Bernostalgia Sembari Merawat Jejaring Budaya

18 October 2017
Bernostalgia Sembari Merawat Jejaring Budaya


Dengan penyanyi utama Japra Shadiq bergaya ibarat Mick Jagger muda, irama penggoyang jiwa dari pemain drum Tika Pramestri, dan denting gitar Andre Idris yang mengingatkan kepada The Shadows, Indische Party menghadirkan rhythm and blues 1960-an penuh nuansa dan gema Timur Jauh yang dibawakan dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Indische Party, yang dibentuk pada 2011, meraih penghargaan Converse Rubber Tracks 2015 dan berkesempatan merekam dua lagu di Abbey Road Studios. Mereka merilis album debut berjudul Indische Party pada 2013, diikuti On  Vacation, dan Analog pada 2016.

Demikian ringkasan salah satu mata acara yang tercantum pada laman Les Brigittines, pusat kebudayaan kontemporer terkemuka di Brussel, Belgia. Tiap tahun, sejak 1976, Les Brigittines—yang bermarkas di gedung yang berdiri sejak 1657 dan gedung modern di sampingnya—menggelar berbagai pertunjukan seni kontemporer dari teater, drama, musik, hingga seni visual. Dan pada 1999, pusat kebudayaan ini dinobatkan sebagai “Contemporary Art Centre for Movement and Voice of the City of Brussels”. 

Kurator Festival Europalia secara khusus mengundang Indische Party bersama David Tarigan dan Flower Girls untuk tampil di pusat kebudayaan bergengsi itu pada 21 Oktober 2017. Mereka akan tampil dalam acara bertajuk “Indonesian Rock n’ Roll, Evening of Funky 60s & 70s”. Acara yang sama juga digelar di Rich Mix Cultural Foundation, London, sehari sebelumnya.

Memperkuat jejaring budaya

Bagi Indische Party dan David Tarigan, Festival Europalia Indonesia 2017 merupakan kali kedua mereka menembus pasar internasional. Ada nostalgia tersendiri. Yang pertama, kejadiannya sekira peralihan 2014 ke 2015. Pada waktu itu, Indische Party, yang terdiri dari Japra Shadiq (vokal/harmonika), Andre Kubil Idris (gitar), Jacobus Dimas (bass), dan Tika Pramesti (drum) sedang menyiapkan rekaman album kedua, Analog. Belum sempat album itu diselesaikan, mereka mendadak mendapat kabar bahwa Indische Party memenangkan kontes Converse Rubber Tracks dan terpilih untuk ikut rekaman gratis ke salah satu studio mereka di Abbey Road, London, Inggris.

“Itu, benar-benar yang sebenarnya iseng-iseng berhadiah. Enggak nyangka bakal bisa terbang ke London. Bahkan, rekaman di studio yang sama dengan grup band legendaris The Beatles,” Japra Shadiq, vokalis, mengakui.

Studio Two sendiri dulu sempat digunakan sebagai tempat rekaman band-band legendaris seperti The Beatles dan Pink Floyd. Selain itu ada pula Elton John, Kate Bush, Oasis, hingga Adele.

Pada September 2015, tepatnya tanggal 21–22, Indische Party memulai rekaman bergengsi mereka di Abbey Road Studios. Saat itu, Japra cs menggaet David Tarigan untuk mendampingi sebagai produser. David Tarigan, yang lebih suka disebut music selector daripada disc jockey itu, sampai menangis ketika tiba di studio. 

"Sampai di sana nggak sanggup dia. Nangis," kata Kubil yang disambut gelak tawa para personel Indische Party lainnya, seperti disitat dari Rolling Stone Indonesia, Rabu (11/10/2017). "Pianonya ‘Lady Madonna’ (lagu The Beatles, 1968) tuh, dielus-elus sama dia. Sedih gitu," tambah Kobus. 

Kehadiran David Tarigan diakui Indische Party sangat membantu tumbuh kembang band tersebut. Selain sebagai produser, David berperan penting menjembatani komunikasi para personel dengan penata rekam kenamaan asal Inggris, Alan O`Connell, yang sudah terbiasa bekerja sama dengan musisi papan atas seperti Mark Ronson, Paul Epworth, Erol Alkan, Bruno Mars, The Vaccines, Placebo, Duran Duran, Metronomy, Klaxons, The Future Heads, hingga The Rapture.

Hasilnya, dua single berhasil diboyong pulang dalam bentuk piringan hitam (vinyl) dan CD-nya. Satu lagu dalam bahasa Inggris kemudian menjadi judul album mini mereka, On Vacation, sedangkan satu lagu lagi sekalipun masih terkait juga sama Inggris, tetapi dinyanyikan dalam bahasa Indonesia: “Ku Butuh Poundsterling”.

Ketika ditanya perihal latar belakang kedua lagu tersebut, Japra menjelaskan, lagu “On Vacation” merupakan bentuk keriaan mereka bisa jalan-jalan ke Negeri Tiga Singa. “Kami merayakannya dengan bikin lagu itu. Kami ke sana untuk rekaman, tapi sambil senang-senang,” celotehnya. 

Japra menambahkan, “Maunya sih rilis lebih banyak lagi. Tapi enggak sempat, karena hanya dapat dua hari.”

Kini, setelah sukses mengejar rekaman ke luar negeri, Indische Party kembali mendapatkan kesempatan emas untuk menjejakkan kaki ke Benua Eropa dalam ajang Festival Europalia. Pada tahun ini Indonesia menjadi negara kehormatan yang terpilih memamerkan kekayaan seni dan budayanya di tujuh negara Eropa, yang meliputi Inggris, Belgia, Austria, Prancis, Jerman, Belanda, dan Polandia. Festival berlangsung mulai 10 Oktober 2017 hingga 21 Januari 2018