BLUSUKAN BUKU DI ANSPACH

13 December 2017
BLUSUKAN BUKU DI ANSPACH


 JIKA MENYUSURI jalanan bebatuan di area Grand Place dan sekitarnya, pikiran melamun seakan Fernando Pessoa atau Walter Benjamin, merenungi pintu-pintu tua, jendela-jendela apartemen yang menjanjikan sebuah dunia tua, sejarah yang mengendap dalam batu-batu jalanan. Pada saat yang sama, lamunan mungkin terganggu oleh begitu banyak turis dan toko-toko suvenir murahan di kanan kiri. Blusukan demikian agaknya lazim bagi pengarang Eropa. Penyair Rimbaud menyatakan adanya kaum flaneur, para tukang jalan-jalan tanpa tujuan menggauli sudut-sudut keramaian kota. Walter Benjamin meneruskan istilah itu sebagai sebuah kegiatan budaya yang penting di kota-kota besar Eropa, sebuah pengalaman urban yang otentik. Jika diringkas, para budayawan Eropa itu mengukuhkan tradisi memasangkan pengalaman jalan-jalan dengan permenungan yang dituliskan --sebuah peradaban kata-kata. Dalam peradaban berwatak kata ini, wajar jika buku jadi bagian denyut penting keseharian masyarakatnya.

Blusukan kota yang biasa saya lakukan adalah mencari toko-toko buku loak, dan toko-toko buku “biasa” yang menjual buku-buku baru. Berhubung saya cuma bisa berbahasa Indonesia, Inggris, dan sedikit Sunda, tentu saja saya tak bisa membaca buku-buku yang didominasi bahasa Belanda dan Prancis di Brussels. Untungnya, saya menguasai “bahasa komik” dan sebagai ibu kota komik dunia di Eropa (di Asia, Tokyo), Brussels berlimpah oleh toko komik. Di samping, banyak toko buku umum di sana juga punya rak komik yang banyak.