Bambu, lebih dari sekadar tanaman

11 December 2017
Bambu, lebih dari sekadar tanaman


Instalasi seni merupakan kesempatan untuk menampilkan bambu kepada dunia. Menghubungkan proyek seni publik dengan material eksotik bambu adalah kombinasi yang indah. “Sebagai arsitek saya merasa memiliki privilege untuk membawa bambu pada tingkat aplikasi yang berbeda,” ujar Eko.

Membawa bambu ke panggung internasional juga mengubah persepsi tentang bambu menjadi lebih positif dan menghapus stigma negatif, bahwa bambu identik dengan kemiskinan.

“Membawa tukang kayu yang juga terampil mengolah bambu juga mempromosikan keahlian unik tradisi yang kita miliki,” kata Eko. “Juga mempermudah komunikasi dengan komunitas lain karena tidak setiap negara memiliki tanaman bambu sebagai tanaman asli. Rerumputan raksasa yang digunakan sebagai bahan konstruksi besar selalu mempersona banyak orang. Alat manual sederhana dari tradisi desa sering menjadi daya tarik yang lain.”

Sejak tahun 2007, Eko mulai membawa bambu sebagai instalasi seni ke panggung dunia. Sebelum ke Antwerpen, ada event Sonsbeek 2016 di Arnhem Belanda, sebelumnya di Holbaek Denmark, dan Singapore Biennale tahun 2013. Pada 2016, Eko diminta untuk membuat karya instalasi bambu “Tunggak Semi” di Iskandar Puteri Harbour, Johor Bahru, Malaysia, yang masih berdiri sampai 2018.

Bagi Eko, bambu bukan sekadar tanaman. Ada berbagai dimensi terkandung dalam bambu. Bambu yang tumbuh di tepi sungai melindungi tanah dari abrasi. “Bambu banyak sekali digunakan sebagai sebagai alat rumah tangga, alat musik, alat untuk membuat bubu atau penangkap ikan, transportasi rakit, sampai bangunan.”

Eko juga menengarai dimensi spiritual bambu. “Orang Jawa menyebut bambu sebagai deling. Budayawan Prof Damardjati Supadjar (alm.) menjelaskannya sebagai kependekan dari ‘kendel lan eling’, berani dan eling. Semangat bambu runcing juga berawal dari penghayatan ini. Dulu, bambu juga digunakan untuk memotong ari-ari ketika bayi dilahirkan dan kemudian, ketika manusia meninggal, dia diusung dengan keranda bambu juga. Manusia mengenal bambu dari awal kelahirannya sampai akhir kehidupannya.”

Namun bagi Eko (59), peribahasa fish cannot see the water, sangat tepat untuk mengungkapkan bahwa dibutuhkan jarak untuk melihat sesuatu secara lebih jelas.

“Dari kecil saya sudah mengenalnya, karena saya tumbuh dikelilingi bambu, sebagai pohon maupun peralatan rumah tangga seperti keranjang, sangkar burung, pagar, jembatan, dan lain-lain,”ujarnya. “Akan tetapi, penghargaan saya terhadap bambu baru tumbuh kira-kira 30 tahun lalu.”

Salah satu perjumpaan awal dengan bambu adalah ketika suatu hari, Romo YB Mangunwijaya memintanya untuk mengikuti seminar yang diselenggarakan Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Banyak ahli saat itu yang membuka wawasannya mengenai bambu.

Pada tahun terakhir pendidikan MA-nya di Berlage Institute Amsterdam, Eko menggunakan kesempatan itu untuk memperkenalkan bambu untuk proyek desain Permukiman untuk Kelompok Miskin Kota. Saat itu bambu masih diidentikkan dengan bahan bangunan untuk perumahan orang miskin dan selalu dikaitan dengan kehidupan desa. Itu sebabnya bambu kerap disebut sebagai ‘kayu bagi orang miskin’.

Sebagai arsitek, Eko baru menyadari bahwa dia jatuh cinta pada bambu saat bertemu dengan Linda Garland di Ubud, Bali dalam suatu lokakarya mengenai konstruksi dan perawatan bamboo. Eko mengunjungi vila bamboo Linda yang indah dan belajar dari pemiliknya mengenai pentingnya bambu untuk masa depan dan melihat passion-nya pada bambu.

Passion itulah yang diserap Eko dari Linda, apalagi kemudian dia begitu intens terlibat dalam berbagai karya seni instalasi dengan bambu. Begitu cintanya dengan bambu, sampai suatu hari Eko bahkan mencatat dialognya dengan bambu yang menjaga semangat kebersamaan.

It is raining heavily outside

The wind blows fiercely and change directions

The bamboo trees swing and bowing

againand again

I am asking what are you doing?

Are you proofing your agility and strength?

The rain stops and the bamboo look at me

Say calmly

No, if you are part of the nature

Then you don’t need to proof anything

Not the agility not the strength

Just be part of the nature

And...

I agree...

Oleh Maria Hartiningsih