Atom Jardin untuk Toleransi

13 December 2017
Atom Jardin untuk Toleransi


Bengkel kreatif mungkin merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan Atom Jardin: Sebuah toko kerajinan tangan dari barang bekas, yang secara bersama-sama dikelola oleh Stopie dan pacarnya, Jardin.

Nama Atom Jardin sendiri tercetus di tengah kegundahan Stopie. Kala itu, Stopie masih syok akibat dikejar-kejar sekelompok anggota sekte yang merasa terhina karena dia katakan sesat. Lalu, dengan begitu saja, jari-jarinya yang kelimpungan di atas meja membentuk kata Atom. Ditambah dengan nama kekasihnya, Jardin, jadilah toko mereka dinamai Atom Jardin.
Sampai di sini, jangan mengira bahwa Atom Jardin, buku komik karya Yudha Sandy, seniman dari Yogyakarta itu, berisi cerita cinta-cintaan. Sama sekali bukan! Jika pun ada, dia bicara cinta yang lebih agung, kepada sesama dan lingkungan.
Menurut komikusnya, Atom Jardin berarti taman bom atom. Sebuah bom yang radiasinya akan terus menyebar meskipun ledakannya sudah habis. “Seperti sebuah taman, atom jardin begitu damai, tenang dan memaklumkan segala hal. Akan tetapi, semua itu bisa jadi hanya sebuah ilusi,” ujarnya.
Ia juga menyandingkan atom jardin tak ubahnya sebuah art space atau ruang berkreasi. Meskipun terlihat sederhana, atom jardin di mata Yudha menghadirkan beragam konflik, baik vertikal maupun horizontal. “Ada konflik yang begitu sistematis, tanpa kita sadari. Tidak hanya tentang kita dan penguasa, tetapi tentang kita dan orang lain,” sambung dia. “Dan Atom Jardin menjadi saksi di mana banyak kekerasan terjadi. Kendati demikian, atom jardin juga yang menghubungkan banyak orang menjadi sahabat,” urainya.
Atom Jardin Go International
Yudha Sandy mulai merancang Atom Jardin sejak 2011 dan berhasil dipublikasikan pada 2013. Atom Jardin layak disebut sebagai masterpiece Yudha setelah mendapat penghargaan Kosasih Award 2015 untuk dua kategori sekaligus, yakni Best Comic dan Best Story.  Kini, Atom Jardin juga sudah go-international lewat Festival Europalia 2017 yang berpusat di Belgia.
Pengerjaan dalam kurun dua tahun, terbilang cukup lama untuk sejilid komik yang terdiri dari 116 frame. Namun perlu diketahui, keistimewaan buah tangan pemuda kelahiran 1 Oktober 1982 itu adalah teknik penggambarannya. “Untuk mendapatkan kesan lebih gelap dan tajam, dia memanfaatkan teknik paper cutting dan memakai kertas fancy, jenis florida warna hitam dengan gramasi minimal 160 gram per square meter (gsm).
Jenis kertas fancy florida yang bertekstur sederhana, seperti dikutip dari Margono Paper, ternyata memang cocok dipergunakan untuk berbagai jenis hasil akhir cetakan, seperti hotfoil, emboss, die cut, maupun mencetak foto dan ilustrasi. Dari segi kualitas pun terbilang paling baik untuk diaplikasikan teknik kreasi paper cutting.
Total ada 32 lembar master Atom Jardin yang dipamerkan di Muntpunt. “Cuma segitu yang dipajang karena pertimbangan manajemen artistik saja,” jelas Yudha. Jika pengunjung tertarik untuk mengetahui kisah lengkap Stopie dan kawan-kawan dalam Atom Jardin, mereka bisa mengambil komiknya, gratis di tempat pameran.
Sementara itu, paper cutting Atom Jardin karya Yudha dipamerkan dalam bentuk mural di Cultuurcentrum (CC) Strombeek. Selama di Indonesia, Atom Jardin pernah melangsungkan pameran tunggal di Perpustakaan C20, Surabaya dengan tema Design It Yourself 2011 dan empat kali pameran di Yogyakarta.
Sewaktu pameran di Surabaya, karakter Tapir muncul dalam comic strip Atom Jardin. Dia menjadi satu-satunya hewan yang mendapatkan peran. Di sisi lain, penokohan Tapir diambil sebagai refleksi akronim dari tanpa pikiran. Meski begitu, sosok ini lenyap begitu saja seiring proses pembuatan.
“Saat tokoh Tapir itu diperkenalkan di Surabaya, Atom Jardin belum rampung, Jadi itu baru cerita dan instalasi. Tapi enggak masalah, saya memang suka mengubah-ubah cerita dari gambar yang sama,” tuturnya.
Relevansi
Satu kata dari sang komikus untuk Atom Jardin: keren! “Cerita Atom Jardin, itu fiksi, tetapi kontemporer (kekinian) dan relevan dengan situasi di mana pun saat ini,” ucapnya.
Atom Jardin singkatnya menceritakan lika-liku perjalanan hidup Stopie yang berpusat di bengkel kreatifnya. Lama tinggal bersama Jardin, ia tak menyangka akan dikhianati di rumahnya sendiri. Hidupnya semakin berwarna lewat kehadiraan Vix, yang mengenalkannya pada suatu sekte. Perjumpaan dengan sekte sesat itu menginspirasi Stopie untuk berbuat lebih. Kreasinya melebar ke layar kaca.
Tak lama, gara-gara film, keberadaan Stopie terendus oleh kelompok sekte. Mereka tersinggung atas pencerminan karakter dalam film garapan Stopie. Atom Jardin pun diamuk massa. Toko yang dibangunnya dari nol, hancur, rata dengan tanah. Selain dari kelompok sekte tadi, tekanan lain datang dari aparat.
Atom Jardin tidak terpaku pada sosok Stopie. Ketika Atom Jardin hancur dan para pekerjanya kocar-kacir, kehidupan mereka juga diceritakan secara terpisah. Ada Vix, Holo, Zebbia, Kruw dan Si Sultan. Setiap orang dengan suka-dukanya masing-masing. Hingga mereka kembali ke Atom Jardin dan membangunnya lagi. Kali ini, dibangun bersama-sama.
“Ya, seperti itulah Atom Jardin. Lengkap dengan kisah persahabatan yang diuji oleh perubahan sosial. Cerita tentang art space independent, kekerasan, ancaman, dan teror,” katanya. Nilai-nilai yang diyakini Yudha bersifat universal dan relevan ketika di bawa ke negara mana pun, termasuk dihadirkan ke hadapan khalayak Eropa.
“Relevansinya buat semua orang yang berpikiran terbuka dan toleransi. Bukan hanya untuk Eropa,” tekannya.

Yudha berpesan melalui komiknya, seburuk apa pun keadaan di luar sana, persahabatan tetap harus kuat. Sebab sekelompok orang yang bertindak dengan ketulusan, akan lebih baik dibandingkan kelompok lain yang berlagak layaknya pahlawan.

Oleh Silviana Dharma