Rithaony Hutajulu: Pemerintah Harus Lebih Berperan Dalam Melestarikan Musik Tradisional

13 December 2017
Rithaony Hutajulu: Pemerintah Harus Lebih Berperan Dalam Melestarikan Musik Tradisional


 Rithaony Hutajulu: Pemerintah Harus Lebih Berperan Dalam Melestarikan Musik Tradisional

 
Teks: Rina Sitorus
Foto: Rina Sitorus
Words: 880
 
Menarik untuk diamati bahwa musik tradisional Indonesia yang sangat dihargai dan dikenal luas di luar negeri malah semakin terpinggirkan di negara sendiri. Di zaman ketika informasi semakin mudah didapat dan batas-batas fisik negara sudah hampir tak terlihat, masyarakat Indonesia, terutama generasi mudanya kehilangan minat untuk melestarikan tradisi. Diperlukan campur tangan serius pemerintah untuk menangani hal tersebut. “Memang anak muda zaman sekarang lebih tertarik semua-semua yang baru. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi jangan lupa akarnya,” demikian Rithaony Hutajulu membuka percakapan.
 
Ditemui sebelum konser kelompok Mataniari dalam festival Europalia 2017 di Den Haag, Rithaony, pendiri dan penyanyi utama grup tersebut meneruskan, “Generasi muda sekarang, pinginnya mengkreasikan segala sesuatu jadi hal baru. Itu sah-sah saja, tapi pelajari dulu akarnya. Karena jika kita tidak belajar akar budaya dengan benar, karya kita juga jadi tidak kemana-mana, karena esensinya gak dapat.“  
 
Rithaony tidak sekadar bicara karena dosen di Departemen Etnomusikologi Universitas Sumatra Utara yang bergelar master di bidang etnomusikologi dari University of Washington, Amerika Serikat ini tidak hanya mempelajari teori, tapi juga praktek. Selama studinya dia juga mempelajari permainan para musisi world music seperti Nusrat Fateh (pemusik sufi Pakistan), Dariush Tala (pemusik Iran), Sujath Khan (pemain sitar India), dan Sam-ang Sam (pemusik Kamboja).
 
Rithaony dan suaminya Irwansyah Harahap mungkin lebih dikenal sebagai duo dari Suarasama yang membawakan world music. Suarasama menciptakan musik baru dengan menggabungkan tradisi-tradisi musik dunia. Mereka sudah menghasilkan empat rekaman yang dirilis oleh Smithsonian Institute USA dan label legendaris Chicago Drag City, yaitu: Timeline (2013), Lebah (2008), Rites of Passage (2002), dan Fajar di Atas Awan (1998). 
 
“Selain memainkan instrumen, kami juga mewajibkan anggota grup mengajar roots, khususnya Sumatra Utara,“ ujar Rithaony. “Oleh karena itu, agak berbeda dengan Suarasama, saya dan Irwan membentuk Mataniari dengan tujuan memperkenalkan dan melestarikan musik Batak Toba, dalam hal ini gondang, yang sesuai dengan tradisi.” 
 
Rithaony  menjelaskan keunikan Mataniari, “Kita di Mataniari selalu melibatkan maestro, kali ini Raja Seruling Masius Sitohang. Beliau ini generasi kedua musisi tradisi Batak yang masih ada. Kelompok Mataniari ini menanamkan regenerasi. Jadi ada tiga generasi, yaitu Masius, kami, dan mahasiswa kami yang muda-muda. Jadi harusnya memang begini supaya tradisi bisa dipertahankan.”
 
Menurutnya, ada dua hal penting yang harus dilakukan agar musik tradisional tidak mati. Hal pertama melalui pendidikan musik yang benar. “Kita kan belajar di sekolah. Nah, ini saja tidak diajarkan dengan benar di sekolah. Misalnya, anak-anak di sekolah itu belajar memainkan recorder, tapi lagunya lagu Indonesia. Itu jadinya gak ke mana-mana. Anak-anak jadi tidak belajar tradisi Indonesia, tapi di sisi lain pengetahuan soal musik baratnya juga nanggung.” 
 
Walaupun anak-anak muda yang diajarkan belum tentu menggemari kesenian itu, paling tidak mereka punya pengetahuan tentang musik tradisionalnya. Jika dibandingkan dengan Eropa, orang-orang Eropa tahu akar budaya musiknya, seperti misalnya musik abad pertengahan, renaissance, dan sejenisnya.
 
“Di Eropa anak-anak muda memainkan bagpipe tapi dengan gaya baru, jadi ada kontinuitas dalam bermusik, terutama dalam musik tradisional ini. Buat Indonesia kayaknya tradisi cuma jadi display aja.”
 
Rithaony menyebut soal stigma yang melekat di musik tradisional. Orang cenderung alergi untuk mengenal lebih jauh karena anggapan musik tradisional ‘gitu-gitu aja’. “Tapi ketika saya tanya gondang Batak yang mana yang gitu-gitu aja? Yang mana yang sudah kamu dengar? Dijawabnya, hmm tidak tahu juga sih yang mana. Jadi gitu, belum-belum sudah memberi label jelek,“ kata Rithaony sambil tertawa.
 
Hal kedua yang tidak kalah pentingnya adalah peran media. Sekarang ini berita-berita yang muncul di media hampir sepenuhnya tentang musik pop. “Kita tidak benci  musik pop, sama sekali tidak. Tapi jangan diharapkan musik tradisional ini bisa bersaing dengan musik pop. Di barat juga musik klasik tidak bisa bersaing dengan musik pop. Makanya jangan cepat-cepat menyalahkan anak muda kalau mereka tidak tertarik. Itu bisa juga dikarenakan mereka memang tidak mendapat arahan atau informasi yang dibutuhkan.” 
 
Rithaony  menambahkan, “Kadang medianya sendiri juga salah. Waktu kapan hari ada ribut-ribut soal gondang sambilan yang katanya diakui sama Malaysia. Saya tanya teman wartawan, kalian tahu tidak yang mana yang gondang sambilan? Yang dimunculkan itu Toba lho. Mereka cuma jawab, oh ya salah ya, wah kami gak tahu.” 
 
Seperti di dunia barat, pemerintah, masyarakat, musisi dan media seharusnya menjadi satu gerakan budaya untuk melestarikan musik tradisional. Rithaony memberi contoh gamelan yang dikagumi dan dikenal di seluruh dunia. Hampir semua sekolah internasional di luar negeri memiliki gamelan, tapi tidak demikian dengan sekolah-sekolah di Indonesia. Contoh lain lagi, pemusik klasik di Eropa malah dipandang lebih tinggi statusnya ketimbang pemusik pop, sangat bertolak belakang dengan di Indonesia.
 
Pemerintah Eropa punya strategi dan kebijakan yang jelas dan tegas dalam melestarikan musik tradisional. Misalnya, dengan membuat kebijakan pajak dari pertunjukan musik pop digunakan untuk menyantuni musik tradisional. Selain itu pemerintah juga memberi subsidi untuk musik klasik. Jadi musik klasik tetap terpelihara dan dijadikan sebagai pendidikan.
 
“Sebenarnya pemerintah Indonesia juga sudah lumayan berperan. Seperti ketika kemendikbud mengundang Siero Chamber Orchestra (OCAS) dari Spanyol untuk keliling Indonesia bulan Juli lalu. Jadi kita kerja sama. Ada komposisi Irwansyah buat khususnya gondang, ada orkestranya, lalu mereka buat lagi lebih kaya dan dielaborasi jadi opera.” Pertunjukan digelar di sejumlah kota dan desa di Sumatra Utara. Sebagai bagian dari diplomasi budaya, seusai Europalia, Mataniari akan lanjut ke Madrid, Spanyol, atas undangan OCAS untuk menggelar konser di sana. “Mungkin sudah waktunya pemerintah Indonesia yang bikin festival besar-besaran dan mengundang banyak negara, jangan hanya diundang saja,” demikian Rithaony Hutajulu menutup percakapan.