Al Suwardi, Petualang Bunyi yang Tiada Henti

22 December 2017
Al Suwardi, Petualang Bunyi yang Tiada Henti


 ALOYSIUS Suwardi seperti berpijak di dua dunia. Ia dikenal sebagai seniman musik dengan landasan musik tradisi Jawa yang kuat, namun sekaligus – dan secara konsisten -- menggulati musik eksperimental. Setidaknya sejak 1983, berarti 34 tahun lebih, ia melakukan “utak-atik” terhadap instrumen-instrumen musik. Awalnya sebatas instrumen gamelan yang dia akrabi.

Di kalangan musisi tradisi Jawa, khususnya di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, di Solo, ia mungkin satu-satunya yang punya “kenekatan” bertualang di luar wilayah musik karawitan yang mapan. Ia niscaya termasuk seniman Jawa yang nyebal (menyimpang) dari pakem alias konvensi. Atau, dalam bahasa sekarang, “berani keluar dari zona nyaman”.

Tetapi, seniman dengan etos kerja yang tekun dan disiplin ini sehari-hari bernampilan amat bersahaja dan santun. Jauh dari kesan seorang akademis yang “liar”. Al Suwardi, yang di kalangan dekatnya sering dipanggil “A-el” (singkatan dari Aloysius) ini sering tampil dengan topi model baretta untuk menutupi rambutnya yang panjang dikuncir ke belakang punggung.

Sebenarnya, di manakah hati Suwardi bercondong?

“Sampai sekarang ini waktu saya lebih banyak saya berikan kepada musik tradisi (Jawa). Buktinya. sebagian besar waktu saya habis untuk mengajar di kampus (ISI Surakarta), di jurusan karawitan,” ungkapnya saat ditemui di kampusnya, suatu sore medio Desember 2017.

Reputasinya sebagai pengrawit, juga komposer dalam karawitan Jawa tak terhitung lagi, baik di tingkat nasional maupun dalam berbagai festival di luar negeri, sejak 1970-an. Sebagai contoh, pada ajang Oriental Music Festival di Durham, Inggris (1979 dan 1981). Lantas di Island to Island di London (1990). Di dalam negeri, ia tak pernah absen terlibat pada pentas-pentas kolosal yang menggarap musik karawitan untuk berbagai acara peringatan tahunan, semisal Hari Kebangkitan Nasional.

Namanya terukir sebagai salah satu penampil berbakat dalam Pekan Komponis Muda yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, 1982 – 1988. Sejumlah ajang musik internasional pun pernah dia ikuti, antara lain, Music Festival of Samarkand (1997), ASEAN Componist Forum, Thailand (1999), Art Summit Indonesia di Jakarta (2001).

“Sampai hari ini saya masih menyempatkan ikut bermain dalam acara rutin Klenengan Pujangga Laras sebulan sekali,” imbuhnya untuk menggambarkan kecintaannya pada karawitan. Suwardi selama ini dikenal andal sebagai pengrawit untuk instrumen gender, rebab, gambang dan seruling.

Sosok panutan    

Setelah berpuluh tahun secara total mendedikasikan hidupnya pada dunia musik – lebih spesifik musik tradisi Jawa, dan di saat yang sama juga melakukan inovasi dan eksplorasi bukan hanya pada konsep garap melainkan juga eksperimen-eksperimen untuk melahirkan instrumen musik baru, Al Suwardi, 66 tahun, akhirnya meraih gelar doktor bidang etnomusikologi dari ISI Surakarta pada 16 Juli 2016. Itu sekaligus pembuktian bahwa almamaternya (ISI Solo) memberikan ruang dan penghargaan tinggi terhadap “petualang bunyi” yang tak kenal henti ini.

Ia lahir dalam haribaan budaya Jawa yang amat mendukung. Ayahnya, Citrosukarno, meski sehari-hari adalah petani di Polokarto, Sukoharjo – sekitar 18 km tenggara Kota Solo, namun juga seorang dalang wayang kulit. Dalam keseharian, Suwardi – putra kedua dari delapan bersaudara – sejak kecil amat akrab dengan karawitan Jawa yang hakikatnya tak terpisah dari pergelaran wayang.

“Bapak saya dahulu belajar mendalang di Keraton Surakarta. Pengetahuannya mendalang cenderung bersifat pakem. Tetapi, bagi Bapak, tujuan mendalang itu guna lebih menyelami kawruh (ilmu pengetahuan) budaya daripada untuk dijadikan penggaotan (cari uang),” tuturnya.

Rupanya, sosok ayahnya menjadi refleksi kuat bagi Suwardi dalam menjalani kariernya sebagai seniman musik. Sedangkan dari ibunya, ia mewarisi sikap tekun serta disiplin dalam berkarya. Ibunya menekankan agar hidup dijalani dengan perjuangan keras. “Sejak saya kecil, Ibu mengajarkan, bila tidak mau membantu bekerja, saya tidak akan diberi makan,” katanya.

Gabungan sikap hidup kedua orangtuanya itulah yang agaknya membentuk etos kesenimanannya yang mandiri. Salah satunya terbukti, dalam proses pengerjaan instrumen-instrumen Gamelan Planet Harmonik ia terlibat sejak perancangan hingga pengerjaan fisiknya. Untung, ia mendapat dukungan dari mahasiswa dan pengajar untuk merealisasi impiannya.

Dari mana dana untuk membuat seluruh instrumen gamelan itu? “Semua, ya, dari uang pribadi saya,” ungkapnya. Ia sadar, musik eksperimental seperti yang dia buat sulit meyakinkan pihak-pihak terkait. Ia juga mengaku, enggan mengajukan anggaran proyek ke pemerintah mengingat, baik proses administrasi maupun pertanggungjawabannya, dinilai amat ribet.

Di balik penampilannya yang bersahaja, tersimpan kemauan kuat untuk maju. Ketika ia diminta untuk mengajar mata kuliah tentang akustik musik, padahal dia mengaku tak punya pengetahuan secara teori sedikit pun, namun ia mau belajar. Semua buku tentang akustik dia lalap. Begitu pun saat ia diminta mengajar tentang estetika karawitan, satu mata kuliah baru di almamaternya, ia tak segan untuk mempelajarinya dari nol.

Di ISI Surakarta, kini ia mengajar mata kuliah komposisi, organologi, studio musik dan etnomusikologi. Meraih gelar MA (Master of Arts) di bidang etnomusikologi dari Universitas Wesleyan (AS), 1977, Suwardi pun pernah menjadi dosen tamu di Oberlin College (AS), 1985 – 1987, dan mendapat Post Graduate Scholarship dari Universitas Monash (Australia), 2001 - 2004.

Transformasi tradisi

Setelah lulus dari Sekolah Konservatori Karawitan (1969) di Solo, Suwardi melanjutkan ke Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta (1973). Di samping memperdalam pengetahuannya tentang seni karawitan, di lingkungan akademi yang berkampus di Sasonomulyo – situs ndalem yang berdekatan dengan Keraton Surakarta ini, ia seperti mendapat gemblengan yang intensif, inspiratif serta membuka wawasan baru.

Di sinilah ia bertemu dengan Gendon S Humardani (1922-1983), Direktur ASKI yang progresif, yang di kemudian hari banyak mendorong terbukanya paradigma masyarakat terhadap kebudayaan lama di Solo dan Jawa Tengah umumnya. Berkat peran Gendon pula, kesenian tradisi Jawa seperti mendapat spirit sekaligus martabat baru.

Berbagai bentuk kesenian tradisi lalu mengalami transformasi. Seni tradisi Jawa tidak lagi terkungkung dan tersekat oleh pandangan yang semula inferior. Perguruan yang membuka jurusan seni karawitan, tari dan pedalangan ini seakan berubah menjadi “laboratorium” yang memungkinkan kesenian tradisi berkembang, dan menjelajahi wilayah-wilayah baru. Termasuk menyerap nilai-nilai budaya lain, baik dari budaya tradisi di Nusantara maupun budaya modern.

Dalam belanga yang dinamis dan kondusif seperti itulah talenta Suwardi seperti menemukan spirit untuk melakukan penjelajahan serta pengembangan seni karawitan Jawa, lebih umumnya musik Nusantara. Di kampus ASKI Solo saat itu, setiap mahasiswa jurusan karawitan Jawa, wajib mengikuti mata kuliah musik-musik tradisi Nusantara lain, seperti karawitan Bali, Sunda, Cirebon, dan sebagainya.

“Mula-mula, ketika ikut menabuh gamelan Bali, bunyinya terdengar pating gedhombrang. Menabuhnya terkesan serba keras. Tetapi, lama-kelamaan, setelah memahami laras gamelan Bali, akhirnya, saya bisa menikmati asyiknya memainkan gamelan Bali. Begitu pun pada karawitan Sunda, atau karawitan Topeng Cirebon,” tuturnya.

Dalam mengapresiasi musik maupun bunyi, Suwardi mengibaratkan dirinya berwatak nggragas (tak pilih-pilih) serta ngglidhis (usil). Inilah prinsip yang menumbuhkan kreativitasnya untuk melakukan berbagai eksplorasi terhadap garap musik maupun penciptaan instrumen baru. Untuk instrumen, ia menggunakan berbagai media seperti dari bahan metal, kayu, bambu, air, pipa selang hingga memanfaatkan barang bekas.

Sekalipun hidup dalam seni tradisi, namun ia merdeka untuk mengubah instrumen lama maupun membuat yang sama sekali baru. Dia katakan, suatu bentuk kreativitas atau kebaruan tidak lepas dari yang sudah ada sebelumnya. “Sesuatu itu ada karena dibuat oleh orang, dan tentu ada maksud serta tujuannya,” kata Suwardi yang mengaku dirinya selalu tak pernah puas.

Lantas, ia pun mengutip ujaran tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara bahwa hakikat “kreatif” itu adalah niroake nanging uga ngowahi. “Meniru tetapi jangan segan-segan mengubah.  Karena itu, kita harus berani membuat perubahan sesuai kebutuhan kekinian, sedang yang telah ada ini pun akan mengalami perubahan dan perkembangan,” ujar Suwardi yang dalam berkreasi berpegang pada filosofi learning by doing alias belajar sambil menjalani.

Menghadapi setiap hal baru, kreativitas baru, Suwardi menganalogikan seperti ketika seseorang berhadapan dengan budaya-budaya lain. Begitu pun terhadap musik kontemporer atau musik eksperimental, seperti Gamelan Planet Harmonik yang direncanakan tampil di ajang pentas dunia, Europalia, pada awal Januari 2018 mendatang. Tepatnya, ia bersama ke-17 personel Gamelan Planet Harmonik akan pentas pertunjukan di Kota Brussels dan London.

(Ardus M Sawega)