ATOM JARDIN DI DINDING STROMBEEK

13 December 2017
ATOM JARDIN DI DINDING STROMBEEK


Pada 12 Oktober 2017, program pertama dalam rangkaian program komik Indonesia di Europalia 2017-2018 dibuka. Yudha Sandy meluaskan semesta cerita Atom Jardin, novel grafisnya yang meraih penghargaan komik terbaik Kosasih Award 2015, di dinding Cultuurcentrum Strombeek. Ia mengembangkan adegan dan karakter-karakter rekaannya dalam komik itu jadi imaji-imaji yang menempel di salah satu dinding Strombeek hingga 13 Desember 2017.

CC Strombeek, begitu panggilan warga seni di Brussels pada tempat tersebut. Lokasinya di Esplanade, dekat pelabuhan, terhitung agak di luar Brussels. Ini sebuah pusat kebudayaan yang hidup, dan beberapa tahun ini sedang naik reputasinya di kalangan penggemar senirupa kontemporer Brussels. Kurator museum, Luk Lambrecht, sangat antusias begitu melihat karya asli Yudha untuk Atom Jardin pada Maret 2017 lalu.

Tentu saja Luk tertarik: Yudha menggunakan teknik paper cut untuk menyusun imaji-imaji dalam novel grafisnya itu. Hasil akhirnya, tampak seperti gambar-gambar hasil cukil kayu. Walau hanya berkutat dengan kertas hitam di atas bidang putih, imaji-imaji dunia Atom Jardin tampak jelas dan mudah dikenali. Apalagi, Yudha menyusun ceritanya juga dengan jalinan prosa yang sahaja tapi jitu.

Sewaktu berjumpa dengan Luk pada Maret itu, Yudha menerangkan bahwa novel grafisnya bercerita tentang persahabatan di sebuah dunia fantasi yang guncang secara politik. Sebetulnya, kita juga bisa membaca novel grafis itu sebagai sebuah catatan yang intim, atau "dari dalam", dunia anak muda urban di Indonesia masa kini. Dunia yang berporos pada semangat indie untuk mencipta: membuat film, musik, dan menjalani hidup secara DIY (Do-It-Yourself, sebuah etos yang terilhami semangat Punk) .

Dengan kata lain, inilah novel grafis yang menyuarakan jiwa anak-anak muda urban di Indonesia, sekeping Indonesia terkini. Suara itu belum terlalu terdengar di malam pembukaan, karena sorotan sementara ini adalah kekaguman pada teknik rupa Yudha yang memang luar biasa.

Untuk membagi teknik itu, Yudha telah memberi dua workshop untuk anak sekolah di CC Strombeek. Plus, satu workshop untuk mahasiswa-mahasiswa seni rupa di Brussels di Dinasty, salah satu pusat kegiatan Europalia di pusat kota Brussels. Kegiatan di Dinasty diselenggarakan oleh Bakulkultur, komunitas para perempuan Indonesia di Brussels. Tapi, perlu lebih dari workshop untuk mengenalkan gagasan dan suara generasional dalam karya Yudha.

Malam pembukaan yang dibuka oleh Hendrik Dehandschutter, direktur CC Strombeek, adalah untuk pameran Yudha dan Elizabeth Ida, yang bertajuk Saksi Bisu (Silent Witness) Let Me Take You to a Tropical Paradise, yang mengulik memori sejarah kita yang dipendam oleh rezim Orba. Ada juga tampilan tari yang sangat intens oleh penari dan koreografer, Moh Hariyanto. Koreografi hasil kerjasama dengan Darlane Litaay, mendapat sambutan hangat dari penonton malam itu.

Karya Yudha juga dipamerkan di perpustakaan Muntpunt dari 26 Oktober s/d 24 November 2017, bersama komik Prihatmoko Moki. Di Muntpunt, pembukaan akan menyertakan pula diskusi. Itu kesempatan agar suara generasional dalam komik Yudha dipercakapkan di hadapan publik. ***