima oktaf – selagi bersahut-sahutan dengan para personil lain yang sigap menyambut seruannya. Adu vokal beroktan tinggi ini lantas diimbuhi oleh melodi panjang dari seurune kale, sejenis seruling yang melafalkan nada-nada nyaring tanpa jeda. Pada lagu Tarek Pukat, aksi saling berbalas vokal ini semakin berpadu. Nyanyian tradisional para nelayan yang menarik tangkapan ikan itu diiringi oleh rapa-i yang rancak – seperti mengajak anda berdiri di pesisir Selat Malaka.

Mereka ada di persimpangan yang spesial antara tradisi dengan modernitas. Kande sadar betul akan -ke-Acehan--nya, namun mereka tak segan mendorong tradisi tersebut keluar dari zona nyaman. Lirik mereka pun tak segan mempertanyakan berbagai persoalan sosial – mulai dari hukum Hak Pengusahaan Hutan yang memojokkan masyarakat adat, kerinduan Aceh terhadap sosok pemimpin yang adil, hingga perdamaian.

Meski sempat dicibir oleh produser-produser lokal karena musik mereka yang tak lazim, perlahan-lahan Kande dikenal oleh publik Aceh. Dengan modal seadanya, mereka merekam album Fighting Spirit pada tahun 2002. Di luar dugaan, album tersebut sukses dan menaikkan nama Kande. Di tengah Aceh yang masih belum sepenuhnya lepas dari peperangan, Kande menjadi oase kecil sekaligus pertanda bahwa musik Aceh masih ada dan berlipat ganda.

Bencana gempa sekaligus tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004 mengubah segala-galanya. “Tsunami itu terjadi ketika perang di Aceh sedang di puncak-puncaknya,” kenang Chairyan. “Ini seperti teguran dari Tuhan, bahwa peperangan yang terjadi selama ini di Aceh tidak benar. Mungkin anda merasa paling benar karena punya kekuatan, tapi dalam 10 menit semuanya hilang. Lantas, apa yang terjadi?Alhamdulillah, peringatan itu didengar oleh pihak yang bertikai.”

Hanya berselang beberapa bulan setelah bencana tersebut, pihak GAM dan Indonesia sepakat menandatangani perjanjian damai di Helsinki, Finlandia. “Kami dibesarkan oleh sejarah konflik yang tak pernah berhenti,” kenang Rafli. “Dan tsunami itu jadi titik pecahnya, di mana kami terlepas dari isolasi panjang.”

Episentrum dari gempa hebat tersebut hanya berjarak 149 kilometer dari Meulaboh, kampung halaman Chairyan. Ketika air raya kembali surut, Aceh telah rata dengan tanah dan ratusan ribu orang meregang nyawa atau hilang. Ibu dari Chairyan sendiri, serta seorang personil Kande – Amir, sang bassis – turut tewas.

Setelah tsunami, bagi Chairyan, ada “ruang kosong” yang mesti diisi agar kesedihan tidak tumbuh terus menerus. Tragedi hebat tersebut tak hanya menjadi tamparan bagi para pihak yang berperang, namun juga menjadi pemersatu masyarakat Aceh. Mendadak, provinsi yang bertahun-tahun pecah karena perang itu dipersatukan lagi oleh duka bersama.

Bantuan dari luar Aceh, baik dari dalam maupun luar negeri, mulai datang silih berganti. Pada awal 2005, ketika kondisi provinsi NAD mulai membaik, Kande mendapat dukungan dari inisiatif Aceh Damai untuk tur ke 25 titik. “Awalnya ada yang menolak,” kisah Chairyan. “Mereka menganggap kami seperti bergembira di atas kesedihan orang banyak. Tapi, apakah kesedihan ini harus terus kita pelihara? Kita belum selesai sampai di sini. Kesedihan itu akan terus kita bawa, tapi kita harus berjalan terus.”

Kesuksesan konser ini kemudian menarik perhatian Aceh Monitoring Mission, inisiatif negara-negara Uni Eropa yang bertugas mengawasi transisi perdamaian di Aceh pasca Perjanjian Helsinki. Tahun 2005 juga, mereka mendapat dana untuk tur di 12 titik yang dulu “jadi kantung-kantung perang.”

Apabila tur pertama mereka fokus pada penyembuhan trauma dan menjangkau masyarakat, tur kedua ini jauh lebih berbahaya. “Tidak ada yang suka perang, tapi ada segelintir orang yang berkepentingan dengan adanya perang,” ucap Chairyan. “Ketika kami tur dan bicara tentang perdamaian, kami mengambil risiko besar, karena bisa jadi ada yang tidak suka.”

“Tapi, kami pasang badan,” ungkapnya, tegas. “Suatu saat nanti kita tetap mati. Yang jadi pertanyaan adalah, matinya bagaimana? Prinsip saya, lebih baik mati untuk memperjuangkan kepentingan orang banyak daripada mati di hotel. Ternyata, prinsip itu kami percayai bersama di Kande.”

“Berkesenian itu media untuk menggubah berbagai macam persoalan yang kontekstual,” ucap Rafli. “Jadi, kami harus bersiasat untuk menyampaikan persoalan obyektif tentang ke-Aceh-an, termasuk keinginan Aceh untuk menyampaikan narasinya dan local wisdom-nya. Ini juga alasan kenapa hampir semua lagu kami dinyanyikan dalam bahasa Aceh.Lagu-lagu kami berbicara tentang membawa Aceh menuntut haknya dalam koridor konstitusi.”

Ke manapun Kande pergi dalam tur bersejarah ini, mereka disambut oleh puluhan ribu penonton yang membludak dari kampung-kampung dan kamp pengungsian. “Ternyata, ada rindu yang dipertemukan,” ujar Rafli, tersenyum. “Rupanya, masyarakat Aceh merindukan sesuatu yang berbicara benar, obyektif, dan berimbang.”

Usai sukses dengan tur perdamaian ini, mereka diundang bermain di Skotlandia pada tahun 2005 dan disambut meriah oleh penonton-penonton di Britania Raya. Sembari geleng-geleng kepala, Chairyan mengisahkan pengalaman -ajaib--nya di sebuah gedung pertunjukkan di Skotlandia, 2005 silam. “Ketika kami mulai main dan menabuh rapa-i, ada penonton perempuan tua yang teriak-teriak seperti kerasukan,” kenangnya. “Ia ditenangkan sebentar oleh panitia, lalu kembali ke dalam dan menonton pertunjukkan kami sambil menangis. Karena kulitnya cokelat, kami pikir beliau orang India!”

Setelah konser usai, Nenek itu menghampiri para personil Kande, dan mengenalkan diri dalam bahasa Indonesia. “Ternyata, dia orang Aceh!” ucap Chairyan, takjub. “Bertahun-tahun lalu, dia kawin lari dengan pelaut asal Skotlandia, dan dia sudah tidak pernah melihat Aceh selama 40 tahun lebih!” Ketika sesepuh itu mendengar bebunyian rapa-i, ia tak kuasa menahan rindu akan tanah kelahirannya, dan menangis tersedu-sedu. Alangkah indahnya membayangkan bahwa kenangan empat dekade tentang kampung halaman dapat kembali pada ingatan hanya karena sepukul-dua pukul rapa-i, dan masih sesegar hari kemarin.

Usai tur Britania Raya tersebut, mereka kembali ke Indonesia dan merekam album berjudul Meukondroe bersama musisi jazz kawakan Dwiki Dharmawan. Dirilis tahun 2006, album tersebut sekaligus menandai -fase kedua- Kande, di mana mereka lama tak menyambangi panggung luar negeri dan lebih banyak bermain di Indonesia. Baru pada tahun 2014, tutur Chairyan, mereka diundang turut serta dalam sebuah pasar seni pertunjukkan, dan bakat mereka menarik perhatian seorang patron yang mendukung mereka berangkat lagi ke Skotlandia.

Perempuan tua yang sama hadir lagi berkali-kali sepanjang kunjungan kedua Kande ke Skotlandia. “Kami sudah menawari dia tiket, tapi dia tidak pernah mau,” kenang Chairyan. “Katanya, -Tidak, saya mau dukung kalian.- Akhirnya hampir setiap malam kami antar dia ke terminal bus. Sudah seperti Nenek sendiri.”

Di sana, penampilan memukau Kande diganjar penghargaan khusus Herald Angels Award, dan Kande mulai rutin tampil di luar negeri. Pada tahun 2015, misalnya, mereka diundang tampil untuk Holland Festival di Belanda – Chairyan terkekeh saat mengingat bagaimana Direktur festival tersebut datang secara pribadi ke Banda Aceh untuk membujuknya. “Awalnya kami tidak mau karena acaranya pas bulan puasa,” kisah Chairyan, geli. “Tapi begitu dia beneran datang ke Aceh, saya luluh juga!”

Bagi Rafli, Kande tak hanya menjadi medium berekspresi bagi para personilnya yang luar biasa berbakat. Namun juga menjadi ruang untuk mengangkat kembali identitas dan narasi tentang Aceh, yang lama diporak-porandakan perang dan diguncang oleh modernitas. “Musik perlu punya sikap, bukan hanya unsur komersil,” tegasnya. “Belakangan, kita begitu sibuk berbicara tentang kearifan Nusantara dan kebaruan, sehingga kita jadi lupa tentang kearifan daerah. Cerita dari daerah dan kisah-kisah lokal tidak pernah terangkat.”

Narasi lokal inilah yang nantinya akan mereka bawa lagi ketika mereka berangkat ke Belanda, Belgia, dan Polandia, sepanjang 15-19 Desember 2017 untuk rangkaian konser dalam tur Europalia. Mereka sendiri berencana berangkat dengan formasi cukup minimalis – -hanya- 9 orang, tak seperti panggung-panggung dalam negeri di mana Kande bisa memboyong 14 orang lebih.

Namun, ketika saya duduk di sebelah Rafli dan mencuri dengar sesi latihan mereka, kekuatan musik Kande tidak berkurang. Mereka tetap terdengar kaya, kompleks, namun familiar pada saat bersamaan. Setelah latihan usai, mereka bercengkrama di beranda dan berbondong-bondong memesan kopi. Kande telah bersama-sama selama 17 tahun lebih. “Kami ini sudah seperti keluarga,” pungkas Chairyan.

“Kamu keluar rumah dan ada mayat orang yang mati terbunuh,” kenang Chairyan. “Generasi kami tumbuh dengan realita itu. Mau tidak mau, bahkan seorang musisi pun harus bersikap. Tapi, perang kami bukan dengan senjata seperti itu. Perang kami di sini, di musik. Ada kesedihan di lagu-lagu kami, dan ada kemarahan.”

Namun, lebih dari apapun, ada harapan juga yang terlalu lantang untuk diabaikan.

****

Kande beranggotakan Rafli (vokal/gitar), Chairyan (manajer/vokal latar), Zulkifli (rapa-i/vokal latar/seurune kale), Zulfikar (rapa-i/vokal latar), Munzir (rapa-i/vokal latar), T. Hariansyah (rapa-i/vokal latar), Fadhlul Suni (gitar), Syafrul (bass), dan Yusufri (penerjemah).

Dalam partisipasi mereka di program Europalia, Kande akan tampil di:

1.    DEVENTER SCHOUWBURG, Deventer, Belanda (15 Desember 2017)

2.    DE CENTRALE, Ghent, Belgia (16 Desember 2017)

3.    NIEUWE KERK, Den Haag, Belanda (17 Desember 2017)

4.    RADIO ASIA FESTIVAL, Warsawa, Polandia (19 Desember 2017)

TONTON

Kande – “Meuseunoh” àhttps://www.youtube.com/watch?v=7i-6Yfjjw60

Kande – “Tarek Pukat” àhttps://www.youtube.com/watch?v=zpq1NJpVVGI

 

oleh Raka Ibrahim